Ilustrasi peperangan/Pixabay
Ilustrasi peperangan/Pixabay
KOMENTAR

PERANG Badar bukan sekadar konflik bersenjata di antara dua kubu. Namun, pada hakikatnya Perang Badar adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Umat Islam yang jumlahnya sedikit harus berjihad mati-matian, sebab kekalahan akan membahayakan eksistensi agama tauhid. Atas nama kebenaran itu pula, Allah memberikan bala bantuan yang menakjubkan.

Surat Al-Anfal ayat 17, artinya, “Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.”

Allah yang terang-terangan mengakui telah memberikan pertolongan di Perang Badar. Memang tangan-tangan para mujahid Islam yang bertempur, tetapi sesungguhnya kekuatan yang menakjubkan itu bersumber dari Allah semata.
Bagaimanakah bentuk keterlibatan Allah pada Perang Badar?

Imam As-Suyuthi pada kitab Asbabun Nuzul menyebutkan Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Ath-Thabrani meriwayatkan dari Hakim bin Hizam bahwasanya ia berkata, “Saat Perang Badar, kami mendengar suara yang jatuh ke bumi dari langit seperti suara kerikil yang jatuh di atas baskom. Dan, Rasulullah melemparkan debu itu sehingga kami kalah. Itulah yang dimaksud oleh firman-Nya, yang artinya, ‘Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar...”

Nabi Muhammad terlebih dulu melemparkan debu kerikil ke arah musuh. Ternyata kekuatan Allah menyertai lemparan tersebut, sehingga membuat lemah mental kaum musyrikin. Ini suatu langkah penting yang menentukan jalannya peperangan, yakni menjatuhkan mental lawan.

Perang sengit berlangsung dengan serunya. Semangat juang pasukan muslimin semakin bergelora disebabkan pemimpin agung mereka, Nabi Muhammad berada di tengah-tengah pasukan Islam.  

Maka Bilal bin Rabah yang mantan budak melihat Umayyah bin Khalaf. Mantan majikannya yang pernah menyiksa secara keji berada di barisan Quraisy. Bilal pun berteriak, “Umayyah, moyang kafir, tak akan selamat aku kalau dia lolos!”

Serbuan Bilal tidak sanggup dihadapi oleh Umayyah bin Khalaf. Dia berhasil membunuh bekas majikan yang teramat kejam menyiksanya. Umayyah bin Khalaf memperolah balasan setimpal dari kekejian dirinya selama di masa lalu.

Peperangan yang berlangsung dalam jumlah tidak seimbang, menjadi menarik disebabkan bantuan Allah membalikkan keadaan. Sebagaimana diterangkan pada Tafsir Al-Maraghi bahwa kaum musyrikin melihat jumlah kaum muslimin seolah-olah dua kali lipat jumlah tentara mereka sendiri. Artinya kurang lebih 2.000 orang serdadu muslim. Sedang sesungguhnya jumlah mereka hanya 300 orang lebih.

Allah sengaja memperlihatkan kepada mereka sekalipun bilangan kaum muslimin sedikit, menjadi dua kali lipat jumlah mereka, agar mereka merasa takut dan menjadi kecut dalam menghadapi tentara muslimin. Hal itu semata-mata pertolongan Allah terhadap kaum muslimin.      

Selanjutnya, bantuan Allah hadir berupa kekuatan gaib yang dahsyat. Doa suci Nabi Muhammad dikabulkan Tuhan dengan menurunkan para malaikat. Surat Al-Anfal ayat 9, yang artinya, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

Fakhrur Razi dalam Tafsir Kabir mengatakan, para mufassirin telah bersepakat, begitu pula para ahli sirah, bahwa Allah Swt. telah menurunkan para malaikat di waktu Perang Badar, kemudian mereka memerangi kaum musyrikin.
Nabi Muhammad seorang yang berpikir logis, jumlah musuh yang memang lebih banyak jelas bukan tandingannya segelintir laskar muslimin.

Namun, Rasulullah juga sangat optimis, sehingga pemimpin agung itu memanjatkan doa yang teramat indah, yang dicantumkan dalam kitab Shahih Muslim, “Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.”

Sama sekali tidak ada rasa gentar Rasulullah dan kaum muslimin menghadapi peperangan. Satu-satunya kekhawatiran adalah tidak ada lagi orang yang menyembah Allah, disebabkan musnahnya kaum muslimin. Doa suci Nabi Muhammad dibalas Allah dengan menurunkan pasukan hebat, yaitu seribu malaikat.

Laskar Quraisy yang berjumlah besar justru terdesak dalam pertempuran sengit. Satu per satu tokoh Quraisy banyak yang jadi korban. Mu’adz bin Amru menewaskan Abu Jahal. Bilal berhasil membunuh Umayyah bin Khalaf. Perang Badar dikuasai sepenuhnya oleh kaum muslimin. Pasukan dibuat tak berdaya dan tercerai-berai.

Para pejuang Islam adalah orang-orang yang merindukan surga. Sehingga mereka berlomba-lomba menyongsong mai sebagai syuhada. Seperti Umair bin al-Hammam berkata, “Bakhin! Bakhin!”

Nabi bertanya, “Apa yang membuatmu berkata bakhin-bakhin?”
“Tidak demi Allah ya Rasulullah, ini hanya harapan agar aku termasuk penghuninya.” Umair berkata demikian karena mengharapkan surga.
“Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya,” jawab Rasul.

Umair segera menyerbu ke barisan musuh, melibaskan pedangnya ke arah lawan, hingga menemukan syahidnya.
Auf bin Harits mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat Tuhan tersenyum terhadap hamba-hamba-Nya?”

“Jika dia menjulurkan tangannya ke tengah musuh tanpa mengenakan zirah (baju besi),” jawab Nabi. Seketika itu juga Auf bin Harits melepaskan zirahnya, lalu menyerbu ke arah musuh dengan menghunus pedangnya, hingga ia pun mendapatkan syahid yang didambanya.

Rupanya pihak Quraisy pun datang pula bala bantuan, tetapi pertolongan itu datangnya dari iblis. Ya, iblis hadir pada Perang Badar dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju’syam, pemimpin Bani Kinanah. Iblis sibuk mondar-mandir menggelorakan hawa nafsu kaum Quraisy dalam bertempur.

Hanya saja setelah melihat para malaikat turun membantu kaum muslimin, iblis memilih mundur teratur. Harits bin Hisyam mencegahnya ketika hendak melarikan diri, “Bukankah engkau pernah berkata, akan mendukung kami dan tidak akan meninggalkan kami?”

Iblis yang menjelma dalam rupa Suraqah itu tidak peduli. Meski dikecam pengecut oleh Harits, jelmaan iblis itu tetap saja melarikan diri. Iblis berkata, “Aku telah melihat yang tidak engkau lihat. Aku takut pada Allah. Siksaan Allah benar-benar pedih.” Kalimat penolakan iblis atau setan kepada Harits bin Hisyam tersebut diabadikan dalam surat al-Anfal ayat 48.  

Kekalahan yang memalukan dirasakan oleh kaum Quraisy, keunggulan jumlah besar pasukan tidak bermakna apa-apa dibandingkan pertolongan Allah. Kaum musyrikin melarikan diri dengan menanggung aib yang tercoreng di kening. Pasukan Islam terus mengejar, sehingga berhasil membunuh sebagian di antara mereka, dan menawan sebagian lainnya.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah