post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

DUNIA kerja terlihat sangat menantang bagi para fresh graduates. Di usia muda, berbekal ijazah bernilai cum laude bahkan summa cum laude, mereka seolah siap menaklukkan tantangan di dunia profesional. Namun kenyataan tidak semudah apa yang dibayangkan.

Sebenarnya, apa saja yang harus disiapkan seseorang untuk melamar pekerjaan agar bisa diterima?

Bayu Janitra Wirjoatmodjo, CEO & Co Founder Topkarir.com, menjelaskan bahwa yang sangat diperlukan seorang pelamar untuk bisa terlihat menonjol adalah dengan membangun track record yang baik.

"Bukan berarti harus menjadi juara, tapi memperlihatkan kecakapan teknis, pengalaman organisasi, serta memiliki sertifikasi dari beberapa bidang yang mendukung latar belakang pendidikan.

Soft skill itulah yang harus ditingkatkan dan dikembangkan," ujar Bayu dalam Diskusi ViGenk (Visi Generasi Kini) bertajuk "Mau Kerja? Apa Yang Harus Disiapkan?" yang digelar Radio Elshinta melalui Zoom dan YouTube streaming, Sabtu (24/10/2020).

Track record yang berkualitas menjadi poin berharga yang bisa membuat perusahaan melirik si pelamar. Karena untuk lowongan satu posisi, sebuah perusahaan—apalagi perusahaan besar berskala nasional atau multinasional—bisa dibanjiri ribuan lebih surat lamaran yang masuk. Itulah mengapa seorang pelamar harus bisa terlihat lebih hebat dari yang lain.

Bayu menjelaskan bahwa berdasarkan tren selama tiga tahun terakhir, terlihat bahwa para pelamar memiliki nilai akademis yang terbilang sangat baik. Generasi masa kini memang jauh lebih pintar dari generasi sebelumnya karena mereka lebih mudah mendapatkan informasi yang didukung ekosistem digital seperti saat ini.

Namun demikian, Bayu mengutip enterpreneur.com yang menyatakan bahwa para pekerja pemula banyak yang gagal di masa awal bekerja karena kekurangan positive attitude.

"Melihat kemampuan psikologis new hires dalam menyikapi beban kerja. Banyak dari mereka kekurangan sikap positif, motivasi, juga kecerdasan emosional. Satu faktor dominan yang cenderung menggagalkan mereka adalah temparemen yang buruk."

"Itu artinya banyak di antara generasi milenial ini sangat kurang dalam penguasaan emosi. Saat berada dalam kondisi dengan tekanan berat, mereka bisa freeze lalu down. Tidak tahan banting. Sebaliknya, mereka yang bermental bagus pasti akan melesat dengan cepat," tambah Bayu.

Yang memprihatinkan adalah generasi milenial ini memilih untuk lari dari masalah. Ekses dari pressure tinggi yang mereka hadapi adalah mereka memutuskan resign! Menurut Bayu, begitu mudahnya mereka berhenti dari pekerjaan membuat turn over SDM di perusahaan menjadi tinggi.

Benarkah demikian?

VP Human Capital PT Gapura Angkasa R. M. Taufik menegaskan kondisi tersebut memang dihadapi banyak perusahaan. Soft competence masih bisa ditingkatkan, tapi urusan attitude ini memang kerap menjadi hambatan bagi generasi milenial untuk bertahan.

Karena itulah ia memberi tips bagi para generasi milenial yang ingin melamar pekerjaan. "First thing to do adalah meneliti dan mempelajari baik-baik budaya kerja perusahaan. Pelajari baik-baik apakah sesuai dengan karakter kita. Dengan begitu kita tidak akan kaget dengan core perusahaan dan bisa menyesuaikan diri dengan cepat," tegas Taufik.

Taufik mengingatkan bahwa pengelolaan SDM milenial berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Tergantung pada seberapa besar toleransi yang diberikan perusahaan.

Pada perusahaan yang mengutamakan kecepatan kerja, umumnya memang tidak memiliki forum diskusi yang cukup. Namun di perusahaan-perusahaan yang memang memiliki visi membangun talent (aset), tersedia waktu luang untuk menganalisis dan memperbaiki kondisi tidak ideal itu.

Generasi milenial harus mampu menghormati core value perusahaan yang sudah embedded. Perlu dipahami bahwa peraturan dan budaya kerja perusahan adalah hal baku yang sudah berlaku sejak lama. Itu berarti tidak bisa diubah seenaknya oleh satu pendatang baru.

Sayangnya, job security bukan menempati prioritas utama generasi milenial dalam mencari pekerjaan. Mereka lebih mengutamakan kenyamanan bekerja. Itulah mengapa ketika mereka sudah merasa tidak nyaman dengan budaya kerja di perusahaan, mereka dengan mudah memilih berhenti. Budaya instan ini masih sulit dipisahkan dari kebanyakan generasi milenial.

Taufik mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 benar-benar berpengaruh pada dunia kerja. Perusahaan-perusahaan di luar consumer goods, terlebih yang berpusat pada pelayanan/ jasa seperti industri pariwisata memang sedang tertekan.

"Perusahaan ke depannya akan mencari orang-orang yang bisa menetap. Bukan orang-orang yang selalu bersikap kontradiktif, mudah menyerah, dan memilih jalan instan. Karyawan yang resilient alias 'tahan banting' akan menjadi core value perusahaan di masa depan."

 

 

 

 

Close X

Usai Dinyatakan Positif Corona, Akun Instagram Anies Kebanjiran Doa

Sebelumnya

Canggih! Teknologi Pengenalan Wajah Kini Bisa Mengenali Beruang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah News