post image
Ikan kalengan/ Net
KOMENTAR

BANYAKNYA orang yang menyukai aneka sajian masakan ikan membuat bermunculan ide-ide kreatif dalam pengawetan. Harapannya, bahkan manusia yang bermukim di puncak gunung pun tidak perlu bersusah payah pergi ke laut demi menyantap ikan.

Tidak perlu tinggal di tepian laut untuk dapat bersantap berbagai jenis ikan. Salah satu solusinya yang teramat populer adalah ikan kalengan.

Murdijati Gardjito dalam buku Pendidikan Konsumsi Pangan (2014: 89) menerangkan:

Pengalengan ikan merupakan salah satu cara pengawetan ikan. Proses pemanasan yang cukup untuk membuat ikan dalam kaleng steril komersial dilaksanakan dengan cara yang sama seperti pada produk lain yang dikalengkan.

Ikan dapat dikalengkan dengan dalam minyak, saus, air asin, atau tanpa campuran. Ikan yang dikalengkan tentu saja lebih stabil dan awet dalam jangka waktu lama. Ikan yang biasanya dikalengkan antara lain sarden dan tuna.

Kabar-kabarnya ikan sangat bagus bagi kecerdasan otak, berkat Omega yang dimilikinya. Hal ini pula yang turut mendongkrak ketenaran masakan ikan, yang membuatnya kerap dimasukkan ke dalam daftar belanja ibu-ibu.

Taufiq Pasiak dalam bukunya Manajemen Kecerdasan (2006: 91-92) menerangkan:

Minyak ikan kaya dengan Omega-3 yang berguna melenturkan lemak pada dinding sel saraf. Dinding yang lentur akan memudahkan penghantaran informasi antar sel saraf.

Kalau Anda punya bayi di atas 6 bulan, konsumsi ikan dapat membantu pertumbuhan otaknya. Kalau Anda sudah jadi orang dewasa, Omega-3 mencegah Anda menjadi pikun. Karena itu, makanlah ikan secara teratur dengan jumlah yang sesuai.

DHA, salah satu turunan Omega-3, juga terdapat banyak dalam ikan. Ia dapat menebalkan zat kelabu otak. Dengan itu, otak Anda menjadi ready untuk menangkap dan menyimpan informasi sebanyak apa pun. Beberapa penelitian tentang kadar dan jenis ikan yang baik dikonsumsi memang masih kontroversial, tetapi tidak ada yang membantah bahwa ikan segar itu baik bagi tubuh.

Sampai di sini sudah mencukupi alasan untuk menyenangi santapan ikan. Santapan ikan yang masih segar memang lebih dianjurkan, tetapi daripada tidak sama sekali, makanya ikan kalengan pun dapat menjadi pilihan.

Namun, seperti biasanya, konsumen muslim tentu bertanya-tanya perihal kehalalannya. Jangan sampai apa yang disantap itu justru sesuatu yang terlarang dalam agama.

Sekilas tidak akan ada masalah, bukankah ikan tidaklah termasuk yang diharamkan dalam Islam. Akan tetapi, konsumen tidak boleh lengah, sebab ikan kalengan sudah mengalami berbagai proses dan juga diperkaya bahan-bahan tambahan. Ikannya sih halal-halal saja, tetapi berbagai bahan tambahannya itulah yang patut dikritisi.

Mari cermati suatu contoh perkaranya!

Supaya terlihat menggugah selera, rupa-rupanya ikan kalengan ini dikasih pewarna, bisa yang alami dan bisa pula yang sintesis. Inilah salah satu poin yang ramai dikritisi pada produk ikan kalengan.

Reni Wulan Sari dalam buku Dangerous Junk Food (2008: 64-65) menguraikan:

Salah satu contoh pewarna alami yang digunakan dalam pengolahan pangan adalah Xanthaxanthine.

Bahan pewarna yang memberikan warna merah ini diekstrak dari sejenis tanaman. Untuk pewarna tersebut stabil maka digunakan gelatin sebagai bahan pelapis (coating) melalui sistem mikroenkapsulasi. Pewarna ini sering digunakan pada industri daging dan ikan kaleng (ikan sarden).

Di satu sisi penggunaan pewarna sintesis yang tidak proporsional dapat menimbulkan masalah kesehatan. Namun, penggunaan bahan pewarna alami pun jika tidak dilakukan secara hati-hati dapat menjurus kepada bahan yang haram atau syubhat.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi dilema tersebut?

Pilihan terbaik tentu saja tetap pewarna alami, karena ia adalah bahan alam yang tidak menimbulkan efek negatif pada tubuh. Namun, harus diingat bahwa penggunaan bahan tambahan atau bahan penolong semisal pelapis pada pewarna tersebut harus dipilih dari bahan-bahan yang halal.

Kalau harus menggunakan gelatin sebaiknya dengan gelatin yang halal. Bisa juga digunakan bahan lain, seperti maltodekstrin atau karagenan yang lebih aman dari segi kehalalan.

Ikan kalengan jelas sekali produk yang banyak dicampuri bahan-bahan tambahan. Bukan hanya perkara pewarna saja yang rentan dimasuki bahan haram, tetapi juga hal-hal lain juga patut dikritisi. Dan tentulah amat panjang pembahasannya kalau mau diulas satu per satu secara detail.

Dan kembali lagi konsumen muslim amat terbantu, sebab cara termudah dan teraman adalah mencermati logo halalnya yang resmi. Dengan demikian, kita masih nyaman mengonsumsi ikan kalengan dengan memperhatikan faktor kehalalan dan keseimbangan dalam kesehatan.




Menakar Pemanfaatan Urine Unta

Sebelumnya

Alis Tiba-Tiba Rontok dan Tidak Tumbuh Lagi, Bolehkah Melakukan Sulam Alis?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Halal Haram