Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

TENTUNYA bukanlah suatu kesia-siaan bila juga tercantumnya dalam Al-Qur’an untaian kisah wanita yang buruk perangainya. Sebagaimana Ummu Jamil yang senang menyakiti Nabi Muhammad Saw, lahir maupun batin, maka terkait kelakuannya itulah kitab suci mengharapkan siapapun dapat memetik pelajaran.

Agama Islam yang disyiarkan oleh Rasulullah membuat duet Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, sangat membencinya. Dan yang mencengangkan, Ummu Jamil yang semestinya menampilkan sisi kelembutan seorang kaum hawa, malah melakukan berbagai kekejian.

Basharat Ahmad dalam kitab Anwarul Qur’an (2017: 527-528) menceritakan: Kebencian istrinya (Ummul Jamil) juga telah melebihi batas. Pekerjaannya adalah menyebarkan berita dusta terhadap Nabi Saw dan memfitnahnya.

Adalah kebiasaan Nabi untuk mengunjungi Ka’bah setiap malam untuk beribadah. Dia mengetahuinya dan menyebarkan duri di jalan, sehingga dalam kegelapan malam kaki Nabi bisa terluka tertusuk duri. Pendeknya, tak ada batasnya kejahatan, kemarahan, penganiayaan dan kekejaman, baik dari suami maupun istrinya. Hati keduanya berkobar dalam nyala api yang tak dapat didinginkan.

Kebencian itu bagaikan kobaran api yang menyala di hati Ummu Jamil, yang mendorong dirinya melakukan berbagai aksi kejahatan. Ummu Jamil menaati suaminya pada aspek yang sangat salah, taat pada keburukan bukan hanya memperparah kesesatan suami, tetapi juga membinasakan sang istri.

Ummu Jamil sama seperti manusia lainnya, yang dianugerahi Tuhan akal budi. Dengan karunia itu, harusnya Ummu Jamil mampu memfilter fakta bahwa suaminya benar-benar tersesat di jalan keburukan.

Dalam Surat al-Lahab ayat 1-5 Allah berfirman, yang artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar- benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”

Turunnya teguran langsung dari Tuhan di dalam kitab suci ini hendaknya mendatangkan kesadaran. Tetapi Ummu Jamil malah kian berkobar-kobar kebenciannya. Begitulah hakikat dari kebencian, justru membakar sang pembenci itu sendiri.

Begitu mendengar turun ayat mengenai suaminya dan dirinya, Ummu Jamil dengan murka mencari Rasulullah. Tujuannya sudah jelas, untuk langsung meluapkan amarah yang berhulu dari kobaran api kebencian. Kehormatan diri Nabi Muhammad teracam oleh seorang wanita yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Namun, Allah Yang Maha Kuasa punya cara melindungi Nabi-Nya.

Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Edisi Istimewa Jilid 24 (2002: 290) menjelaskan: Ibnu Ishaq berkata, saya mendapatkan informasi bahwa Ummu Jamil pembawa kayu bakar itu ketika mendengar Al-Qur’an yang membicarakan dirinya dan suaminya, maka datanglah ia kepada Rasulullah ketika beliau sedang duduk di masjid di sisi Ka’bah bersama Abu Bakar. Kketika itu, ia membawa batu segenggam.

“Ketika dia berhenti di hadapan Rasulullah dan Abu Bakar, Allah menutup matanya dari memandang Rasulullah, sehingga ia tidak dapat melihat kecuali kepada Abu Bakar. Lalu ia berkata, “Hai Abu Bakar, mana sahabatmu itu? Aku telah mendengar bahwa dia menyindir saya. Kalau saya menjumpainya, niscaya saya pukul mulutnya dengan batu ini. Ketahuilah, sesungguhnya saya juga seorang penyair. Orang tercela kami tentang, perintahnya kami langgar.”

Kemudian dia pergi. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ia tidak melihatmu?”

Rasulullah menjawab, “Ia tidak melihat aku. Sesungguhnya Allah telah menutup penglihatannya dariku."

Ummu Jamil salah sangka, ayat-ayat suci itu berasal dari Allah Swt sebagai teguran keras untuk dirinya. Sementara Ummu Jamil mengira, ayat-ayat itu hanyalah rangkaian syair yang dibuat oleh Rasulullah, sehingga dirinya datang bukan hanya bersenjatakan lidah nan tajam, tapi juga mengusung syair-syair karangannya sendiri.

Kejadian itu mestinya menyadarkan Ummu Jamil, bahwa ayat itu merupakan teguran langsung dari Allah Swt kepada dirinya. Tuhan menghapus sosok Rasulullah dari pandangan matanya, melindungi Nabi-Nya dari kata-kata brutal yang dapat mengganggu martabat Rasulullah.

Tidaklah sepadan bila terjadi adu fisik antara Rasulullah dengan wanita serendah Ummu Jamil, yang buruk perangainya. Namun, andai hantaman batu itu jadi mengenai Nabi Muhammad, alangkah menyedihkan yang dialami beliau.

Dari itulah, Allah Swt memberikan yang sebaik-baiknya skenario.

Ummu Jamil telah diabadikan kitab suci atas keburukan pekertinya, dan bagi yang membaca surat Al-Lahab itu hendaknya tidak henti mengambil pelajaran dalam berkata dan berbuat apa saja.




Ummu Jamil (2) Hinanya Berkalung Tali dari Sabut yang Dipintal

Sebelumnya

Khaulah, Keadilan Bagi Kaum Hawa (2)

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir