post image
Seberapa besar dan seberapa banyak dosa hamba-Nya, ternyata pintu taubat itu tetap terbuka lebar/ Net
KOMENTAR

DI MIMBAR itu, seorang pria bertampang sangar menggigil ketakutan. Sementara itu berpasang-pasang jamaah menatapnya, memberikan pandangan yang menyemangati. Dalam kelompok pengajian itu, setiap anggotanya bergiliran memberikan tausiyah, karena nasehat itu dapat datang dari siapa saja.

Pria yang kesehariannya garang bagai harimau, tiba-tiba menjadi seperti kucing di mimbar mushala. Seolah mimbar itu dilanda gempa lokal disebabkan dahsyatnya rasa takut yang melanda dirinya.

Tausiyah macam apa yang dapat disampaikan oleh seorang mantan penjahat, yang sepanjang hayatnya terus menambang dosa demi dosa. Nasehat apa yang hendak disajikannya ketika dalam pandangannya yang terbayang kobaran neraka jahanam.

Bagaimana dirinya yang seorang pendosa akan menunjuki orang-orang kepada kebenaran? Bukankah dirinya telah tersesat jauh, dan bahkan tidak tahu lagi kemana jalan kembali?

Akhirnya, terpancarlah airmatanya dibarengi raungan nan memilukan hati.

Sebelum rubuh dari mimbar itu, dia sempat berkata, “Janganlah berbuat dosa, nanti menyesal!”
Jamaah yang hadir pun tak kuasa menahan airmata yang menitik. Dosa-dosa besar itu telah menjadi beban teramat berat bagi dirinya untuk kembali kepada jalan Tuhan. Dan dirinya tidaklah pantas dicela, karena setiap pendosa berhak kembali kepada Tuhannya.

Intinya, Tuhan juga milik para pendosa.

Belasan tahun berlalu, tausiyah yang supersingkat itu masih terus dikenang. Dan kenangan itu makin melekat dikarenakan airmata penyesalan seorang pendosa. Tausiyah yang menyadarkan mereka untuk menjauhi perbuatan dosa, sekaligus menghargai para pendosa, tentunya yang mau memperbaiki dirinya.

Sebenarnya, Allah telah membuka jalan cinta bagi pendosa, yaitu taubat nasuha.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam bukunya Nashaihul 'Ibad (2022: 75) menerangkan, Ibnu Abbas ra. berkata, “Taubat nasuha adalah menyesali dengan hati dan beristighfar (memohon ampun) dengan lisan serta iqla' (memutus) dengan badan, juga menyimpan tekad untuk tidak mengulang kembali perbuatan yang dilarang Allah Swt.”

Taubat nasuha adalah tidak menyisakan (menetapkan) satu pun bekas perbuatan maksiat dalam amal perbuatannya, baik dalam keadaan samar ataupun terang. Taubat nasuha adalah taubat yang dapat mendatangkan keberuntungan dunia akhirat bagi pelakunya.

Demikianlah jalan taubat nasuha, jalan cinta yang berat dan butuh perjuangan keras. Namun, begitulah Tuhan memberikan kesempatan emas.   

Abdul Nawwarah dalam bukunya Tetes-Tetes Air Mata Taubat (2005: 34) menerangkan, Sa’id bin Jubair mengatakan taubat nasuha adalah taubat yang diterima, dan taubat ini hanya akan diterima jika telah memenuhi tiga syarat, yakni: ada rasa takut bahwa taubatnya tidak diterima, ada harapan bahwa taubatnya akan diterima dan yang ketiga adalah senantiasa taat kepada Allah.

Itulah yang dirasakan pria pada kisah pembuka, yang membuatnya menggigil hebat, ada rasa takut taubatnya tidak akan diterima Tuhan, di samping itu dia terus berharap taubatnya dikabulkan Allah, karena dirinya berupaya keras menaati Tuhannya.

Kecamuk batin itulah yang membuat pendosa merasakan beban luar biasa. Hidup mereka tidak akan pernah mudah karena terus dibayangi dosa-dosa masa lalu dan juga dihantui perasaan dirinya yang kotor.

Sebagai insan yang tentunya juga berlumur dosa, kita hendaknya meneladani kebaikan Tuhan yang tetap memberi kesempatan. Seberapa besar dan seberapa banyak dosa hamba-Nya, ternyata pintu taubat itu tetap terbuka lebar.

Apabila kita mencela jalan taubat para pendosa, sama artinya kita mengecilkan kebaikan dari Tuhan.

Di antara kita ada yang kecanduan kopi, lalu disebabkan terkena penyakit ginjal maka minuman berkafein itu pun dilarang oleh dokter. Pada kenyataannya, beberapa kali kita pun masih minum kopi, karena memang tidak mudah mengakhiri secara total sesuatu yang telah menjadi kebiasaan.

Bayangkan, betapa beratnya bagi seorang peminum menjauhkan dirinya dari khamar atau segala yang memabukkan. Betapa beratnya bagi pecandu narkoba membebaskan dirinya dari barang laknat itu.

Tidak akan pernah mudah membersihkan diri sebersih-bersihnya dari kubangan dosa. Ini bukan sekadar melepaskan diri dari kebiasaan buruk, semisal menghentikan minum kopi bagi yang bermasalah di ginjalnya.

Karena bagi para pendosa, yang berat itu bukan rindu (kepada perbuatan dosa) melainkan rayuan, godaan dan jebakan setan, yang tidak akan pernah henti dalam bermanuver keji.

Dari itulah, tidak bijak jika kita mencela para pendosa yang jatuh bangun berjuang melepaskan dirinya dari kubangan dosa. Mereka tidak butuh cela, melainkan dukungan dan bahkan cinta.  
 

Close X

Firli Bahuri dan Pesan Antikorupsi dari Nabi

Sebelumnya

Umrah Terhadang Omicron; Inikah Rindu Terlarang?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur