post image
Ibadah haji di masa pandemi/ Net
KOMENTAR

SUDAH dua kali edisi ibadah haji kaum muslimin Indonesia khususnya tidak dapat menatap Baitullah. Mudah ditebak, penyebabnya adalah pandemi yang kian merebak.  

Jangan heran jika kini orang-orang malah jadi saling bertanya, kapan sih Idul Adha? Tidak ada yang salah sih, sebab selama ini jauh-jauh hari kita telah mengetahui Idul Adha dengan kemeriahan persiapan pemberangkatan jamaah haji. Kita sudah terbiasa dengan semaraknya walimatus safar bagi para tamu Allah itu. Ketika kemeriahan itu tiada, maka seperti ada yang kurang dalam nuansa Idul Adha, hingga ada yang nyaris terlupa.

Itu artinya, dengan dua kali peniadaan, maka sekitar 221.000 calon jamaah haji Tanah Air terpaksa mengurungkan niat sucinya. Itu jumlah kuota haji dalam satu tahun ya. Kalau kini sudah dua kali edisi ibadah haji ditiadakan, maka silahkan hitung sendiri jumlahnya yang kian membengkak. Jumlah calon jamaah haji dari Indonesia saja sudah demikian dahsyat, apalagi sedunia.

Akibat dua kali peniadaan itu daftar tunggu haji di Indonesia semakin panjang, di beberapa daerah para calon tamu Baitullah itu harus antri lebih dari 11 hingga 31 tahun. Untuk bilangan tahun yang banyak itu, penantian mereka memang tergolong luar biasa.

Mungkin sabar menanti bisa diperjuangkan, akan tetapi siapa yang dapat menakar usianya sendiri. Dapat dibayangkan, banyak di antara calon jamaah haji itu yang penantiannya berujung dengan sekadar harapan, karena terburu ajal datang menjemput.

Dalam percaturan pemikiran macam ini, maka akan terasa ngilu di hati mereka yang demikian lama menanti itu, tatkala ada sejumlah orang yang telah berangkat haji tetapi masih mau menambah lagi.

Bagus-bagus saja sih animo yang demikian besar dalam ibadah, terlebih lagi haji merupakan rukun Islam ke lima, yang menyempurnakan rukun-rukun lainnya. Namun, keadilan sosial perlu ditegakkan dalam perkara ini, agar niat menyempurnakan rukun Islam itu dapat digapai pula oleh kaum muslimin lainnya.

Dan yang jarang diketahui publik, ternyata Nabi Muhammad hanya berhaji satu kali saja. Ya, satu kali, meskipun jarak Madinah ke Mekkah tidak sejauh jarak Indonesia ke Arab Saudi, sekalipun di masa itu jamaah haji belum sepadat sekarang.

Hal ini di antaranya diungkapkan oleh Zaid bin Arqam yang berkata, “Nabi Muhammad saw. berperang sembilan belas kali, dan berhaji sesudah hijrah hanya satu kali, yaitu haji Wada.” (HR. Bukhari) (dikutip dari Muhammad Fu’ad Abdul Baqi dalam bukunya Hadis Shahih Bukhari–Muslim Bab Haji)

Sebetulnya kesempatan berhaji cukup terbuka lebar bagi beliau, tatkala musyrikin Quraisy yang ketika itu menguasai Mekkah membuka peluang bagi kedatangan jamaah haji dari Madinah. Akan tetapi dengan bijaksana Nabi Muhammad menyerahkan pimpinan jamaah haji kepada Abu Bakar.

Barulah di edisi berikutnya, Rasulullah naik haji bersama hampir seratus ribu jamaah, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan haji Wada, karena setelah itu beliau pun meninggal dunia.

Para ulama pun mengemukakan berbagai dalil bahwa kewajiban berhaji itu hanya satu kali, bagi yang memiliki kemmpuan tentunya. Satu kali sudah cukup, sebagaimana baginda Nabi Muhammad mempraktikkannya.

Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam bukunya yang fenomenal Fikih Empat Madzhab Jilid 2 menerangkan, dalil bahwa kewajiban melaksanakan haji itu hanya satu kali seumur hidup adalah sabda Nabi Muhammad saw., “Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan atas kalian untuk melaksanakan ibadah haji, oleh karena itu maka laksanakanlah ibadah tersebut.”

Lalu seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw., “Apakah harus dilakukan setiap tahun wahai Rasulullah?”

Nabi saw. hanya terdiam saja, hingga sahabat tersebut mengulang pertanyaannya sebanyak tiga kali barulah beliau menjawab, “Apabila aku menjawab ya, maka hukumnya wajib, dan kalian tidak akan sanggup untuk melaksanakannya.”

Begitulah kebijaksanaan beliau, terkait visi yang jauh ke depan. Apakah kita sanggup menunaikan haji berkali-kali? Kalaupun sanggup secara harta, tapi apakah hati kita sanggup melihat kaum muslimin lainnya tidak bisa merealisasikan rukun Islam yang kelima itu?  

Ada kisah-kisah mengharukan di balik kemuliaan hati muslim yang punya kepekaan sosial. Seorang pak haji yang kaya raya, yang menahan dirinya cukup berhaji satu kali saja. Dan hartanya yang berlebih itu disumbangkan oleh pak haji untuk orang-orang yang tak mampu.

Dan dia pun merasakan kebahagiaan yang menakjubkan. Dulu dia bahagia sekali berangkat haji, kini ia tak kalah bahagia melepas jamaah haji yang diongkosinya, meski orang-orang tidak banyak mengetahui kemuliaannya itu. Begitulah keindahan Islam yang menyatukan umatnya bagaikan satu tubuh, yang artinya juga satu hati.
 

Jangan Pernah Menyerah, Ada Hikmah di Balik Musibah

Sebelumnya

Mendadak Yatim

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Islam