post image
Selama ini, pasangan Obama dan Michelle menutup rapat kerikil rumah tangga mereka, membiarkan kita percaya bahwa mereka adalah pasangan sempurna. Tapi tak ada yang menyalahkan mereka/ Foto: Net
KOMENTAR

"TO Michelle—my love and life's partner." Itulah dedikasi yang ditulis Barack Obama dalam memoar terbarunya, A Promised Land.

Pernikahan 28 tahun Barack Obama dan Michelle Obama telah mengalami berbagai fase. Dari rakyat biasa, menjadi penghuni Gedung Putih selama delapan tahun, hingga kini menjalani hidup sebagai mantan presiden dan ibu negara.

Satu bulan setelah meninggalkan Gedung Putih di tahun 2017, Obama menulis bahwa ia dan Michelle memiliki kesempatan untuk tidur lebih malam, lebih banyak makan malam santai, berjalan-jalan semau mereka, berenang di laut, berbelanja. Juga memperkuat persahabatan mereka, menggetarkan kembali cinta mereka, dan merencanakan berbagai hal 'remeh temeh' yang menyenangkan.

Selama ini, pasangan Obama dan Michelle menutup rapat kerikil rumah tangga mereka, membiarkan kita percaya bahwa mereka adalah pasangan sempurna. Tapi tak ada yang menyalahkan mereka.

Menjalankan peran penuh tekanan sebagai presiden pertama dan ibu negara pertama berkulit hitam di Amerika, mereka tentu memilih menjadikan urusan rumah tangga sebagai privasi.

Meski demikian, dalam dua memoar, Becoming dan A Promised Land, keduanya mengatakan dengan jujur bahwa mereka berjuang untuk merumuskan kembali bagaimana mewujudkan #couplegoals, bukan dalam cara romantis ala remaja belasan tahun tapi dalam sebuah hubungan yang tahan banting, sebuah hubungan yang berharga untuk diperjuangkan.

Seperti yang pernah dikatakan Michelle dua tahun lalu dalam Good Morning America, "Saya ingin masyarakat mengetahui bahwa Michelle dan Barack Obama—yang memiliki perkawinan fenomenal dan saling mencintai satu sama lain—kami bekerja keras untuk mempertahankan perkawinan kami dan kami meminta bantuan tentang perkawinan kami saat kami memang membutuhkannya."

Dalam menjalani perkawinan, ada beberapa titik terendah dalam kehidupan mereka. Bahkan ketika mereka menghuni Gedung Putih. Menikah dengan presiden Amerika membutuhkan pengorbanan. Obama menulis bahwa di balik kesuksesan dan kepopuleran sang istri, ia terus merasakan ketegangan dalam diri Michelle. Ketegangan yang berada di alam bawah sadarnya, halus dan samar, namun selalu ada.

"Seolah-olah, ketika kami berada di Gedung Putih, semua hal yang menyebabkan frustasi berkumpul menjadi satu, lebih tampak nyata. Entah itu dari pekerjaan saya yang menyita waktu, atau bagaimana politik mengekspos keluarga kami untuk dikuliti dan diserang, atau bagaimana kecenderungan—bahkan dari teman dan keluarga—menganggap peran Michelle kalah penting dari yang saya kerjakan," tulis Obama lagi.

Sambil berbaring di sebelah Michelle, Obama mengatakan betapa ia memikirkan hari-hari saat semuanya terasa lebih ringan, saat senyum sang istri selalu mengembang, dan cinta mereka tidak terbebani apa pun. Menurut Obama, saat itu hatinya dicekam rasa takut bahwa hari-hari itu mungkin tidak akan pernah kembali.

Ya, selama ini masyarakat di seluruh dunia melihat Barack Obama dan Michelle Obama menjalani pernikahan yang sempurna. Bagi banyak orang, pasangan kulit hitam pertama Gedung Putih adalah keberhasilan yang sempurna. Itulah pembuktian yang tercatat dalam sejarah.

Dan dalam malam bersejarah ketika Obama memenangkan kursi presiden tahun 2008, ia menyanjung Michelle. "Saya tidak akan mampu berdiri di sini tanpa dukungan tanpa kenal lelah dari sahabat terbaik saya selama 16 tahun ini, seseorang yang diandalkan dalam keluarga kami, dan dialah cinta dalam hidup saya."

