post image
Ada beberapa tindakan preventif yang bisa dilakukan keluarga, sekolah, dan masyarakat guna mencegah terjadinya kasus pelecehan seksual pada anak/ Net
KOMENTAR

PELUANG emas anak mengakses konten-konten pornografi, membuat tindak kekerasan seksual pada anak meningkat tajam. Biasanya, anak yang mengalami pelecehan seksual akan mengalami perubahan sikap, emosi, dan perilaku.

Pada anak usia kurang dari 7 tahun, biasanya dicirikan dengan kebingungan, takut, marah, sedih, dan cemas. Karena, anak belum memiliki kemampuan kosakata seksual yang baik. Bahkan bisa terjadi sleeper effect yang tidak disadari oleh orangtua.

Psikolog Intervensi Dini Segar Amanah Jakarta Retno Lelyani Dewi, mengatakan, "Perlu kewaspadaan yang maksimal terhadap kekerasan seksual pada anak. Apalagi kejahatan itu lebih sering terjadi di rumah secara berulang hingga bertahun-tahun lamanya", demikian Retno saat menjadi nara sumber di Seminar Online: Pembelajaran di Rumah dan Risiko Paparan Konten Pornografi, yang diselenggarakan Biro Psikologi Rumah Cinta, Minggu (9/8).

Dijabarkannya, ada beberapa tindakan preventif yang bisa dilakukan keluarga, sekolah, dan masyarakat guna mencegah terjadinya kasus pelecehan seksual pada anak.

KELUARGA

Di sini, baik ayah maupun bunda belum meningkatkan komunikasi dan harus menjalin kedekatan emosi dengan anak. Orangtua bisa memulai bertanya, "Bagaimana hari ini?" Saat anak menjawab, amati, dengarkan, dan sentuh mereka.

Ayah dan bunda juga bisa menerapkan aturan disiplin sedini mungkin, berikan pondasi agama yang kuat. Pilih program pendidikan pada gadget yang sering dipakai anak, buat kesepakatan pengamanan dengan cara kunci hp dengan program parental guiding. Jelaskan pada anak fungsi seluler selain untuk belajar juga dipakai untuk berhubungan dengan keluarga dan sanak famili.

Berikan pendidikan seks sejak dini, termasuk pengetahuan tentang bahaya pornografi. Atau, buat kegiatan/aktivitas bersama dengan anak. Kegiatan itu bisa berupa menggambar, menyanyi, menari, olahraga, dan sebagainya.

Di sini, ada pedoman dasar bagi orangtua dan anak yang bisa diikuti, yaitu:

1. Pedoman Dasar Orangtua

- Habiskan waktu online bersama anak-anak. Ajarkan mereka tentang perilaku online yang sesuai.
- Letakkan  komputer di ruangan terbuka yang mudah dipantau, jangan di kamar anak.
- Pantau histori ponsel atau gadget setelah anak menggunakannya.
- Tandai situs favorit anak-anak Agar aksesnya mudah.
- Periksa tagihan kartu kredit dan ponsel Anda untuk biaya akun yang tidak dikenal.
- Cari tahu jika ada perlindungan online yang ditawarkan oleh sekolah anak, pusat sekolah, rumah teman, atau tempat di mana anak-anak dapat menggunakan komputer tanpa pengawasan Anda.
- Tanggapi anak Anda dengan serius jika ia melaporkan pertukaran online yang tidak nyaman.

2. Pedoman Dasar Anak

- Ikuti aturan keluarga dan apa yang ditetapkan atau penyedia layanan internet agar aman berselancar di dunia maya.
- Jangan pernah mengunggah atau foto pribadi dengan milik orang lain.
- Jangan pernah mengungkap informasi pribadi seperti alamat, nomor telepon, nama sekolah, atau lokasi.
- Gunakan hanya nama dan jangan bagikan kata sandi (selain dengan orangtua).
- Jangan pernah setuju untuk bertemu langsung dengan siapapun ketika berkenalan di dunia maya tanpa persetujuan atau pengawasan orangtua.
- Jangan pernah menanggapi e-mail, pesan, unggahan, atau teks yang mengancam.
- Selalu beritahu orangtua atau orang dewasa terpercaya lainnya tentang komunikasi atau percakapan apapun yang menakutkan atau menyakitkan.

SEKOLAH

Selain orangtua, pihak sekolah juga dapat membantu mengedukasi anak-anak lewat seminar dan pelatihan anti kejahatan seks termasuk Cyber crime. Edukasi bisa dilakukan juga lewat poster atau lomba cerita lewat medsos.

Berikan pengertian pada anak, ada bagian tubuh pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh sembarang orang, yaitu mulut, dada, kemaluan, dan pantat. Ada bagian yang hanya boleh disentuh orangtua ketika memandikan, ketika membersihkan sehabis buang air besar/kecil, atau dokter ketika memeriksa dengan pendampingan orangtua.

Berani katakan tidak saat orang lain menyentuh bagian pribadi, menyuruh membuka baju di depannya, menunjukkan bagian tubuh pribadinya, dan menunjukkan film atau foto telanjang.

MASYARAKAT

Peran penting lainnya juga bisa dillakuka oleh masyarakat sekitar, yaitu dengan meningkatkan fungsi RT/RW sebagai satgas perlindungan anak atau menggalakkan program kelurahan layak anak dan kelurahan ramah anak. (F)

 

Close X

Ayah Bunda, Hati-Hati Dampak Buruk Meremehkan Anak

Sebelumnya

Bunda, Jangan Lupa Ajarkan 3 Kata Ajaib Ini Kepada Anak Sejak Dini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Parenting