Antrean pemeriksaan kesehatan para korban gempa Maroko yang didominasi perempuan/Reuters
Antrean pemeriksaan kesehatan para korban gempa Maroko yang didominasi perempuan/Reuters
KOMENTAR

AKTIVIS dan organisasi pembela hak-hak perempuan waspada terhadap maraknya unggahan di media sosial terkait pernikahan anak di bawah umur dan eksploitasi lainnya di pelosok desa tempat para korban gempa bumi Maroko.

Di tengah reruntuhan gempa berkekuatan 6,8 skala Richter yang melanda Pegunungan Atlas di Maroko pada tanggal 8 September, seorang pria dewasa, yang konon merupakan sukarelawan yang membantu para penyintas, berpose di samping seorang gadis muda berusia sekitar 10 tahun.

Itu hanyalah salah satu foto yang mengeksploitasi anak perempuan.

"Banyak laki-laki menganjurkan untuk menikahi gadis-gadis, bahkan mereka yang di bawah umur, beberapa dengan jalan membenarkan penafsiran agama. Kami akan menyelamatkan gadis-gadis itu," ujar Yasmina Benslimane, aktivis hak perempuan dan HAM Maroko sekaligus pendiri Politics4Her (organisasi nirlaba yang mempromosikan kesetaraan gender dalam politik.

Yasmina dan aktivis hak-hak perempuan Maroko lainnya telah mendorong pentingnya perawatan menstruasi segera setelah gempa bumi ketika mereka segera mengetahui adanya kampanye yang mendesak laki-laki Maroko untuk melakukan perjalanan ke desa-desa terpencil untuk “menyelamatkan” gadis-gadis muda.

Media lokal juga memberitakan setidaknya satu laki-laki ditangkap minggu ini karena mempromosikan konten semacam itu, seorang pelajar berusia 20 tahun dari kota Errachidia yang membual secara online tentang bepergian ke daerah yang terkena gempa dengan tujuan melakukan pelecehan seksual terhadap gadis-gadis muda.

Pernyataan tersebut membuat Yasmina dan organisasinya mendesak adanya respons bantuan yang peka gender terhadap gempa bumi. Mereka kini telah menerbitkan sebuah manifesto yang menyerukan tanggapan seperti itu.

“Kami tahu bahwa hal seperti itu akan terjadi, akan ada risiko kekerasan berbasis gender, akan ada risiko eksploitasi, dan inilah yang terjadi dengan kasus-kasus mengkhawatirkan yang kita lihat secara online,” kata Yasmina kepada Al Jazeera.

Yasmina bersama organisasi lainnya terus mengupayakan perawatan kesehatan yang ramah perempuan. Termasuk untuk menangani persalinan yang tidak terhenti meski gempa bumi menghancurkan segalanya.




Lonjakan Kasus COVID-19 di Singapura, Menkes Budi Gunadi Sadikin: Jangan Panik, Tingkat Penularan dan Angka Kematian Sangat Rendah

Sebelumnya

Tegaskan Kenaikan UKT Hanya untuk Mahasiswa Baru, Nadiem Makarim: Yang Lebih Mampu Bayar Lebih Besar, Yang Tidak Mampu Bayar Lebih Sedikit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News