post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

Kendati Hamzah seorang diri, tapi Abu Jahal mencegah teman-temannya melakukan konfrontasi fisik.

Abu Jahal lebih memilih dirinya menanggung aib daripada masalahnya dengan Hamzah menjadi panjang.

Lagi pula rasa sakit di kepala Abu Jahal menjadi teralihkan oleh kejutan kedua, yakni pernyataan terang-terangan Hamzah yang menjadi pengikut agama Nabi Muhammad saw.

Khalid Muhammad Khalid pada buku Biografi 60 Sahabat Rasulullah (2017: 120-121) menguraikan:

Dalam sekejap, semua orang yang hadir lupa terhadap penghinaan yang dialami oleh pemimpin mereka, Abu Jahal, dan lupa akan darah yang mengalir dari kepalanya. Perhatian mereka tersita kepada kata-kata yang menyambar laksana petir itu.

Kata-kata yang diucapkan oleh Hamzah untuk mengemukakan bahwa dirinya telah mengikuti agama Muhammad. Ia melihat apa yang dilihat Muhammmad dan mengatakan apa yang dikatakan oleh Muhammad. Benarkah Hamzah, seorang pemuda Quraisy yang paling terhormat dan paling kuat, telah masuk Islam?  

Benar, Hamzah telah masuk Islam. Ia pun mengumumkan apa yang selama ini tersimpan di dalam dadanya kepada khalayak ramai. Ia biarkan komunitas yang hina itu menyeret keputus-asaan mereka.

Ia pun biarkan Abu Jahal mengusap darahnya yang mengalir dari luka di kepalanya. Sekali lagi Hamzah mengambil busur panah lalu ia letakkan di atas pundaknya. Selanjutnya, ia menapaki jalan menuju rumahnya dengan langkah yang pasti.

Begitulah langkah hidup seorang ksatria, yang bertindak tegas dan tepat. Sehingga tidak seorang pun yang berani mengusik pilihan hidupnya. Namun, keraguan sempat menghinggapi hatinya, karena Hamzah demikian cepat memutuskan tidak lagi mengikuti ajaran nenek moyangnya. Sebagai manusia biasa, ksatria itu sempat merasakan perang batin.

Khalid Muhammad Khalid (2017: 122) mengungkapkan:

Hamzah menceritakan, “Karena keraguan itu, aku merasakan sesuatu yang besar hingga aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Akhirnya, aku datang ke Ka’bah, berdoa kepada Allah agar melapangkan dadaku untuk menerima kebenaran dan menghilangan segala keraguan dari hatiku.

Allah pun mengabulkan doaku dan membuat hatiku sangat yakin. Aku segera pergi untuk menemui Rasulullah dengan menceritakan hal yang kualami. Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah agar Dia meneguhkan hatiku dalam agama-Nya.”

Demikianlah, Hamzah akhirnya masuk Islam dengan penuh keyakinan. Ia berdiri tegak dan kukuh di barisan terdepan untuk membela Rasulullah dan para sahabat beliau yang lemah.

Keislaman Hamzah termasuk yang paling gemilang tercatat dalam sejarah Islam, mengingat dirinya ksatria yang dapat diandalkan membela Rasulullah dan pengikutnya. Lagi pula keislaman dirinya terbit dari lubuk hati nan suci, bukan atas intervensi siapapun jua.

Dan di balik kehebohan atas keislaman Hamzah, jelas tidak boleh diabaikan peran besar dari seorang budak perempuan. Dirinya yang turut serta membentangkan jalan hidayah kepada ksatria pemberani tersebut.

Begitulah makna airmata seorang wanita, sekalipun dirinya budak belian, tetapi airmata itu mengantarkan kepada cahaya hidayah.

 




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah