post image
Yang perlu kita lakukan adalah bertawakal dan bersabar. Ingatlah selalu rahmat Allah tercurah bagi setiap hamba-Nya tanpa terkecuali/ Net
KOMENTAR

GERAM rasa hati menyaksikan teman kuliah dulu telah berhasil merampungkan S2, lalu S3, dan menjadi dosen di universitas ternama. Harusnya aku bisa lebih hebat dari dia, tanpa sadar hati kita membatin.

Lalu kita pun mulai membanding-bandingkan. Kita dulu selalu mendapat nilai lebih baik darinya. Kita dulu lebih aktif berorganisasi dan punya lebih banyak teman darinya. Maka kita saat ini seharusnya punya karir yang lebih cemerlang dari teman kita itu.

Astaghfirullah... tanpa sadar hasad alias iri hati atau dengki menyeruak di relung hati kita. Hasad bisa datang disebabkan karena kesombongan, permusuhan, kebencian, juga kecintaan yang teramat besar kepada hal-hal duniawi.

Dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyyah, jumhur ulama menyatakan bahwa hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah yang ada pada diri orang lain. Nikmat tersebut bisa dalam beragam bentuk. Baik itu nikmat harta, ilmu, kedudukan, kecerdasan, atau kelebihan lainnya. Serupa dengan definisi tersebut, Syaikh Musthafa Al-'Adawi mengatakan hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.

Ustaz M. Abduh Tuasikal menjelaskan ada 6 tingkatan hasad:

1) Hasad dengan nikmat orang lain, berharap orang itu kehilangan nikmat meski tidak berpindah kepadanya.

2) Hasad dengan nikmat orang lain dan berharap nikmat itu berpindah kepadanya.

3) Tidak ada maksud apa pun terhadap nikmat orang lain tapi ingin orang tersebut miskin dan bodoh.

4) Ingin orang lain sama kedudukannya dengannya. Jika orang lain memiliki nikmat lebih, barulah ia ingin nikmat itu hilang agar tetap sama dengannya.

5) Ingin punya nikmat yang sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang tersebut hilang.
Hasad alias iri hati sangat berbahaya.

Iri hati berbahaya karena membuat hidup kita tidak tenang. Sekali pun kita sudah bekerja keras dan menjalankan kehidupan ini sebaik-baiknya, tetap saja pikiran terasa kalut ketika kita selalu iri melihat keadaan orang lain. Kita dihantui perasaan takut dihina dan dikalahkan. Dan kita tidak bisa tenang karena merasa hidup ini adalah persaingan yang berlangsung seumur hidup.

Yang perlu kita lakukan adalah bertawakal dan bersabar. Ingatlah selalu rahmat Allah tercurah bagi setiap hamba-Nya tanpa terkecuali.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. menyampaikan, "Tidak boleh hasad (ghibthah) kecuali pada dua orang; orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia menginfakkannya di jalan kebaikan dan orang yang Allah karuniakan ilmu (Alquran dan As-Sunnah) lalu ia menunaikan dan mengajarkannya kepada yang lain." (H. R. Bukhari & Muslim)

Sedangkan jika ada orang iri melihat nikmat yang diberikan Allah kepada kita, janganlah kita lupa untuk selalu meminta perlindungan Allah Swt. dari buruk sangka dan perilaku mereka yang zalim.

Kita juga hendaknya menjadi lebih rendah hati untuk tidak memamerkan atau menceritakan semua nikmat yang kita dapatkan kepada orang lain.

Tidak semua orang akan bahagia mendengar kebahagiaan kita, ada pula yang tidak peduli bahkan iri. Terlebih di masa pandemi sekarang ini, ada lebih banyak orang yang merasakan kesulitan hingga sulit berpikir jernih melihat keadaan orang lain yang lebih sejahtera.

Semoga kita terlindung dari bahaya hasad.

 

Close X

Filosofi Ikhlas, Bak Jantung Dan Matahari

Sebelumnya

Insya Allah Jannah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam