Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

SEPUCUK surat itu membuat tangis haru Umar bin Khattab pun pecah. Terlebih dahulu dia telah berkirim surat, meminta Abu Ubaidah al-Jarrah segera pergi meninggalkan Syam. Negeri yang indah itu sedang diserang wabah Awamas yang mengerikan.

Penting sekali bagi Khalifah Umar bin Khattab agar Abu Ubaidah al-Jarrah segera menyelamatkan diri. Lelaki itu adalah harapan terbesar untuk menjadi khalifah berikutnya, alih-alih menyiapkan puteranya, Umar bin Khattab memilih jujur dengan potensi sahabatnya.

Abu Ubaidah adalah paket komplit, dia lelaki saleh, cendikia pintar, panglima genius, dan sosoknya disukai oleh berbagai pihak, tepatnya dia adalah sosok pemersatu umat. Pada berbagai kondisi genting terbukti pula kematangan jiwa kepemimpinannya.

Sepucuk surat balasan sampai kepada Umar bin Khattab, Abu Ubaidah memilih bertahan bersama rakyatnya di Syam, sekalipun nyawa taruhannya. Dia memang pemimpin sejati, dan tumpahlah airmata Khalifah Umar.

Sepucuk surat dikirim lagi, Umar masih berharap keselamatan bagi kandidat khalifah masa depan. Seperti yang disebutkan oleh Muhammad Husain Haikal, pada buku berjudul Umar bin Khattab, maka sang khalifah menyarankan, “Kamu menempatkan mereka di tanah tandus. Pindahkanlah mereka ke tanah yang lebih tinggi dan lebih sehat.”

Surat yang berisikan trik menghindari pandemi datang terlambat, karena jauhnya jalur darat dari Madinah ke Syam. Saran itu tidak dapat dilaksanakan karena Abu Ubaidah al-Jarrah akhirnya terkena wabah hingga meninggal dunia. Berita ini tak terkira lara yang mengguncang kalbu Umar bin Khattab.

Wabah yang bermula dari Palestina dan menyebar ke Syam dan juga Irak itu membuat 25 ribu jiwa meninggal dunia. Kerugian terasa memilukan karena disertai dengan wafatnya tokoh-tokoh penting beserta keluarganya.

Haris bin Hisyam memboyong 40 orang keluarganya dari Madinah menuju Syam, karena datangnya pandemi, hanya tersisa empat orang saja yang masih hidup. Panglima tangguh Khalid bin Walid mengalami kemalangan yang berat ketika semua anaknya meninggal dunia. Muaz bin Jabal yang menggantikan jabatan Abu Ubaidah di Syam juga wafat.

Ketika itu belum dikenal vaksin, ilmu kedokteran belum secanggih sekarang, pakar pandemi pun belum sehebat masa kini, apalagi peralatan rumah sakit yang belum modern. Namun dengan kecerdasannya, Umar memahami pentingnya karantina atau isolosi atau lockdown atau memisahkan orang-orang yang sehat dengan yang terpapar.

Sehingga Amru bin Ash maju sebagai pemimpin selanjutnya di Syam lalu menunaikan petunjuk Umar bin Khattab. Dia berkata, “Penyakit ini jika telah menyerang, menyala laksana api. Baiklah, kita berlindung dari penyakit ini dengan pergi ke gunung-gunung.”

Alhamdulillah, trik jitu Umar bin Khattab terbukti manjur, wabah itu pun menghilang, tetapi meninggalkan kehancuran parah.

Khalifah Umar bin Khattab langsung mendatangi Syam dan melihat kebinasaan melanda negeri itu. Ekonomi yang morat-marit, banyak pejabat yang wafat berakibat macetnya pelayanan masyarakat.

Syam nyaris lumpuh total meski pandemi telah pergi. Dengan jeli Umar menyadari pula lumpuhnya negeri Syam amatlah berisiko, karena dapat mengundang serbuan invasi pasukan Romawi.

Khalifah Umar memutuskan untuk menetap lebih lama demi memulihkan kondisi Syam. Dia menggerakkan kembali pelayanan publik dengan menunjuk pejabat-pejabat pemerintahan yang berkompeten. Bantuan pun diserahkan merata kepada seluruh korban dan keluarganya.

Banyaknya orang yang meninggal dunia malah memunculkan pertikaian akibat dari perebutan hak warisan, dan Khalifah Umar langsung menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Dan tidak lupa kekuatan pasukan muslimin kembali dipulihkan sehingga dapat menangkal kemungkinan serangan dari kerajaan-kerajaan lain.

Khalifah Umar terus berkeliling negeri Syam demi menyelesaikan berbagai permasalahan akibat bencana pandemi. Ketika perekonomian telah pulih dan segalanya berjalan dengan normal, barulah Khalifah Umar berpamitan pulang ke Madinah.

Maka terjadilah perpisahan yang mengharukan, di mana rakyat Syam akan senantiasa merindukan khalifahnya. Acara perpisahan dilakukan dengan shalat berjamaah. Muazin kesayangan Rasulullah, Bilal bin Rabah yang mengumandangkan panggilan azan, sehingga khalifah Umar dan penduduk Syam berlinangan airmata.
          

 




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur