post image
KOMENTAR

BULAN Oktober digaungkan sebagai Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara di seluruh dunia. Tujuan dari kampanye ini adalah menumbuhkan kesadaran perempuan untuk SADARI (PerikSA PayuDAra SendiRI) dan SADANIS (PemerikSAan PayuDAra KliNIS) sebagai cara mendeteksi dini risiko kanker payudara.

Kanker payudara menurut data Global Cancer Observatory tahun 2020 disebut sebagai kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia dan menjadi nomor dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Meski demikian, teknologi pengobatan untuk kanker payudara disebut-sebut yang paling maju di antara pengobatan kanker lainnya. Hal itu berdampak pada tingginya angka kesembuhan pada pasien kanker payudara.

Deteksi Dini Pengaruhi Tingkat Kesembuhan

Berapa besar kemungkinan pasien kanker payudara untuk sembuh?

"Kanker payudara memang masih menjadi kanker nomor satu yang paling banyak diderita perempuan. Sampai saat ini masih belum ditemukan seperti vaksin untuk pencegahannya. Sebenarnya tergantung dari bagaimana pasien pertama kali ke dokter. Semakin dini pasien datang dengan kanker payudara, tentunya semakin bisa disembuhkan. Makanya kita berharap perempuan menemukan masalah kanker payudara pada stadium dini. Itu yang paling penting. Stadium dini, maka harapan hidupnya akan semakin tinggi," ujar dokter spesialis bedah onkologi RSCM sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. dr. Diani Kartini Sp.B(K)Onk dalam ZoomTalk Farah.id bertema "Jangan Takut, Kanker Payudara Bisa Sembuh, Kok!", Senin (11/10/21).

Menurut dr. Diani, hingga saat ini sebenarnya masih terus dilakukan penelitian untuk menemukan obat baru, tak hanya untuk kanker payudara tapi juga untuk kanker lainnya. Namun karena kanker payudara jumlahnya sangat banyak—tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia—terkesan yang tersorot hanya penemuan obat baru kanker payudara.

Untuk menentukan stadium kanker payudara, dokter akan memeriksa ukuran tumor, keterlibatan kalenjar getah bening, dan ada tidaknya penyebaran jauh.

Pada tahap stadium dua misalnya, ukuran tumor terbilang masih kecil yaitu di bawah 2 cm. (Selanjutnya) ada 2 – 5 cm, dan di atas 5 cm. Ada pula yang tidak memperhitungkan ukuran tapi sudah memperlihatkan keterlibatan kulit, misalnya ada kulit jeruk atau luka, kondisi itu menunjukkan stadium yang lebih tinggi.

Sedangkan pada stadium 0, tumor boleh jadi tidak teraba. Tapi pada gambaran di mamografi terlihat bintik-bintik yang disebut perkapuran mikro. Barulah kemudian dilakukan biopsi untuk memastikan apakah tumor tersebut bersifat ganas atau tidak.

Butuh Empati dan Ketenangan

Dari pengalaman para pejuang maupun survivor kanker payudara, mereka mengatakan dunia bagaikan runtuh setelah mendengar diagnosis kanker payudara yang dikatakan dokter. Banyak dari mereka tidak percaya, syok, hingga mengingkarinya.

"Ini berkaitan dengan teknik komunikasi, bagaimana kita memberikan berita yang tidak kepada pasien. Kalau saya pribadi, kita harus empati dengan apa yang orang lain rasakan. Kita harus pelan-pelan menjelaskan kepada pasien tentang kondisi penyakitnya, mulai dari timbulnya kecurigaan (sebelum diagnosis) hingga keluarnya hasil biopsi. Banyak tipe pasien, ada yang bisa menerima bahwa ini adalah suatu cobaan, ada pula yang denial-nya cukup tinggi. Untuk yang kedua, kita harus lebih pelan dan bisa melibatkan psikiater untuk menenangkan. Pasien yang tenang akan membantu pengobatannya," kata dr. Diani.

Berjuang Melawan Kanker Payudara

Jika memang harus menjalani operasi, dr. Diani menganjurkan untuk memeriksakan diri setidaknya enam bulan sekali setelah operasi. Kontrol penting untuk memastikan kondisi terkini hasil operasi, mengingat kanker memiliki kecenderungan untuk 'timbul tenggelam' dalam waktu yang tidak bisa dipastikan.

Demikian pula ketika seorang pasien sudah menjalani operasi kanker payudara kemudian menjalani serangkaian kemoterapi, dan ternyata ditemukan ada benjolan lain. dr. Diani menyarankan untuk kontrol ke dokter dan menjalani pemeriksaan USG atau mamografi untuk memastikan apakah tumor tersebut jinak atau ganas. Jika ternyata ganas, hal itu bisa mengindikasikan kemoterapi yang tidak respons.

Terkait efek kemoterapi, dr. Diani mengatakan hal itu dipengaruhi obat yang digunakan untuk kemoterapi. Banyak obat kemoterapi yang berpengaruh pada pembuluh darah hingga menyebabkan keluhan berupa kebas atau kesemutan pada ujung jari yang terjadi dalam waktu lama.

3 Langkah SADARI

Untuk deteksi dini kanker payudara, dr. Diani menjelaskan teknik SADARI yang mudah dilakukan di rumah. SADARI dilakukan satu minggu setelah hari pertama menstruasi.

Pertama, berdiri di depan cermin dengan kedua tangan di samping badan. Perhatikan apakah ada perbedaan di antara dua payudara. Misalnya, posisi puting tidak sejajar, salah satu payudara terangkat, atau apakah ada seperti kulit jeruk di area payudara.

Kedua, angkat kedua tangan ke atas kepala lalu perhatikan lagi area payudara. Jika ingin memeriksa payudara kiri, angkat tangan kiri lalu gunakan tangan kanan, dan sebaliknya. Rabalah payudara dengan seksama searah jarum jam untuk merasakan ada/ tidaknya benjolan. SADARI lebih mudah dilakukan saat mandi ketika tubuh dalam keadaan basah (licin).

Ketiga, pencet puting untuk melihat apakah ada cairan yang keluar (bukan ASI)

Perhatikan Pola Makan

Pengobatan kanker payudara yang ada selama ini seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, dan terapi target pada prinsipnya memanfaatkan mekanisme apoptosis (kematian sel yang terprogram) sehingga sel kanker diharapkan tidak berkembang.

Kiat Bertahan 14 Tahun ala Srie Firman: Temukanlah Sahabat untuk Berbagi Rasa dan Membantumu Berdiri Tegak

Sebelumnya

Jangan Buang Bahan-bahan Makanan di Kulkas! Kirin #SisaBisa Bisa Jadi Solusinya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health