post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PADA mulanya, Atikah binti Zaid menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Suami pertamanya itu mati syahid di Thaif. Lalu dirinya dinikahi lelaki mulia, Umar bin Khattab. Khalifah kedua itu mati syahid ditikam Abu Lu’luah, budak Persia.

Kemudian Atikah dinikahi oleh Zubair bin Awwam, salah satu sahabat utama Nabi, yang wafat dalam perang Jamal. Usianya telah tua tapi pesona Atikah tak kunjung pudar lalu giliran cucu Rasulullah, Husein bin Ali yang menikahinya. Dan Imam Husein pun mati syahid di Karbala.

Empat kali dinikahi oleh pria-pria agung membuat orang pantas bertanya, siapakah sosok Atikah binti Zaid? Dalam buku 70 Tokoh Wanita Dalam Kehidupan Rasulullah, Ahmad Khalil Jam’ah menerangkan, Atikah dikenal dengan keindahan bahasa, kefasihan, syairnya, dan kecerdasan akalnya. Atikah memiliki akhlak yang sangat bagus, kecantikan, gagasan besar, dan kecerdasan akal. Ibnu Katsir menyebutkan, “Ia adalah sebaik-baik wanita dan banyak melakukan ibadah.”

Dalam bait-bait syair gubahannya, Atikah memuji kelebihan semua almarhum suaminya. Kemudian muncul pertanyaan, kelak di akhirat nanti Atikah akan bersama siapa, mengingat semua suaminya itu lelaki berkualitas jempolan?

Dan kalau mau lebih dilebarkan, para wanita yang pernah menikah lebih dari satu kali juga bertanya-tanya, kelak di surga nanti bersama suami yang mana?    

Ulama berbeda pendapat, terbelah atas dua pandangan:

Pertama, perempuan itu akan bersama suami yang paling mulia akhlaknya. Pendapat ini berdasarkan hadis riwayat Anas bin Malik, bahwa Ummu Habibah (salah seorang istri Nabi) bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita memiliki dua suami saat di dunia, kemudian mereka semua meninggal dan berkumpul di surga, wanita tersebut akan menjadi milik siapa dari keduanya? (Suami) yang pertama atau yang terakhir?”

Rasulullah menjawab, “Untuk yang terbagus akhlaknya wahai Ummu Habibah, khusnul khuluq (akhlak yang bagus) membawa kebaikan dunia dan akhirat.”

Kedua, bersama dengan suami terakhir. Pendapat ini berdasar kepada hadis Nabi Muhammad yang bersabda, “Wanita mana pun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir." (Hadis riwayat Thabrani)

Sekilas dari kedua hadis di atas terjadi perbedaan pandangan ulama. Perbedaan pendapat itu wajar dan mari sama-sama kita lihat di akhirat nanti, pendapat manakah yang benar. Namun, apakah pertanyaan itu tidak dapat terjawab, kecuali di akhirat nanti?

Hanya saja, dalam urusan akhirat apalagi surga, kita tidak dapat berpegang pada dalil yang dhaif (lemah). Hendaknya kita berpegang kepada dalil yang terkuat, agar kedudukan di surga menjadi amat jelas.

Sejatinya, ada yang tidak diperdebatkan lagi kebenarannya, ada yang tidak perlu diragukan lagi, yaitu Al-Qur’an yang menjadi sumber utama ajaran Islam. Tidak ada lagi yang posisinya di atas dalil Al-Qur’an sebagai rujukan hukum.

Nah, Al-Qur’an telah memberikan gambaran jawaban dari pertanyaan ini, pada surat al-Fushilat ayat 31, yang artinya, “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.”

Ayat ini dengan tegas, tanpa kesamaran sama sekali, menerangkan dua hal yang menjadi hak para penghuni surga, yaitu:

Pertama, mendapatkan segala yang diinginkan. Kondisinya sangat enak, pokoknya cukup dengan punya keinginan, langsung terwujud, apapun itu. Bagaiman tidak enak, raja diraja pun tidak akan memperoleh hak sehebat ini di dunia. Hanya surga yang dapat memfasilitasinya.

Kedua, apapun yang diminta langsung dikabulkan. Ini tak kalah enak, minta apa saja tanpa syarat atau ketentuan berlaku, langsung dikabulkan. Pokoknya tinggal sebut langsung ada, apapun itu.

Ibnu Asyur membedakannya, yang diinginkan adalah hal-hal yang terhampar dalam kenyataan dan yang diminta adalah hal-hal yang terbetik dalam benak. Bisa juga yang pertama (yang diinginkan) dipahami dalam arti pengabulan keinginan hasrat jasmani dan tertuju kepada yang bersangkutan, sedang yang kedua (yang kamu minta) adalah permohonan apa pun, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, baik berkaitan dengan hasrat jasmani maupun ruhani. Dengan demikian, yang kedua lebih umum daripada yang pertama.

Terlepas dari perbedaan pendapat ulama dalam memahami hadis-hadis terkait, ayat ini telah menjadi gambaran amat terang sebagai jawabannya. Perempuan yang menjadi penghuni surga tinggal menginginkan atau meminta suami yang akan bersamanya, maka Tuhan akan mengabulkannya.

Entah itu pilihannya jatuh kepada suami pertama, disebabkan kuatnya kisah cinta pertama. Mungkin juga dengan suami terakhir dikarenakan kuatnya kenangan yang membekas. Dan bisa saja keinginan atau permintaan itu tertuju kepada suami yang terbaik akhlaknya.
    
Namun jangan pernah terlupakan bagian yang paling penting, pastikan dulu kita masuk surga sehingga dapat diketahui jawaban pastinya kelak akan bersama siapa. Apabila tidak berhasil menjadi penghuni surga, jawaban dari pertanyaan di atas menjadi kurang bermakna. (F)   

 

Close X

Takutlah Jika Hati Tak Gelisah Saat Bermaksiat

Sebelumnya

Melawan Hawa Nafsu, Berdamai dengan Diri Sendiri

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam