Pementasan wayang Purbo Asmoro/Net
Pementasan wayang Purbo Asmoro/Net
KOMENTAR

Tapi itu juga membuat Ki Purbo terasa sangat "priayi". Humor-humornya intelek. Tidak bisa sebebas dan senakal seperti Seno Nugroho. Dialog-dialog antar-tokohnya juga bisa dianggap kurang "liar". Kurang bisa menyatu dengan penonton masa kini.

Tapi itulah memang Ki Purbo. Yang sosoknya juga sangat priayi. Yang mungkin ia-lah kini menjaga wayang kulit lengkap dengan warna sastranya.

Saya lagi mencari buku yang ditulis peneliti Amerika Serikat dua tahun lalu. Peneliti itu, Kathryn Emerson, menulis buku tentang Purbo Asmoro.

Kathryn, asal Michigan, kini bergelar doktor. Dia mempelajari gamelan Jawa di Solo. Bahkan sampai bisa ngendang –membunyikan kendang, instrumen tersulit di gamelan.

Kathryn rupanya jatuh cinta ke instrumen kendang –kemudian jatuh cinta pula ke pria Solo di belakang kendang tersebut: Wakidi Dwijo Martono. Dia pun kawin dengannya. Kini Kathryn bekerja di Jakarta. Setelah pensiun nanti akan menetap di Solo.

Saya sudah berkomunikasi dengan Kathryn. Dia lagi sibuk mengerjakan penerjemahan pertunjukan wayang kulit ke dalam bahasa Inggris. Dengan demikian akan ada teks Inggris di layar YouTube kelak. Yang diterjemahkan oleh orang yang sangat mengerti wayang dan sangat –tentu saja– menguasai bahasa Inggris.

Sesekali Kathryn ikut menjadi sinden di pementasan Ki Purbo atau Seno Nugroho.

Ki Purbo sudah pernah pula ke kampung Kathryn di Michigan. Ia mendalang di sana –di dalam gedung. Sudah berkali-kali Ki Purbo pentas di Amerika. Di berbagai kota di sana. Ia juga pernah pentas di Inggris, Austria, Jepang dan banyak negara lainnya.

Kesenimanan Ki Purbo juga terlihat dari bagaimana ia menyikapi Covid. Ketika berkerumun dilarang. Jarak harus dijaga. Tinggal pun di rumah saja.

Di awal pandemi itu Ki Purbo kelihatan sedih sekali. Terutama ketika melihat begitu banyak yang ikut menggantungkan hidup padanya.

"Mengapa terjadi pandemi. Kapan pandemi berakhir". Pertanyaan itu mengusik batinnya. Maka kesenimanan Ki Purbo muncul. Ia ingin mendalang. Di rumahnya. Sendirian. Tanpa gamelan. Tanpa sinden. Tanpa siapa-siapa.

Betapa sepinya. Betapa sunyinya. Betapa mengiris-iris hatinya.

Malam itu Ki Purbo tetap mengenakan pakaian dalang. Lengkap dengan blangkon dan kerisnya. Resmi sekali. Seperti layaknya akan pentas besar. Bahkan ia juga membawa sesajen. Dengan tokoh wayang Betari Durga yang dibungkus kain putih.

Ia sadar adegan sesaji itu bisa dikecam kalangan agamawan garis jingga. Maka ia jelaskan: sesajen itu bukan untuk dipersembahkan kepada setan. "Setan tidak makan buah-buahan," katanya.

Sesajen itu ia maksudkan sebagai rasa syukur. Bahwa di tengah pandemi ia masih hidup. Masih segar. Masih bisa mendalang.

Meski harus sendirian.

Mendalang itu harus mengerjakan banyak tugas: tangannya, kakinya, mulutnya dan bibirnya. Malam itu Ki Purbo masih menambah satu pekerjaan lagi untuk dirinya. Ia taruh alat musik "gender" di depannya –instrumen yang juga sulit. Ia akan mendalang sambil menggender. Juga sambil menabuh gendang –suara gendang itu diwakili suara di mulutnya.

Kalau tidak ada pandemi tidak mungkin ada dalang melakukan itu. Saking inginnya tetap berkarya di masa pandemi Ki Purbo melakukan apa pun yang mungkin dilakukan.

Kehadiran gender itu ternyata sangat mewarnai. Tapi Ki Purbo harus membagi tangannya. Kapan menggerakkan wayang, kapan menabuh gender.

Saya begitu terharu melihatnya di YouTube.

Malam itu Ki Purbo memainkan lakon "Sudomolo". Hanya ada satu orang "lain" di situ. Yakni anaknya nomor dua. Yang memegang kamera. Untuk live streaming.

Lakon "Sudomolo" sendiri dipilih karena kontekstual: itu adalah doa dari Ki Purbo agar pandemi segera lenyap.

Itu dilambangkan tokoh Betari Durga di lakon itu. Yang asalnya adalah bidadari cantik di alam kedewaan. Karena berbuat jahat dia jadi raksasa wanita yang buruk. Dia juga jadi pembawa segala bencana di alam dunia.

Setelah puluhan tahun menjalani hidup sebagai raksasa, Durga ingin kembali menjadi bidadari. Agar dunia bisa kembali tenteram. Satu-satunya yang bisa "meruwat" Durga adalah si bungsu Pandawa, Sadewa.

Maka berkat kesakitan Sadewa, Durga pun bisa kembali jadi bidadari yang cantik.

"Itu lakon kreasi Anda sendiri atau sesuai dengan pakem pewayangan?" tanya saya.

"Itu ada di kitab sastra Sudomolo karya sastrawan Agung Prof Dr Raden Mas Purbatjaraka," ujar Ki Purbo. Yang lahir tahun 1884.

Tanpa gamelan dan sinden, seorang dalang ternyata tetap bisa tampil mengharukan. Hanya saja ketika adegan perang memang terasa tidak serunya. Sepi.

Apa pun, setidaknya pandemi telah memaksa segala macam kreasi terlahirkan.

Lalu jadilah kehidupan baru: dalang virtual. Dalang YouTube. Dengan penonton puluhan sampai ratusan ribu orang.

Dulu seorang dalang hanya mengenal dunia mayapada. Kini mereka harus mendalang di dunia maya.




Cerita Pengalaman Vloger asal China Menginap di Hotel Super Murah Hemat Bajet

Sebelumnya

Muara Yusuf

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway