Semeru erupsi/ Net
Semeru erupsi/ Net
KOMENTAR

INDONESIA tengah mengalami bencana gunung meletus. Tak hanya Semeru, kabarnya Gunung Merapi di Yogyakarta pun tengah aktif dan mengeluarkan lahar panasnya.

Gunung meletus tidak hanya menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda. Bagi mereka yang selamat, masalah kesehatan harus menjadi perhatian utama.

Penyakit penting yang biasanya datang kepada para korban gunung meletus adalah pneumokoniosis atau P45. Ini adalah penyakit radang paru akut yang terjadi setelah terhirupnya partikel endapan yang terkandung di dalam abu vulkanik. Jika tidak ditangani dengan tepat, dampaknya akan sangat berbahaya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjabarkan dampak apa saja yang terjadi apabila seseorang menghirup partikel dari abu vulkanik, yaitu:

- Salesma.
- Rhinitis.
- Laryngitis.
- Trakeitis.
- Bronchitis.
- Asma.
- PPOK.
- Kanker.
- Silikosis.

Abu vulkanik masih bisa bertahan beberapa waktu di udara setelah letusan. Semakin kecil partikel endapan, semakin jauh masuk ke dalam tubuh, semakin berat dampaknya bagi saluran pernapasan.

Memang saat letusan gejala sesak napas belum terjadi. Namun setelah 1 sampai 2 hari, jika mengalami gejala seperti batuk-batuk, mengi, sesak napas, tidak nyaman saat menarik napas, dada terasa berat, sempoyongan, dan sakit kepala, segera hubungi dokter.

Rekomendasi Penanganan dan Pencegahan Bencana Erupsi Gunung berapi

Berikut ini rekomendasi yang diberikan IDAI dalam menangani dan mencegah penyakit saat terjadi erupsi gunung berapi.

1. Siapkan kit gawat darurat serta rencana evakuasi keluarga.

2. Siapkan kit asma atau PPOK jika punya penyakit tersebut.

3. Segera evakuasi saat ada perintah. Jika tidak memungkinkan, tetap berada di rumah.

4. Periksa kualitas udara di sekitar setiap hari. Aman atau tidak.

5. Jika tetap berada di rumah:

• Tetap ada di rumah hingga debu mengendap. Tutup semua pintu dan jendela, ganjal sela pintu dengan handuk basah, dan solatip sisi jendela.
• Atur AC mode resirkulasi, sehingga udara luar tidak masuk dan udara bersih akan bersikulasi melalui AC.
• Perhatikan anak-anak, orangtua, dan orang dengan penyakit paru karena lebih rentan terhadap asap.

6. Jika berada di luar rumah:

• Gunakan masker debu dengan HRPA-filter (masker N-95 paling direkomendasikan), juga pakaian yang menutupi seluruh tubuh, serta menggunakan pelindung mata.
• Hindari mengemudi. Jika harus, tutup semua jendela dan ventilasi, atur AC mode resirkulasi.
• Jangan berolahraga di luar rumah jika kualitas udara berwarna merah (tidak sehat) atau lebih tinggi.

Rekomendasi Obat-obatan yang Wajib Disediakan

1. Letakkan obat di tempat yang mudah dijangkau. Penting untuk rutin minum obat. Dan obat untuk gejala akut harus tersedia.

2. Jika tidak ada konsumsi obat, tetapi merasa akan membutuhkan, hubungi dokter. Pastikan dapat instruksi jelas apa yang harus dilakukan jika kondisi paru memburuk.

3. Asumsikan bahwa paru akan memburuk, kontak dengan dokter jika kondisi paru semakin memburuk. Jangan dibuat berlarut, apalagi jika kondisi debu di sekitar semakin tinggi.

4. Tanyakan mengenai penggunaan oksigen. Kadar oksigen harus disesuaikan oleh dokter (hubungi dokter sebelum melakukan tindakan apapun).

5. Buat paket perjalanan asma atau PPOK untuk memastikan kamu memiliki semua obat dan petunjuk yang dibutuhkan di suatu tempat dan mudah terjangkau. Saat membuat paket perjalanan, pertimbangkan hal berikut:

- Salinan rencana tindakan asma atau PPOK.
- Resep tambahan jika hilang atau rusak.
- Kartu asuransi dan informasi kontak penyedia layanan kesehatan.
- Obat Pereda cepat/pengontrol.
- Sebuah spacer.
- Peak flow meter.
- Obat alergi.




Lonjakan Kasus COVID-19 di Singapura, Menkes Budi Gunadi Sadikin: Jangan Panik, Tingkat Penularan dan Angka Kematian Sangat Rendah

Sebelumnya

Tegaskan Kenaikan UKT Hanya untuk Mahasiswa Baru, Nadiem Makarim: Yang Lebih Mampu Bayar Lebih Besar, Yang Tidak Mampu Bayar Lebih Sedikit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News