post image
KOMENTAR

KA’BAH senantiasa menjadi daya tarik yang membuat para peziarah terus berdatangan dari berbagai daerah di Semenanjung Arabia. Anugerah yang menguntungkan penduduk Mekah ini kemudian malah menjadi kecemasan mereka.

Kaum musyrikin berupaya mendahului dengan melakuan langkah antisipatif, ruang gerak dakwah Rasulullah haruslah dihalangi, jangan sampai menjangkau para peziarah. Para pemuka Quraisy pun melakukan gerak cepat, jangan sampai agama Islam terus berkembang.

Hanya saja tidak pernah mudah membungkam agama kebenaran, mereka membutuhkan cara keji untuk menghancurkan kredibilitas Nabi Muhammad saw. dan juga sekalian ajarannya. Bukti keseriusan agenda tersebut, dedengkot musyrikin pun urun rembug di rumah al-Walid bin al-Mughirah.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Periode Mekkah; Berdakwah Secara Terang-Terangan dan Faktor Penopang Kesabaran Kaum Muslimin (2021: 7-9) menerangkan:

Lalu al-Walid berkata, “Bersepakatlah mengenai perihalnya (Muhammad) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga membuat sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian lagi menolak pendapat sebagian yang lain.”

Mereka berkata, “Kita katakan dia adalah seorang dukun.”

Walid menjawab, “Tidak! Demi Allah dia bukanlah seorang dukun. Kita telah melihat bagaimana kondisi para dukun sedangkan yang dikatakannya bukan seperti komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para dukun.”

Mereka berkata lagi, “Kita katakan saja, dia seorang yang gila.”

Dia menjawab, “Tidak! Dia bukan seorang yang gila. Kita telah mengetahui esensi gila dan telah mengenalnya, sedangkan yang dikatakannya bukan dalam kategori ketercekikan, kerasukan ataupun was-was sebagaimana kondisi kegilaan tersebut.”

Mereka berkata lagi, “Kalau begitu kita katakan saja, dia adalah seorang penyair.”

Dia menjawab, “Dia bukan seorang pesyair. Kita telah mengenal semua bentuk syair: rajaz, hazaj, qaridh, maqbudh, dan mabsuth-nya sedangkan yang dikatakannya bukanlah syair.”

Mereka berkata lagi, “Kalau begitu, dia adalah tukang sihir.”

Dia menjawab, “Dia bukanlah seorang tukang sihir. Kita telah melihat para tukang sihir dan jenis-jenis sihir mereka, sedangkan yang dikatakannya bukanlah jenis nafts (embusan) ataupun 'uqad (buhul-buhul) mereka.”

Mereka kemudian berkata, “Kalau begitu, apa yang harus kita katakan?”

Setelah berpikir keras, ia pun menjawab, “Sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan mengandung sihir (saking indahnya). Itulah sahirah bayan (perkataan yang memukau atau tukang pukau). Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian merangkai sesuatupun sepertinya melainkan akan diketahui kebatilannya. Sesungguhnya, pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dengan mengatakan bahwa dia tukang pukau yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudaranya dan istrinya. Mereka semua menjadi terpisah lantaran hal itu.”

Sebenarnya pertemuan kalangan pembenci itu malah menyibak keunggulan dan kebenaran Rasulullah saw.

Beliau memang bukan penyihir, penyair, atau pembohong. Nabi Muhammad saw. bukan pula orang gila. Semua tuduhan buruk yang dialamatkan kepada Rasulullah akhirnya mereka sendiri yang membantahnya.

Kendati dalam pertemua itu telah terbantahkan berbagai fitnah kaum musyrikin tetap saja bertekad menjauhkan para peziarah Ka’bah dari jangkauan dakwah Rasulullah.

Namun, apapun jenis fitnah yang mereka siapkan sebagai amunisi membinasakan, tidak berpengaruh apapun terhadap reputasi Nabi Muhammad yang digelari Al-Amin.

Beliau terus saja berdakwah kepada berbagai kalangan tanpa terpengaruh dengan intimidasi pihak musyrikin. Rasulullah yang senantiasa sabar di setiap perlakuan buruk membuat pihak pendengki merumuskan cara yang lebih halus.

Pihak musyrikin paham betul bahwa kekuatan utama dakwah Islam adalah Al-Qur’an. Di mana di berbagai kesempatan Rasulullah saw. senantiasa membacakan ayat-ayat suci, yang benar-benar memukau para pendengarnya.

Berbagai fitnah sudah dilancarkan dengan menyebut ayat-ayat suci itu sebagai syair, igauan orang gila dan sebagainya. Akan tetapi pihak musyrikin Quraisy pun tidak dapat memungkiri kebenaran Al-Qur’an. Mereka tidak mampu mematahkan apalagi mengalahkan ayat-ayat Ilahi. 

Al-Qur’an telah menjadi pesona yang luar biasa, dari itu kaum musyrikin pun merancang cara agar perhatian orang-orang teralihkan. Dan yang tidak boleh luput dari pembahasan adalah bagaimana kaum musyrikin itu memanfaatkan keindahan wanita.

Ya, wanita-wanita biduan itu dimajukan ke depan guna mengalihkan perhatian publik dari keindahan Al-Qur’an. Musyrikin mengincar orang-orang yang tertarik dengan Islam, lalu berupaya mengalihkan perhatian mereka kepada keindahan wanita serta kemegahan dunia yang melenakan.




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah