post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KHADIJAH adalah pemeluk Islam pertama, sekaligus pula tidak ada yang patut memperdebatkannya. Untuk urutan berikutnya; siapa yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, terjadilah pendapat yang berbeda-beda di antara para ahli.

Sejatinya, perbedaan nomor urut itu bukanlah masalah berarti, sebab yang menjadi fokus pembahasan adalah as-Sabiqun al-Awwalun, yaitu mereka yang dipuji Allah Swt. sebagai golongan yang pertama-tama memeluk agama Islam. Mereka ini telah tercantum dalam sejarah emas Islam, dan masuknya nama mulia orang-orang tersebut tidak terlepas dari pilihan iman di masa yang penuh risiko.

As-Sabiqun al-Awwalun memeluk Islam semata-mata atas alasan keimanan kepada Allah Swt., dan dengan penuh kesadaran menerima berbagai macam ujian, serta teruji ketabahannya dalam menghadapi cobaan hingga siksaan. Dari itulah, siapapun tidak dapat mengingkari jasa-jasa serta pengorbanan tiada tara as-Sabiqun al-Awwalun sejarah dakwah Islam, yang lokomotif terdepannya adalah Khadijah.

Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah (2016: 87-89) menerangkan, Khadijah binti Khuwailid, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar as-Shiddiq. Mereka semua menyatakan keislamannya di awal dakwah Nabi.  

Bekat dakwah Abu Bakar, masuk Islamlah orang-orang berikut: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam bin Khuwailid, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah.

Mereka inilah yang pertama kali menyatakan keislamannya. Bahkan, mereka merupakan kelompok pertama perintis Islam. Pada tahap berikutnya, masuk Islamlah orang-orang lain, seperti:
Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abu Salamah bin Abdullah al-Makhzumi, Arqam bin Abi al-Arqam, Utsman bin Mazh’un al-Jumahi dan dua saudaranya Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin Harits, Sa’id bin Zaid dan istrinya Fathimah  binti Khattab, Khabbab bin Arat, Ja’far bin Abi Thalib, Khalid bin Sa’id bin Ash dan istrinya, Aminah binti Khalaf, Amr bin Sa’id bin Ash, Hathib bin Harits al-Jumahi beserta istrinya, Fakihah binti Yasar, Ma’mar bin Harits, Muthalib bin Azhar az-Zuhri beserta istrinya Ramlah binti Abi Auf, Nu’aim bin Abdullah an-Nuham.

Mereka semua adalah keturunan Quraisy dari berbagai suku dan kabilah. Adapun dari luar suku Quraisy, para pemeluk Islam pertama di antaranya: Abdullah bin Mas’ud, Mas’ud bin Rabi’ah, Abdullah bin Jahsy dan saudaranya Abu Ahmad bin Jahsy, Bilal bin Rabah, Shuhaib bin Sinan, Ammar bin Yasir dan ayahnya Yasir dan ibunya Sumayyah, Amir bin Fuhairah.

Sedangkan pemeluk Islam pertama dari kalangan perempuan selain yang telah disebutkan di atas, di antaranya; Ummu Aiman, Ummul Fadhal Lubabah Kubra bin Harits, Asma binti Abi Bakar.

Orang-orang yang tergolong as-Sabiqun al-Awwalun ini tidak dikeragui lagi kualitas keimanannya, sebab mereka memeluk Islam di tengah kerasnya intimidasi musyrikin Quraisy. Ini jelas sesuatu yang teramat berat. Dan yang patut diapresiasi, betapa banyak kaum perempuan yang mengandalkan kekuatan batinnya menjadi as-Sabiqun al-Awwalun pula.  

Tanpa terbendung, selama ini telah berkembang asumsi kalau penganut agama Islam generasi pertama itu adalah mayoritas mereka dari kalangan dhuafa, fakir, miskin, budak dan orang-orang tertindas, lemah atau dari struktur sosial terbawah. Dengan begitu, seolah-olah as-Sabiqun al-Awwalun memeluk Islam demi motif pembebasan dari himpitan masalah ekonomi dan sosial.

Pandangan ini ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, faktanya pemeluk Islam generasi as-Sabiqun al-Awwalun ini adalah mereka dari kalangan pemuka, orang-orang kaya, serta memiliki pengaruh sosial. Sehingga tidak ada motif ekonomi atau yang sejenisnya, melainkan semata-mata niat tulus ikhlas memeluk agama Islam.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 1 (2012: 143-144) menegaskan:

Ternyata jumlah orang-orang miskin dan lemah yang tergabung dalam kelompok as-Sabiqun al-Awwalun ini hanya berjumlah 13 orang. Jumlah ini, jika dibandingkan dengan jumlah orang-orang yang tergabung dalam kelompok as-Sabiqun al-Awwalun, sangat tidak mungkin untuk dinyatakan sebagai “kebanyakan”, “mayoritas” atau “sebagian besar.”

Jelasnya, mereka yang masuk Islam saat itu sama sekali bukan termotivasi untuk mendapatkan hal yang bersifat duniawi. Jauh dari itu, mereka memeluk Islam didorong oleh keimanan yang Allah telah tumbuhkan di hati mereka.

Mengenai hal ini Shalih asy-Syami menulis:

Kami bukan hendak menafikan bahwa kalangan as-Sabiqun al-Awwalun juga terdapat orang-orang miskin dan lemah, tetapi kami juga tidak terima jika mereka adalah mayoritas dalam kelompok ini. Sebab, hal ini sangat bertentangan dengan fakta yang ada.

Andai memang demikian halnya niscaya gerakan dakwah Islam ini tak ubahnya seperti “perjuangan kelas” yang mempertemukan antara kaum miskin melawan kaum borjuis. Hal ini tak ubahnya seperti umumnya pergerakan yang sekarang ini sedang marak dan yang mudah sekali disulut oleh urusan perut, dan ini bukanlah cita-cita seorang muslim yang mengikrarkan keimanannya.

Mereka itu memeluk Islam karena terdorong rasa persaudaraan akidah yang ada dalam agama ini, kesamaan sebagai manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Sungguh, para pembesar kaum yang tergabung dalam kelompok pertama ini justru merupakan kekuatan yang terus mendorong laju pergerakan dakwah Islam.

Mereka inilah yang banyak mengorbankan diri untuk mempertahankan akidah saudaranya yang lemah. Padahal sebelumnya, mereka sama sekali tidak terbayang untuk memperhatikan atau memikirkan mereka.

Di atas niat yang teramat tulus, dibarengi dengan perjuangan dan pengorbanan, maka orang-orang generasi pertama ini memperoleh penghargaan yang tinggi.

Mereka yang tergolong as-Sabiqun al-Awwalun mendapat kehormatan dalam surat at-Taubah ayat 100, yang artinya, “Dan as-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

As-Sabiqun al-Awwalun memperoleh penghormatan dunia akhirat. Termasuk pula as-Sabiqun al-Awwalun ini mendapat ganjaran surga, sebagai bentuk dari keridaan Ilahi pada mereka.

Pada ayat ini terlihat as-Sabiqun al-Awwalun itu lebih luas lagi, termasuklah mereka dari golongan Muhajirin dan Anshar. Akan tetapi, tidak seluruh kaum Muhajirin dan Anshar itu dapat digolongkan as-Sabiqun al-Awwalun.

Abdurrahman bin Abdul Karim dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad saw. (2016: 240-241) menguraikan:




Dilema Keindahan Wanita

Sebelumnya

Korban Bullying

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah