Ilustrasi gunung batu/Freepik
Ilustrasi gunung batu/Freepik
KOMENTAR

PERANG Uhud membuat musyrikin Quraisy jumawa dan melontarkan tantangan untuk berperang lagi di tahun berikutnya. Mereka mengira Rasulullah tidak akan mampu meladeni tantangan itu. Dan yang terjadi, Nabi Muhammad dan kaum muslimin benar-benar datang pada bulan Sya’ban tahun 4 Hijriyah (Januari 626 M). Janji beliau tepati, sekalipun itu janji berperang!

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pada bukunya Kelengkapan Tarikh Rasulullah (2012: 171) menerangkan:

Sepulang dari perang Uhud, Abu Sufyan mengatakan, “Kalian dan kami akan bertemu pada tahun yang akan datang di Badar.”

Pada bulan Sya’ban, Rasulullah berangkat menuju medan lagi yang telah ditentukan dengan membawa seribu lima ratus pasukan, dan hanya sepuluh ekor kuda saja.

Pembawa bendera perang adalah Ali bin Abu Thalib. Sementara yang menjaga kota Madinah dipercayakan kepada Abdullah bin Rawahah. Setibanya di Badar, Rasulullah tinggal selama delapan hari menunggu pasukan kaum musyrikin.

Nabi Muhammad membuktikan keberanian yang berlandaskan keimanan. Bahkan beliau bersama pada sahabatnya bernyali untuk menyongsong musuh. Tidak ada keraguan sama sekali, perang Badar kedua siap dihadapi dengan jiwa ksatria.

Sementara itu pihak Quraisy juga bergerak dengan kekuatan pasukan yang lebih banyak. Apakah perang akan meletus kali kedua di Badar? Di sinilah terjadi suatu kejutan yang mana kaum Quraisy mencoreng citra sendiri.  

Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah (2015: 345) menjelaskan:

Di pihak lain, Abu Sufyan pergi bersama dua ribu personel, diperkuat oleh lima puluh prajurit kavaleri. Mereka sampai di daerah Marrizh Zhahran yang berjarak satu marhalah dari Mekah, lalu singgah di mata air Majannah.

Sebenarnya Abu Sufyan merasa sangat berat untuk keluar dari Mekah. Dia memikirkan dampak peperangan dengan muslimin. Rasa gamang dan gentar diam-diam menyergapnya, menguasai perasaannya. Setibanya di Marrizh Zhahran, tekadnya untuk berperang benar-benar padam sehingga dia mencari cara untuk bisa kembali.

Dia berkata kepada kawan-kawannya, “Saudara-saudara Quraisy, alangkah baiknya jika kita menunggu musim subur dimana kita bisa bercocok tanam dan minum susu. Sedangkan tahun ini tahun paceklik. Aku sendiri ingin pulang. Lebih baik kalian juga pulang.”

Ternyata rasa gentar juga menguasai seluruh pasukan. Maka orang-orang Quraisy itu memilih pulang ke Mekah tanpa berperang. Tidak ada satu pun yang menentang pendapat ini.

Akhirnya Abu Sufyan dan segenap pasukan musyrikin Quraisy memilih untuk menyerah dengan rasa takut. Mereka yang menantang berperang tetapi mereka pula yang melarikan diri sebelum sampai di gelanggang pertempuran.

Secara jumlah pasukan memang relatif berimbang atau tidak jauh perbedaannya, Quraisy 2000 prajurit dan muslimin 1500 prajurit. Pada perang Badar pertama jumlah muslimin hanya sepertiga dari kekuatan pasukan musyrikin, tetapi mereka mampu menang perang. Hitung-hitungan ini menggentarnya nyali Quraisy.

Secara psikologis pihak Quraisy juga sedang terpuruk. Musim paceklik telah membinasakan hasil panen dan membuat perekonomian Mekah sangat terpukul. Dari itulah, Abu Sufyan dan kaum Quraisy menghinakan martabat diri dengan meninggalkan peperangan yang dulu mereka tantang dengan pongahnya.

Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri (2015: 345) mengungkapkan:

Sementara itu, pasukan muslimin menunggu kedatangan musuh di Badar selama delapan hari. Selama waktu ini, mereka melakukan transaksi jual-beli dengan barang dagangan yang mereka bawa. Mereka bisa meraih laba 2 dirham dari barang mereka seharga 1 dirham.

Akhirnya, mereka kembali ke Madinah dengan kepercayaan diri yang makin tinggi. Kewibawaan mereka meningkat dan eksistensi mereka makin disegani. Peristiwa ini biasa disebut “Perang yang Dijanjikan” (Ghazwatul Mau'id), Badar Kedua (Badar ats-Tsaniyah), Badar Terakhir (Badar al-Akhirah), dan Badar Kecil (Badar Shughra).

Nabi Muhammad membangun mental yang tangguh bagi kaum muslimin dengan berlandaskan keimanan, sehingga mereka tidak gentar menghadapi situasi sulit. Rasulullah menegakkan wibawa Islam dengan berdiri gagah menanti musuh di medan perang. Ketika Quraisy memilih undur diri, maka segenap bangsa Arab memuji nyali Nabi dan para pengikutnya.

Cerdiknya lagi, kaum muslimin tidak pulang ke Madinah dengan tangan kosong, melainkan mereka berhasil melakukan perdagangan yang menguntungkan. Perang Badar kedua tidak berujung kontak senjata, akan tetapi memberi rasa aman di segala penjuru Madinah. (F)




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah