post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

SAAT ini ragam jenis vaksin di Indonesia sudah mulai beragam. Mulai dari Aztraseneca, Sinovac, Moderna hingga Phizer.  

Yang terbaru, vaksin Jhonson & Jhonson akan segera masuk ke Indonesia. Berbeda dengan vaksin lainnya yang harus diberikan sebanyak dua kali, untuk vaksin Jhonson & Jhonson  buatan Belanda atau yang kerap disebut vaksin JnJ atau vaksin Janssen ini hanya diberikan satu kali.

“Akan masuk vaksin-vaksin lainnya. JnJ akan masuk, dia seperti Aztra Seneca tapi hanya satu kali suntik saja. Bisa dipikirkan  untuk daerah-derah terpencil, daerah-daerah yang sulit terjangkau, karena tidak harus bolak-balik,” ujar Prof. Dr. Iris Rengganis, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi IDI/pakar Imunisasi dalam diskusi virtual Siapa Saja Yang Belum Boleh Divaksinasi Covid19?  beberapa hari lalu.

BPOM sendiri, melalui ketuanya, Penny Lukito menerangkan bahwa Vaksin Janssen digunakan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas dengan pemberian sekali suntikan atau dosis tunggal sebanyak 0,5 mL secara intramuscular.

Dalam hal efikasi, berdasarkan data interim studi klinik fase 3 pada 28 hari setelah pelaksanaan vaksinasi, efikasi vaksin Janssen untuk mencegah semua gejala Covid-19 adalah sebesar 67,2 persen.

Kemudian efikasi untuk mencegah gejala Covid-19 sedang hingga berat pada subjek di atas 18 tahun adalah sebesar 66,1 persen.

Ditanya tentang efektivitas dan mana yang lebih baik untuk Covid, Iris menyebutkan semuanya baik.

“Semuanya baik, semuanya membentuk antobodi dan semuanya sudah mendapat ijin BPOM. Jadi nggak bisa dibilang mana yang kebih bagus. Seiring dengan jalannya waktu, setelah satutahun nanti baru bisa terlihat efektifitasnya dan nanti semua farmasi-farmasi akan menyesuaikan dengan kemajuan-kemajuan yang ada pada saat ini.

Lebih lanjut Iris menggatakan mungkin nanti vaksin-vaksin ini akan berkembang sperti vaksin influenza. Dimana nanti pandemi akan jadi endemis. Dan nantinya vaksinnya akan disesuikan lagi dengan mutasi dari virus influenza.

“Jadi vaksin itu penting untuk mencegah kematian, mencegah perawatan di RS. Meski sudah divaksin penularan bisa terjadi, jadi tetap harus menggunakan masker,” demikian Prof. Iris.

 

 

 

 

 

 

Masih Berpeluang Munculkan Klaster Baru, Waspadai Titik Lengah Sekolah Tatap Muka

Sebelumnya

Hari Cuci Tangan Sedunia, 64 Juta Orang Belum Memiliki Akses Cuci Tangan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News