Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

BERSABARLAH wahai yang dirinya sedang terkena fitnah, sebab kebenaran tidak akan pernah terkalahkan.

Sebagaimana Aisyah yang dirundung fitnah, sehingga ketabahannya dibalas pembelaan Ilahi. Permasalahannya bukanlah pada orang yang difitnah, melainkan pada diri tukang fitnah itu sendiri dan juga orang-orang yang terpengaruh dengannya.

Surat An-Nur ayat 13-14, yang artinya, “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak datang membawa empat saksi? Karena tidak membawa saksi-saksi, mereka itu adalah para pendusta dalam pandangan Allah. Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang sangat berat disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang (berita bohong) itu.”

Butuh menghadirkan empat orang saksi bagi siapa pun yang menuduh seseorang telah berbuat zina. Sementara pihak-pihak munafik tidak punya seorang pun saksi, melainkan mereka hanya mengandalkan imajinasi liar atau halusinasi sesat yang disokong oleh tajamnya lidah dalam menyebar fitnah mengenai Aisyah.

Inilah pelajaran berharga bagi kaum muslimin agar tidak terpengaruh dengan kabar bohong terkait perzinaan. Karena hanya dengan kehadiran empat saksi barulah dapat diajukan kepada hukum agama. Apabila tidak mampu menghadirkan saksi-saksi alias hanyalah berita bohong, sungguh bagi mereka yang menuduh itu azab dan juga hukuman yang berat.

Sedangkan kepada korban fitnah, semisal Aisyah atau siapa pun juga, maka janganlah berkecil hati. Fitnah memang pedih dirasakan oleh Aisyah, tetapi ada ganjaran pahala yang besar serta juga perlindungan Ilahi bagi dirinya.

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy pada Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur Jilid 3 (2011: 198-199) menerangkan:

Janganlah kamu menyangka bahwa tuduhan bohong itu mendatangkan kejahatan bagimu. Tetapi hal itu lebih baik terhadap dirimu karena menghasilkan pahala yang besar dan menjadi ujian yang nyata bagimu.

Karenanya, dari tuduhan itu akan lahirlah kemuliaanmu dengan turunnya ayat Al-Qur'an yang dibaca sepanjang masa, yang membersihkan kamu dari tuduhan itu, serta mengancam mereka yang menuduh dan memuji orang-orang yang tetap berprasangka baik atas dirimu.

Atas fitnah keji yang menimpa Aisyah, maka Tuhan memutuskan: memberikan pembelaan dan perlindungan kepada korban, memberikan pujian bagi mereka yang tidak percaya fitnah dan gigih melindungi korban, kemudian memberikan hukuman berat bagi para pembuat fitnah.

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (2011: 199) mengungkapkan:

Allah menjelaskan siksa bagi orang yang melemparkan tuduhan dan menyebarluaskan fitnah itu. Orang yang memikul sebagian besar dosanya adalah Abdullah ibn Ubay ibn Salul yang menjadi sumber penyebar tuduhan bohong tersebut. Dia akan ditimpa azab di dunia dan akhirat. Di dunia diketahui jelas tentang kepalsuan imannya dan dia seorang munafik, sedangkan di akhirat dia akan diazab dengan azab yang sangat pedih.

Memang Abdullah ibn Ubay inilah yang mula-mula mengarang tuduhan palsu itu, karena sangat besar permusuhannya terhadap Rasul.

Menurut pendapat Adh-Dhahak yang berusaha menyebarkan berita bohong itu adalah Hasan dan Misthah, keduanya telah dicambuk oleh Rasul sesudah Allah menurunkan ayat yang membersihkan Aisyah dari tuduhan tersebut. Selain itu Nabi telah mencambuk seorang perempuan Quraisy, dan yang disebut sebagai penyebar kabar bohong adalah Abdullah ibn Ubay, karena dialah yang ikut membuat isu bohong.

Surat An-Nur ayat 4-5, yang artinya, “Orang-orang yang menuduh (berzina terhadap) perempuan yang baik-baik dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (para penuduh itu) delapan puluh kali dan janganlah kamu menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik, kecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Hukum ini bukan hanya berlaku bagi para pembuat dan penyebar fitnah Aisyah, tetapi berlaku sepanjang masa bagi siapa pun yang menuduh orang baik-baik melakukan perbuatan zina. Hukuman cambuk 80 kali ditimpakan kepada mereka sebagai ganjaran atas fitnah yang disebarnya.  Seandainya pun para tukang fitnah ini selamat dari hukuman dunia, kelak mereka mustahil selamat dari pedihnya azab akhirat.

Kesalahan besar memang terletak pada pembuat fitnah dan yang menyebarkannya. Akan tetapi, Allah Swt. juga menegur keras atas sikap kaum muslimin.

Surat An-Nur ayat 15-16, yang artinya,

15. “(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar.”

16. “Mengapa ketika mendengarnya (berita bohong itu), kamu tidak berkata, ‘Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau. Ini adalah kebohongan yang besar.”

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (2011: 199) menjelaskan:

Apakah tidak sebaiknya kamu berbaik sangka terhadap Aisyah yang dituduh itu, ketika dia mendengar tuduhan yang dilancarkan oleh ahlul ifki yaitu orang yang membuat-buat tuduhan bohong. Bukankah imanmu mendorong kamu berbaik sangka dan menghindari berburuk sangka kepada orang mukmin.

Mengapakah kamu tidak membantah ketika kamu mendengar tuduhan itu? “Ini adalah suatu kebohongan yang nyata. Apa yang telah terjadi tidak dapat menimbulkan sesuatu hal yang patut dicurigai.” Aisyah datang dengan mengendarai unta kepunyaan Shafwan, dan disaksikan oleh semua manusia karena terjadi pada siang hari.

Agama telah mengajarkan pemakaian logika dan etika dalam memahami suatu kabar:




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir