Ilustrasi sosialisasi memilih sampah/Net
Ilustrasi sosialisasi memilih sampah/Net
KOMENTAR

SAMPAH plastik merupakan salah satu isu global yang sedang dihadapi oleh masyarakat dunia. Dari 430 juta ton sampah plastik, dua pertiganya berubah dengan cepat menjadi limbah yang mencemari lingkungan, bahkan masuk ke dalam rantai makanan manusia.

Kondisi ini dapat diatasi apabila masyarakat memiliki kesadaran dalam penanganan sampah plastik, di antaranya adalah dengan melakukan pemilahan agar dapat diolah menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat.

Selain membantu mengurangi dampak pencemaran lingkungan, hal ini juga dapat meningkatkan ekonomi sirkular yang memberi efek positif pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Sesuai prinsip ekonomi sirkular, jika sampah dijadikan komoditi, ada nilai ekonomi yang akan tercipta dengan terjadinya transaksi jual beli, penciptaan lapangan kerja, hingga langkah-langkah yang memastikan bahwa sampah plastik kembali menjadi bahan baku yang siap diolah menjadi produk yang sama atau produk turunannya,” kata Dr Mochamad Chalid, Kepala Center for Sustainability &Waste Management Universitas Indonesia (CSWM-UI), dalam dialog lintas sektor dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023, Senin  (5/6) di channel Youtube Tempo Media.

Menanggapi isu sampah plastik, Maya Tamimi, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia, memaparkan komitmen Unilever untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, menggunakan plastik yang lebih baik, dan menghadirkan inisiatif tanpa plastik.

Untuk mendukung gerakan tersebut, Unilever bekerja sama dengan lebih dari 4.000 Bank Sampah di 11 provinsi di Indonesia, menempatkan beberapa drop box yang memudahkan masyarakat melakukan pengumpulan sampah dan mendorong jutaan masyarakat Indonesia untuk melakukan #GerakanPilahPlastik.

Sepanjang 2022, Unilever telah berhasil mengumpulkan dan memproses lebih dari 62.000 ton plastik di Indonesia.

 “Ke depannya, Unilever Indonesia akan terus berupaya membangun kesadaran seluruh pihak akan konsep solusi pengelolaan sampah kemasan yang terintegrasi, meningkatkan kapasitas di bidang pengumpulan dan pengelolaan sampah, serta aktif mengedukasi dan melibatkan publik untuk terus berperan aktif menjadi agen perubahan positif bagi lingkungan,” ungkap Maya.

Dila Hadju, Founder Tumbuh Hijau, mengajak konsumen untuk menjadi bagian dari solusi.

“Salah satu penyebab banyaknya sampah akhirnya tertumpuk di TPA adalah karena kondisi sampah kita yang tercampur, jadi sulit dijadikan bahan baku daur ulang,” jelas Dila

Istri Rayi RAN tersebut menambahkan, konsumen dapat berperan dalam penanganan sampah, dimulai dari memilah sampah sesuai dengan jenisnya masing-masing, seperti sampah organik, anorganik, beracun (B3), dan residu. Setelah itu, sampah dibawa ke Bank Sampah supaya dapat ditangani dengan baik.

“Awalnya memang perlu pembiasaan, tapi jangan dijadikan beban karena semua ini buat anak cucu kita nanti. Hal kecil yang kita lakukan hari ini dampaknya bisa jadi luar biasa buat masa depan mereka,” demikian Dila.




Menteri Perindustrian Dukung Pembentukan Satgas Pemberantasan Barang Impor Ilegal

Sebelumnya

Mendikbudristek Nadiem Makarim: Penting Menanamkan Rasa Cinta terhadap Perbedaan dalam Diri Anak Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News