Desy Ratnasari/FARAH
Desy Ratnasari/FARAH
KOMENTAR

TAMPIL sempurna bagi seorang figur publik adalah sebuah keharusan. Terlebih bagi mereka yang berkecimpung di dunia hiburan, tampil tanpa cela menjadi tuntutan masyarakat yang mengidolakan mereka.

Salah satu artis senior yang mereguk popularitas di era 90-an dan masih eksis hingga saat ini adalah Desy Ratnasari. Perjalanan Teh Desy, biasa ia disapa, di dunia hiburan Tanah Air berawal dari keberhasilannya menjadi juara 2 Gadis Sampul tahun 1988.

Olga dan Sepatu Roda, Si Kabayan, juga Jendela Rumah Kita dan Bukan Perempuan Biasa menjadi empat di antara puluhan judul film dan sinetron yang menjadi bukti kepiawaian akting Teh Desy.

Yang terbaru, di tahun 2021, Teh Desy tercatat membintangi dua judul film dengan genre berbeda. Yang pertama adalah Buya Hamka, yang diangkat dari sejarah kehidupan tokoh bangsa asal Minang, HAMKA. Sedangkan yang kedua adalah film bergenre komedi, Keluarga Pak Slamet, yang juga dibintangi aktor dan aktris lintas generasi seperti Widyawati, Indro Warkop, dan Onadio Leonardo.

Tak hanya sukses mempertahankan eksistensinya di dunia hiburan, Teh Desy juga sukses meniti karier di dunia politik. Ia terpilih menjadi anggota DPR RI selama dua periode. Sosoknya yang cerdas dan pekerja keras terbilang 'vokal' di DPR. Melihat kompetensi dan dedikasinya sebagai wakil rakyat, tak heran Teh Desy terpilih menjabat Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Barat.

Dalam hadir di Dede Yusuf Channel, Teh Desy ditanya tentang resepnya untuk bisa tampil sempurna di depan masyarakat. "Saya justru semakin tua semakin menampakkan bahwa saya tidak sempurna," ujar Teh Desy.

Ia mencontohkan dalam urusan parpol, ia tak segan untuk mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa ia adalah sosok yang cerewet, tegas, bahkan cenderung galak. "Kalau dulu (saat masih muda) jadi artis itu masih punya banyak energi untuk menampilkan yang terbaik. Tapi sekarang, semakin tua, terlebih dalam dunia politik, saya lebih senang menampilkan apa adanya diri saya," katanya lagi.

Meski demikian, Teh Desy tak menampik jika "tampil apa adanya" bukan lantas boleh sembarangan bersikap. Karena bagaimana pun juga ada orang lain yang memiliki perasaan, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda. Karena itu ia juga mesti beradaptasi dan memiliki empati terhadap perbedaan itu.

Menurut Teh Desy, paradigma perfeksionis yang selama ini melekat di dirinya pada akhirnya berubah menjadi naturalis. Dalam arti, ia menampilkan diri apa adanya dan tidak memaksakan orang lain untuk menyukainya. Dan yang terpenting, tidak ada orang yang dirugikan dengan sikapnya.

Demikian pula ketika dulu ia sering mengatakan "no comment" kepada awak media karena enggan mengomentari berbagai isu, sekarang setelah menjadi anggota DPR, Teh Desy menyadari hal itu tidak bisa ia lakukan.

Teh Desy mengakui dulu memang ada 'standar' yang menuntutnya tampil glamor demi mempertahankan nama besar. Namun saat ini, setelah menjadi wakil rakyat, ia bersyukur bisa tampil lebih sederhana. Bahkan tak jarang muncul rasa malu jika mengenakan barang-barang branded.

Mengomentari sosok Desy, lawan main mainnya di Jendela Rumah Kita, Dede Yusuf menilai bahwa untuk move on dan memperbaiki diri, seseorang harus peduli dengan orang lain. Kalau dulu Desy peduli dengan diri sendiri, ingin menjadi seseorang yang terlihat keren, tapi sekarang Desy melihat ada orang lain, ada saudara-saudara yang lain.

Dede Yusuf juga mengatakan sebuah kalimat bijak, "Semakin kita memperhatikan kesulitan orang lain, semakin kita lupa akan kesulitan kita."

Kalimat tersebut menurut Teh Desy bisa jadi benar. "Dengan memperhatikan orang lain, kita menjadi bernilai bagi diri kita dan itu yang membuat kita bertahan sebagai individu, yang membuat diri kita menjadi berarti sebagai individu," ungkapnya.

Perempuan kelahiran Sukabumi, 12 Desember 1973 itu tak menampik jika kepentingan diri sendiri menjadi nomor satu saat dulu berada di puncak popularitas karier keartisannya. Namun kini, setelah menjadi wakil rakyat, ada tanggung jawab lebih (tanggung jawab dunia dan akhirat) yang harus ditunaikan.

Meski demikian, dunia keartisan diakui Teh Desy sebagai penyeimbang dalam hidupnya. "Urusan politik membuat hati berpikir tentang persaingan, meraih kepentingan, yang juga dibarengi dengan upaya memikirkan kepentingan rakyat dan memikirkan humanisme di saat reses."

"Sedangkan jadi artis itu membuat kita merasakan ada dunia lain. Dunia kolaborasi, kerja sama yang guyub, yang tidak memperhatikan 'siapa kamu', bisa makan nasi kotak bareng semua (pemain-kru) sambil duduk di mana saja...perasaan semacam itu yang tidak saya dapatkan di DPR. Menurut saya, dunia yang berbeda ini membuat diri saya lebih utuh dan memahami bahwa saya punya kelebihan dan kekurangan," ujar perempuan yang dianggap sebagai ikon kecantikan wajah Indonesia asli ini dengan bijak.




Bryan Domani dan Dian Sastrowardoyo Ditunjuk sebagai Duta FFI 2024, Kolaborasi Lintas Generasi yang Inspiratif untuk Merandai Cakrawala Sinema Indonesia

Sebelumnya

Kim Ji Won Gelar Fan Meeting Perdana di Jakarta, 2000 Tiket “Be My One” Diprediksi Bakal Segera Sold Out

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Entertainment