Selalu ceria dan optimis menjalani kehidupan/ Foto: Ripsa Santoso
Selalu ceria dan optimis menjalani kehidupan/ Foto: Ripsa Santoso
KOMENTAR

SOSOKNYA ceria. Ia selalu punya cerita menarik dan lucu yang dibagikan di media sosialnya setiap hari. Seolah hidupnya sepi dari masalah.

Leny Rafael memang pribadi yang senantiasa optimis dan memelihara positive vibes. Ia memahami bahwa segudang aktivitasnya di industri mode melahirkan banyak tantangan yang tak boleh dihadapi terlalu ‘serius’. Prinsipnya, tak perlu membuat masalah besar semakin besar dan tak perlu membuat masalah kecil menjadi beban. Itulah mengapa Leny tampak selalu ‘fully charged’ dengan senyum dan tawa renyah yang membawa keceriaan di sekitarnya.

Bicaranya blak-blakan dan apa adanya. “Saya memang tipe orang yang outspoken, justru itu yang lebih baik menurut saya, itu yang diperlukan dalam hidup ini, tidak perlu berpura-pura, tidak berbicara di belakang orang lain, dan straight to the point,” ungkap Leny.

Ia memilih menyebut dirinya sebagai seorang fashionpreneur. Karena menurut Leny, menjadi seorang fashion designer tidaklah cukup. Kreativitas yang berbuah karya harus bisa diterima banyak orang dan menghasilkan keuntungan. Bukan semata mengejar profit, melainkan bagaimana menjadikan industri kreatif dapat membuka lapangan kerja dan bernilai ekonomis bagi masyarakat.

Leny kini juga proaktif memanfaatkan dunia digital, tak hanya untuk memperluas pasar tapi juga membuat konten kreatif yang menurutnya memiliki keasyikan tersendiri.

“Saya sekarang bahkan tak hanya dikenal sebagai desainer dan pebisnis fesyen, tapi juga lifestyle influencer,” kata Leny.

Karena itulah dalam perjalanan kreatifnya sebagai perancang busana, Leny bertekad untuk tak hanya bertumbuh dan berkembang secara personal, tapi juga berkontribusi bagi industri fesyen Tanah Air.

Desainer yang dikenal lewat label Leny Rafael, Leny Rafael Bride, dan LR Things ini kemudian meluncurkan LR FPC alias Leny Rafael Fashion Preneur Class, sebuah program internship yang membuka kesempatan bagi para mahasiswa dan siswa SMK untuk magang di butiknya. Tak banyak orang tahu bahwa Leny sebenarnya telah menerima siswa magang sejak sembilan tahun silam.

Setelah lebih dari dua dekade berkarier di industri mode, Leny menyadari bahwa kebermanfaatannya harus semakin bertambah. Karena itulah ia membuat program reguler internship dengan jobdesk yang sistematis dan mendetail agar para student (demikian Leny menyebut siswa magang di tempatnya-red) benar-benar mendapatkan pengalaman berharga sebagai bekal bekerja di kemudian hari.

Hebatnya, Leny menerima siswa internship dari sekolah di seluruh Indonesia. Dan para siswa yang telah lulus internship akan disalurkan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi mereka.

“Dikelilingi anak muda setiap hari, berdiskusi dengan mereka, membuat saya lebih memahami beragam karakter anak muda zaman now dengan kurang lebihnya, terutama Gen Z. Mereka bahkan memanggil saya dengan sebutan ‘kakak’. Bergaul dengan anak muda tanpa sadar membuat saya jadi awet muda,” ujar Leny yang pernah tampil di ASC New York Fashion Week 2019 menggandeng Batik Warisan.

Karya-karya Leny kemudian menjadikannya salah satu desainer papan atas Indonesia. Busana rancangannya banyak dipakai di acara-acara televisi, juga dikenakan para pesohor negeri ini yaitu Nagita Slavina, Tissa Biani, Dul Achmad Dani, Yuki Kato, Denada, Enzy Storia, hingga yang terbaru: Fuji Utami Putri. Sejumlah Direktur BUMN dan Menteri Tenaga Kerja bahkan telah menjadi loyal customer busana Leny Rafael.

Ia pun tak ragu untuk berkolaborasi dengan banyak pihak agar bisnis fesyennya bisa terus berkembang. Leny sudah berkolaborasi dengan Wou Batik Luxury, Kaloka yang merupakan unisex brand namun lebih spesifik pada pakaian pria menggunakan wastra Indonesia, juga mengangkat batik yang high end bersama Batik Warisan.

“Menjadi desainer sebenarnya bukanlah cita-cita saya. Dulu saya ingin sekali menjadi dokter. Di tahun 1999, saya tidak berhasil menembus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan saya menunggu satu tahun untuk mengikuti UMPTN kedua kalinya. Qadarullah, saya tidak diizinkan Allah masuk fakultas kedokteran. Padahal saat itu saya merasa percaya diri untuk bisa menjadi dokter,” ujar Leny mengenang awal mula perjalanan kariernya sebagai seorang fashion designer.

Selama satu tahun menunggu itu, banyak di antara keluarga besar hingga teman dekatny (kini menjadi suami) yang mengatakan bahwa Leny cocok menjadi desainer karena daya kreativitasnya yang tinggi.

“Di antara desain busana, desain interior, dan desain grafis, saya akhirnya memilih desain busana,” kata Leny yang merupakan alumnus Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budiharjo.

Dalam komunitas fesyen, Leny dikenal sebagai penggagas lahirnya Pelangi Wastra Indonesia (PWI). Leny bersama para anggota PWI sukses menggelar fashion show di Belanda pada penghujung tahun 2018 bekerja sama dengan KBRI Den Haag. Masyarakat di sana sangat antusias bahkan memborong karya para desainer yang memperlihatkan heritage of Indonesia dalam beragam jenis wastra tradisional.

Leny memang dikenal sebagai desainer yang berusaha melestarikan kain tradisional Nusantara melalui busana-busana bernuansa modern. Ia berusaha untuk menjauhkan kesan kuno dan kaku yang selama ini kadung melekat pada kain tradisional.

Ia ingin agar generasi muda Indonesia mencintai dan bangga mengenakan wastra Nusantara. Dengan budaya Indonesia yang sangat kaya, keunikan kain tradisional terbukti selalu menarik perhatian masyarakat mancanegara.

Aktif dalam kepengurusan APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia), Leny juga berpartisipasi dalam banyak program fesyen. Saat ini namanya tercatat sebagai penanggung jawab Indonesia Fashion Preneur Competition.




Limited Stock, Buttonscarves Gandeng Halima Aden Luncurkan Koleksi The Crown Series

Sebelumnya

Ini Dia Kesalahan Pemakaian Sunscreen yang Harus Kamu Hentikan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga