Belajar dari kasus seorang ibu di Tangsel yang mencuri telur untuk anaknya/Pixabay/akirEVarga
Belajar dari kasus seorang ibu di Tangsel yang mencuri telur untuk anaknya/Pixabay/akirEVarga
KOMENTAR

SUNGGUH beruntung ibu yang ketahuan mencuri tiga butir telur di minimarket. Setelah diketahui modus pencuriannya demi membela perut lapar anak-anaknya yang masih kecil, alhamdulillah dikabarkan bahwa dia diberi paket sembako. Tentunya bantuan itu sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Sangat patut dipuji sikap aparat kepolisian yang meminta masalah pencurian yang berpangkal dari kelaparan ini diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak minimarket tidak perlu melanjutkan ke ranah hukum yang dapat memenjarakan si ibu lapar.

Kehormatan perempuan yang lapar bersama anak-anaknya itu sudah tercoreng oleh kasus pencurian. Jangan sampai dia makin tersiksa dengan sanksi hukum di pengadilan. Terpujilah pihak kepolisian yang membayar telur yang dicuri tersebut dan membekali perempuan itu sembako untuk membela perut keluarganya.

Ya, perempuan pencuri telur itu cukup beruntung, akhir ceritanya lumayan mulus. Sementara yang bernasib malang juga tak terhitung jumlahnya dan nyaris tanpa berita. Seperti seorang lelaki yang menemui ajal saat dikeroyok massa di malam yang pekat. Dan yang mengharukan, dia mencuri demi anak-anaknya yang terus menangis akibat kelaparan.

Sekalipun tubuhnya sudah kaku, tangannya masih memegang erat singkong yang dicurinya di ladang, seolah menggambarkan betapa keras kehidupan yang ditanggungnya. Dan yang paling menggetarkan bulu roma, di samping mayat lelaki itu istrinya meraung-raung sambil mencabuti rambut di kepalanya.

Kelaparan memang menakutkan.

Makanya Nabi Muhammad menasehati, jangan sampai asap masakan kita merusak penciuman dan perasaan para tetangga. Makanya Rasulullah menyarankan istri beliau untuk memperbanyak kuah makanan, supaya bisa berbagi dengan orang-orang di sekitar.

Kita pun tidak dapat mengabaikan, akibat lapar yang teramat perih yang jadi korbannya adalah kaum hawa. Malangnya, ada di antara mereka yang terpaksa menjual kehormatan dirinya atau anak gadisnya demi mengisi perut. Mereka tahu itu sangat menyakitkan, tapi rasa sakit dan pilu itu terlupakan langsung pada suapan pertama.

Pindah ke pedesaan langsung membuat keluarga itu terkaget-kaget. Ada saja orang yang meminta nasi dan lauk pauk yang hendak dibuang. Keluarga asal kota itu bergetar hatinya melihat orang-orang miskin menyantap dengan lahap makanan yang sudah hampir basi. Anehnya, orang-orang itu memohon lagi agar sisa makanan tidak lagi dibuang tetapi diserahkan saja pada mereka.

Bagaimana mereka hidup selama ini? Perjuangan keras fakir miskin hanyalah mencari beras untuk ditanak. Selanjutnya orang-orang itu akan pergi ke kebun mencari daun-daun apa pun yang bisa dimasak seadanya mendampingi nasi. Begitu sederhana hidup mereka, untuk sepiring nasi pun perjuangannya bisa berdarah-darah.

Sekilas dunia ini seperti tidak adil kepada sebagian orang, bagaimana bisa ada orang yang mengerang karena makan kekenyangan, sementara ada orang lain yang mengerang kelaparan?

Bagaimana bisa ada orang yang dihinggapi berbagai penyakit parah seperti diabetes, obesitas dan lain-lain yang berpangkal dari pola makan berlebihan, sedangkan banyak orang yang jatuh sakit hingga meregang nyawa karena tak berdaya melawan rasa lapar?

Sebenarnya Islam telah menegakkan semangat keadilan itu, seperti adanya kewajiban zakat yang merupakan amal yang menyucikan harta, sebab dalam harta yang kita miliki ada hak-hak fakir miskin yang harus segera ditunaikan.

Jika zakat tidak disegerakan kita akan berdosa, sementara korban akan berjatuhan dari pihak fakir miskin, yang di antara mereka terpaksa mencuri atau malah menjual diri.

Selain itu, betapa luar biasanya motivasi bersedekah yang digalakkan Islam. Sedekah itu tidak pernah membuat orang jatuh melarat, malah menambah harta kekayaan. Sedekah itu berkah bagi yang menyerahkan dan menyelamatkan bagi mereka yang menerima.

Maka, lihatlah orang-orang di sekitarmu! Jangan sampai saat kita tidur kekenyangan, sedangkan di sekitar kita ada orang yang menahan lapar yang perihnya terasa sampai ke jantung.

Sejarah Islam pernah dihiasi kejadian spektakuler, sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Di mana para hartawan kebingungan mondar-mandir, dan tidak menemukan satu pun orang yang dapat diserahkan zakat atau sedekah. Itu pertanda keadilan dan kesejahteraan Islam telah ditegakkan.

Nah, jadi teringat lagi nih kepada kisah si ibu malang yang mencuri tiga butir telur. Muncul pertanyaan, apakah pihak pemilik minimarket yang sudah mengeruk banyak keuntungan berbisnis sudah menunaikan zakat dan sedekah bagi warga miskin di sekitarnya?

Namun, mencuri tetaplah perbuatan yang diharamkan agama. Dari itulah kewajiban segenap kaum muslimin (termasuk pihak minimarket) memelihara saudara-saudarinya agar tidak terpaksa melakukan perbuatan terlarang hanya disebabkan kalah dengan rasa lapar.

Syekh Syihabuddin al-Qalyubi dalam buku An-Nawadir (2018: 297) mengungkapkan:

Jibril turun menghadap Nabi Muhammad saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, keluarkanlah budak perempuan tersebut dari rumahmu. Sebab, ia adalah ahli neraka.”

Nabi merespons perintah Jibril, kemudian meminta Aisyah memulangkannya. Aisyah patuh menjalankan perintah Rasulullah untuk mengeluarkan budak itu. Aisyah juga memberikan beberapa biji kurma kepadanya.

Dalam perjalanan, budak tersebut memakan sebagian kurma. Lalu, ia bertemu dengan seorang fakir. Ia memberikan sebagian kurma yang tersisa kepada si fakir.

Beberapa waktu kemudian, Jibril datang kepada Nabi Muhammad saw. dan memerintahkannya agar mengembalikan budak perempuan yang telah dikeluarkan itu. Sebab, ia menjadi ahli surga karena sedekah yang dilakukan kepada si fakir.




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur