post image
Gaya hidup minimalis belakangan jadi tren tersendiri di dunia/Net
KOMENTAR

GAYA hidup minimalis merupakan salah satu tren yang berkembang sejak beberapa tahun terakhir, utamanya dipelopori oleh orang-orang Jepang. Bukan tanpa alasan, hal itu mengakar pada pola hidup banyak masyarakat Jepang dan bahkan buku-buku yang mempromosikan gaya hidup minimalis yang laris di dunia pun banyak berasal dari negeri Sakura.

Sebut saja Fumio Sasaki dalam bukunya "Goodbye Things" dan Marie Kondo dalam bukunya "The Life-Changing Magic of Tidying Up".

Namun sebenarnya, jika mau melihat lebih dalam lagi, pola hidup minimalis memiliki akar yang kuat dalam nilai-nilai Islam.

Begitu kata pendakwah Habib Husein Ja'far Al-Hadar dalam akun YouTube nya Jeda Nulis beberapa waktu lalu.

"Buku Fumio Sasaki menjelaskan tentang konsep hidup minimalis yang pada intinya menyebut bahwa memiliki barang dalam jumlah sedikit mengandung suka cita tersendiri. Itulah mengapa sudah saatnya kita berpisah dengan banyak barang yang kita puyai," ujarnya.

Mengapa demikian? Habib Ja'far menjelaskan bahwa banyak orang sering merasa bahwa mereka harus memiliki banyak barang agar mereka bahagia dan mudah dalam melakukan segala sesuatu.

Padahal, pada kenyataannya orang seringkali bukan memiliki banyak barang, melainkan memiliki satu barang dengan jumlah yang sama. Inilah yang disebut dengan maksimalis, atau kebalikan dari minimalis.

Dia menjelaskan bahwa Islam telah mengajarkan agar tidak hidup berlebihan.

"Islam mengajarkan bahwa makan dan minumlah, tapi secara umum juga konsumsilah, apapun tapi jangan berlebihan," terang Habib Ja'far. 

Dengan demikian, Islam mengajarkan umatnya untuk mengkonsumsi apa yang mereka butuhkan, dan tidak berlebihan.

"Sedangkan berlebihan dalam ajaran Islam, disebut dengan mubadzir. Dan orang mubadzir dikatakan oleh Nabi bahwa dia adalah saudaranya syaitan," jelasnya.

"Ini untuk menunjukkan betapa buruknya pola hidup yang mubadzir. Pola hidup yang mubadzir inilah yang kemudian disebut oleh orang Jepang sebagai pola hidup yang maksimalis," sambungnya.

Dengan kata lain, gaya hidup minimalis adalah gaya hidup seorang muslim.

"Dengan gaya hidup minimalis, keislaman kita lebih diteguhkan karena bia menghindari gaya hidup syaitan yakni mubadzir dan ikuti perintah Allah untuk tidak berlebihan. Selain itu juga ada potensi untuk bersedekah barang-barang yang menumpuk di rumah," paparnya.

Dia menyinggung kembali buku Fumio Sasaski yang menyebut bahwa di antara minimalis sejati adalah Steve Job, Bunda Theresa dan Mahatma Gandhi.

"Namun saya sebagai seorang muslim ingin menambahkan nama Nabi Muhammad sebagai seorang minimalis sejati," kata Habib Ja'far.

Dia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad menerapkan pola hidup minimalis pada dirinya dan keluarganya, serta mengajarkan kepada umatnya.

"Pada dirinya sendiri, sebagaimana diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar ketika masuk ke rumah Nabi pernah menangis tersedu-sedu karena melihat begitu lengang dan sederhananya rumah Nabi. Tempat. tidurnya tidak terbuat dari permadani, tapi dari tikar biasa yang seolah tidak layak bagi seorang pemimpin Madinah saat itu sekaligus Nabi dari umat Islam," tutur Habib Ja'far.

Keeemudian, sambungnya, Sayyidina Umar bertanya, "Kenapa kau begitu sederhana?".

Nabi Menjawab, "Yang kita butuhkan di dunia hanya ini,".

"Bukankah itu pola pikir yang minimalis," kata Habib Ja'far. 

Pola hidup minimalis bukan hanya diterapkan oleh Nabi Muhammad tapi juga oleh keluarganya.

"Diriwayatkan ketika Nabi mau menikahkan putrinya. Pada saat itu pakaian yang dibawa oleh putrinya hanya satu, ditambah satu pakaian yang dipakainya serta beberapa hal lain yang sangat sederhana," ujar Habib Ja'far. 

"Dan ketika Sayyidina Abu Bakar melihatnya, dia berkata 'Wahai Nabi, aakah hanya yang akan akan dibawa oleh Fatimah'," sambungnya.

Nabi menjawab, "Bukankah hanya ini kebutuhan manusia di dunia ini?".

"Dari sini kita belajar. bahwa gaya hidup minimalis ini adalah sesuatu yang baik dan punya landasan dalam Islam dan diteladankan oleh Nabi," tutupnya.

Close X

Tiga Golongan yang Tak Dipandang Allah di Akhirat

Sebelumnya

Filosofi Ikhlas, Bak Jantung Dan Matahari

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam