KOMENTAR

BELAKANGAN ini kita sering mendengar istilah Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat didefinisikan sebagai rasa khawatir karena takut ketinggalan trend yang sedang berlangsung. Pengidap FOMO kerap merasa gelisah dan takut dianggap tidak up-to-date atau tidak gaul.

Tidak hanya itu, mereka juga beranggapan bahwa orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia dari mereka. Umumnya hal tersebut terjadi pada kalangan anak muda, terutama yang aktif di media sosial.

Tak jarang postingan foto atau video dari para influencer, selebgram atau bahkan teman sendiri menimbulkan rasa iri. Selain itu mereka juga ingin selalu terlibat dalam segala momen yang menyenangkan agar dapat mengabadikan dan mengunggah ke media sosial demi eksistensi diri. FOMO membuat penderitanya menjadi tidak bahagia, stres, bahkan depresi.

Lalu bagaimana caranya agar kita tidak terjangkit FOMO?

Menggunakan media sosial dengan bijak

Menghindari FOMO bukan berarti tidak menggunakan media sosial sama sekali, namun ada baiknya kita membatasi penggunaannya. Kita juga bisa menyaring konten yang muncul dengan cara menyembunyikan atau memblokir hal-hal yang dapat menyebabkan FOMO. Ganti linimasa kita dengan hal-hal yang inspiratif dan menjadikan kita bertumbuh.

Menyadari bahwa media sosial bukanlah kehidupan nyata

Selain itu harus disadari bahwa hal-hal yang ditampilkan di media sosial sudah melalui serangkaian image filter. Umumnya orang cenderung hanya menampilkan hal-hal yang terlihat menyenangkan. Mereka tak pernah memamerkan kesusahan dan kesedihan.

Bersyukur dan merasa Cukup (Qana’ah)

Manusia pada dasarnya bersifat serakah dan tidak pernah merasa puas. Untuk itu penting bagi kita untuk melatih diri agar selalu bersyukur dan merasa cukup dengan segala hal yang kita miliki. Boleh jadi sesuatu yang kita miliki adalah hal yang paling diinginkan oleh orang lain.

Produktif di dunia nyata

Lakukanlah aneka kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga serta masyarakat. Hal tersebut selain dapat menambah amal jariyah, juga dapat memperluas jaringan dan mempererat silaturahmi.

Buatlah standar sukses untuk diri sendiri

Kenali kemampuan diri sendiri dan buatlah target kesuksesan yang masuk akal bagi kita. Setelah itu, nikmatilah setiap proses menuju keberhasilan tersebut. Dengan cara ini kita tidak akan membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain serta terhindar dari rasa frustasi dan depresi karena gagal mengejar target yang tidak sesuai kemampuan.




Ciptakan Sendiri Hormon Serotonin, Si Penstabil Suasana Hati

Sebelumnya

Masuk Pertengahan Tahun, Saatnya Memperkuat Kembali Self-Improvement

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Family