Tapi ternyata Obama mengakui bahwa ambisi politik telah membawa tekanan dalam perkawinannya bahkan sejak hari-hari pertama kehidupan politiknya. Ketika Obama terpilih menjadi senator negara bagian Illinois tahun 1995, Obama banyak menghabiskan waktu di Springfield dan Chicago sementara Michelle masih mengasuh bayi Malia dan berkutat di bidang hukum. Pasangan ini mulai banyak beradu argumen, biasanya pada tengah malam ketika keduanya sudah sangat kelelahan.

Saat itu Michelle mengatakan bahwa hidup semacam itu bukanlah yang ia inginkan. Dia merasa dia melakukan semuanya sendirian. Bagi pasangan yang akan memimpin sebuah negeri, konflik rumah tangga yang mereka hadapi tergolong 'biasa' saja; yaitu pasangan muda yang mencoba menyeimbangkan perkawinan, keluarga, dan karir mereka.

Dalam memoarnya yang menjadi best seller di tahun 2018, Becoming, Michelle juga menulis tentang menjalani terapi pasangan pada masa itu. Itulah yang juga disuarakan oleh Michelle dan Obama ke seluruh negeri tentang bagaimana pasangan tidak boleh gengsi mencari pertolongan untuk menyelamatkan keutuhan rumah tangga.

Obama mengingat kembali awal perjumpaan mereka di Sidley Austin, sebuah firma hukum di Chicago. Saat itu Michelle ditugaskan menjadi mentor Obama. "Dia (Michelle) tinggi, cantik, lucu, santai, baik hati, dan sangat cerdas—saya tak kuasa jatuh cinta setelah pertemuan kedua kami," tulis Obama dalam A Promised Land.

Obama menyebut Michelle sebagai sosok yang original. Tidak ada yang sama seperti dia. Di tahun-tahun pertama masuk ruang pengadilan, mereka banyak menyampaikan argumen-argumen yang tegas. Dan Obama melihat Michelle pantang menyerah.

Lucunya, Obama melontarkan lelucon kepada Craig (kakak Michelle) bahwa Michelle tidak akan pernah menikah karena dia terlalu tangguh dan tak ada laki-laki yang sanggup mengikutinya. "Anehnya, saya justru menyukai hal itu dari sosok Michelle, bagaimana dia dengan terus-menerus menantang saya dan menjadikan saya selalu jujur."

Tantangan kembali datang setelah mereka sudah memiliki dua anak dan Obama ingin naik ke jenjang karir politik yang lebih tinggi. Michelle hampir saja tidak menyetujui suaminya maju ke pemilihan senat tahun 2004.

Dia takut hal itu menambah beban keluarga, ditambah lagi kekhawatiran finansial karena harus memiliki dua rumah di Chicago dan Washington. Obama ingat betul bagaimana reaksi Michelle kala itu. "Michelle mengatakan ini adalah yang terakhir. Jangan harap aku akan berkampanye untukmu. Bahkan, saya tidak akan memilih kamu," tulis Obama.

Namun apa yang terjadi? Senator Obama kemudian mulai berbicara tentang sesuatu yang membawanya pada masalah baru dalam perkawinannya, yaitu menjadi calon presiden!

Obama mulai membujuk Michelle. Dia mengatakan bahwa sudah dibentuk sebuah tim untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan, bahkan "kita bisa menang". Michelle sontak memotong pembicaraan suaminya dengan mengatakan, "Apakah kamu baru saja mengatakan "kita"?"

"Maksudmu, itu adalah kamu. Itu adalah yang kamu inginkan. Aku mendukungmu sepanjang waktu karena aku percaya padamu sekali pun aku membenci politik. Aku membenci bagaimana politik mengupas keluarga kita. Dan sekarang ketika kita sudah bisa hidup dengan stabil, kamu mengatakan padaku bahwa kamu akan berkampanye menjadi calon presiden?"

Obama kemudian mengatakan bahwa dia akan menjalaninya jika Michelle bersedia. Michelle lantas mengatakan tidak. "Ya Tuhan, Barack...kapan ini akan berakhir?"

Close X

Vivi Zubedi Foundation Luncurkan Gerakan Sosial #1000MaskerUntukJabar

Sebelumnya

Pesan Rabu Pagi Dari Rumah Dinas Taman Suropati

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah News