KOMENTAR

DALAM sebuah episode sinetron Para Pencari Tuhan besutan Deddy Mizwar yang sangat populer mengisi waktu sahur di bulan Ramadhan, dialog antara Bang Udin dan Asrul berikut ini seolah menjadi jawaban atas pertanyaan juga prasangka banyak hamba.

Berawal dari pertanyaan Bang Udin tentang kabar sahabatnya, Asrul. Semuanya biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, begitu Asrul menanggapi pertanyaan itu.

Asrul dan istrinya, Mira memang dikenal sebagai hamba yang taat menjalankan ajaran Islam dalam keseharian mereka. Sekalipun ujian kemiskinan seolah tak pernah pergi dari mereka, keduanya berusaha keras untuk istikamah menjadi hamba yang bertakwa.

Mendengar jawaban Asrul, Bang Udin mulai 'meradang'.

"Curiga dong, Srul (Asrul)...berarti Allah cuma ngerjain kamu."

"Kita disuruh ibadah terus, tapi apa balasannya? Kamu tambah miskin, saya malah cerai, Allah cuma bikin kita sibuk sama urusan agama. Kapan kita kaya?"

Mendengar kalimat Bang Udin, istri Asrul yang sedang duduk di samping suaminya mengucap istighfar. Ia mengatakan bahwa agama Islam memang bukan agama untuk mencari kekayaan melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Tapi Bang Udin kadung merasa kesal dengan pahitnya kehidupan. "Memangnya kita hidup cuma butuh akhlak doang?"

Mulai tak sabar menanggapi omongan sahabatnya yang dinilai makin tak berdasar, Asrul angkat bicara.

"Akhlak itu yang menyelamatkan kau ketika kau menjadi orang kaya atau menjadi orang miskin, baik menjadi laki-laki maupun perempuan, baik menjadi istri maupun suami, baik menjadi tamu maupun tuan rumah, baik menjadi pekerja maupun majikan, baik menjadi rakyat maupun pemimpin. Semua itu butuh akhlak yang baik untuk keselamatannya!"

Masya Allah.

Kalimat panjang dari tokoh Asrul tadi sangat related dengan kehidupan kita. Banyak hamba yang mempertanyakan mengapa ibadah yang mereka lakukan siang malam, keimanan yang mereka pertahankan, dan ketakwaan yang mereka coba tumbuhkan, tidak membawa mereka pada kenikmatan dunia.

Karena sejatinya, semua amal ibadah yang kita lakukan adalah untuk membentuk akhlak karimah dalam diri kita. Menjadikan kita sebagai umat yang sesuai dengan tujuan diutusnya Rasulullah: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Akhlak pula yang menjadikan kita manusia profesional. Entah itu dalam kapasitas sebagai asisten rumah tangga, sopir, koki di restoran, guru, petugas customer service, wartawan, pengusaha UKM, manajer perusahaan, dokter, dekan fakultas, menteri, anggota dewan, atau presiden sekalipun, akhlaklah yang menjaga manusia dari bejatnya moral dan keserakahan.

Jadi, ini bukan tentang Allah yang mempermainkan hamba-Nya...melainkan tentang hamba yang tidak mampu memahami atau tidak mau memahami hakikat eksistensinya di dunia ini: menjadi Muslim tangguh yang tak kalah oleh dunia selama berjalan menuju akhirat di ujung hayatnya.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur