post image
Ilustrasi wudhu/Net
KOMENTAR

BERWUDHU menjadi syarat sah sholat. Meski demikian, masih banyak orang yang tanpa sadar melakukan kesalahan saat berwudhu. Lalu, apakah sah shalatnya?

Ada lima hal yang terkadang dilalaikan seseorang saat berwudhu. Kelima hal itu adalah:

1.    Membaca Basmalah di kamar kecil

Kerap kali umat muslim melakukan wudhu di kamar kecil atau kamar mandi yang menyebabkan basmalah tidak disunnahkan diucapkan. Dikutip dari website Pondok Pesantren Tebu Ireng, pada umumnya orang yang terbiasa melafalkan basmalah, masih membaca basmalah saat di kamar kecil karena lupa. Padahal hal ini tidak diperbolehkan, karena di dalam basmalah terkandung nama Allah.

Hal ini juga terkait dengan adab di dalam kamar mandi, yakni tidak diperbolehkan bicara dan bersuara. Untuk itu, basmalah hanya dibatin dalam hati dan tidak perlu diucapkan dalam lisan. (Hasyiyah asy-Syibramalsi Nihayatul Muhtaj, juz I, hal 55)

2.    Kaki tidak terangkat saat dibasuh

Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Sempurnakanlah wudhu.” (HR. Muslim). Rukun wudhu kelima adalah membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Basuhan air harus merata sampai ke sela-sela jari dan telapak kaki. Kasus terjadi ketika seorang berwudhu menggunakan bak, bukan pancuran. Ketika membasuh kaki, orang tersebut tidak mengangkat kakinya yang masih menempel di lantai.

Akibatnya, bagian telapak kaki tidak terbasuh, padahal wajib. Ia merasa kakinya sudah basah dan mengira bahwa basuhan sudah merata. Padahal basah tersebut adalah karena lantainya yang sudah basah, bukan hasil dari basuhan. (al-Hawi fi Fiqhis Syafi’I, juz I, hal 363) Seri Tradisi Pesantren (2) Identitas Keilmuan Pesantren

3.    Hitungan satu kali

Rasulullah berwudhu tiga-tiga, lalu bersabda, “Beginilah wudhu. Barangsiapa yang menambah atau mengurangi, maka ia telah mencacat wudhunya dan dzalim.” (HR. Abu Dawud)

Di dalam wudhu disunnah juga tatslits (melakukan tiga kali) dalam mengusap dan membasuh. Sebagaimana hadis di atas, menambah dan menguranginya hukumnya makruh.

Jika seseorang membasuh tangan tiga kali, air baru merata, maka itu belum disebut tastslits. Akan tetapi, hitungan satu kali basuhan ialah ketika air sudah merata di seluruh permukaan tangan. Baru kemudian basuhan kedua juga merata, dan basuhan ketiga. (Asnal Mathalib, juz I, hal 206)

4.    Kuku yang kotor

Memotong kuku merupakan anjuran Nabi terlebih ketika Hari Jumat. Namun banyak orang yang masih memanjangkan kukunya. Kalau orang membiarkan kotoran hitam bersarang di bawah kukunya, lalu apakah wajib membersihkan kuku sebelum berwudhu?

Hal yang diwajibkan dalam wudhu adalah meratakan air ke seluruh permukaan kulit yang wajib dibasuh. Orang yang berwudhu wajib menghilangkan hal-hal yang menghalangi masuknya air, seperti lem, lilin dan sejenisnya.

Begitu pula dalam masalah kotoran kuku, harus dibersihkan jika itu menghalangi masuknya air ke bawah kuku. Apalagi kalau kotoran tersebut termasuk benda najis, maka sudah tentu wajib dihilangkan. (Mughnil Muhtaj, juz I, hal 240)

5.    Tidak mencelupkan kaki

Ini adalah fenomena yang terjadi pada banyak orang, terutama yang tidak menyadari keberadaan najis di telapak kakinya.  Banyak masjid menjadi korban ketidaktahuan mereka, khususnya pada masjid yang tempat wudhunya berdampingan dengan tempat kencing.

Orang seringkali saat hendak masuk ke masjid tidak mencelupkan kakinya dulu ke dalam bak atau kolam yang telah disediakan. Padahal bak tersebut nantinya bisa menghilangkan keraguan suci tidaknya kaki.

Bahkan ada orang yang sengaja melompati dan melewatkan bak tersebut. Ini berakibat najis yang dibawanya tersebar ke mana-mana. Oleh karena itu, setiap ada bak cuci atau kolam hendaknya mutawadhi’ (orang yang wudhu) mencelupkan kaki di bak tersebut. (F)

Kun Fayakun, Maka Jadilah Aku Seorang Muslim

Sebelumnya

Peristiwa-peristiwa Mengagumkan Mengiringi Kelahiran Nabi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Islamic World