KOMENTAR


 

"Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah " (QS 30:30)
 

ANAK-ANAK lahir di atas fitrah, ada banyak fitrah dasar yang dibawa anak sejak lahir. Tugas kita sebagai orangtua adalah menjaga fitrah tersebut agar tidak tersimpangkan. Pada dasarnya fitrah itu tidak bisa berubah atau rusak, yang ada adalah terpendam, tersamar, tersimpangkan dari sisi penggunanya yaitu kita manusia.
 

Setiap anak  lahir dalam keadaan beriman, bersaksi bahwa Allah sebagai RabbNya. Tidak ada yang tidak cinta Tuhannya, tetapi mengapa ketika besar kadang Allah kalah dengan segala sesuatu yang dipertuhankan di muka bumi ini? Mengapa ketika anak besar, sangat berat untuk menjalankan perintahNya dan menghindari laranganNya? Adakah fitrah iman yang tersimpangkan?
 

Setiap anak secara fitrah lahir sebagai pembelajar sejati. Tidak ada yang tidak suka belajar, Tapi mengapa banyak anak-anak ketika masuk dunia pendidikan, sangat menyukai hari libur, pulang cepat dari yang sudah dijadwalkan, daripada mendapatkan proses pembelajaran di sekolah secara penuh? Ini bisa menjadi indikasi bahwa ada fitrah belajar yang disimpangkan dari kehidupan anak-anak.
 

Setiap anak secara fitrah lahir unik, masing-masing membawa potensi produktif untuk menjalankan misi spesifik hidupnya, tetapi mengapa sekarang kebanyakan dari kita dan anak-anak menjadi orang yang takut untuk berbeda dari yang lain. Sangat menyukai segala sesuatu yang seragam dan takut dengan keberagaman. Ketakutan ini sebenarnya lebih didasari karena tidak adanya rasa percaya diri  dari masing-masing individu bahwa dirinya memang "limited edition", individu unik dengan peran hidup spesifik. Tidakkah kita bertanya pada diri sendiri, "Mengapa fitrah diri anak ini menjadi tersamarkan seiring bertambahnya usia mereka?"
 

Setiap anak perempuan memiliki fitrah keibuan dan setiap anak laki-laki memiliki fitrah keayahan, tetapi mengapa ketika memasuki usia aqil masih ada saja yang tidak menjalankan peran tersebut dengan sebaik-baik peran. Bahkan ada yang tersimpangkan perempuan seperti laki-laki dan laki-laki seperti perempuan. Ketika membangun keluarga pun peran ayah dan ibu di dalam manajemen keluarga menjadi sesuatu yang asing, sampai-sampai kita mendapatkan julukan negeri tanpa ayah, negeri dengan tiangnya yang rapuh, karena tidak ada pendidikan keluarga bagi para ibu sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
 

Allah selalu memberikan jalan untuk mengembalikan fitrah kita sepanjang hidup kita.
 

Ramadhan adalah bulan Pendidikan, yang mengembalikan semua proses kehidupan dari rutinitas kepada kesadaran. Ramadhan adalah ruang kontemplasi diri kita untuk melihat apakah proses menemani anak-anak selama ini sudah berjalan sesuai fitrahnya? Adakah yang tersimpangkan? Sehingga ketika memasuki bulan Syawal sebagai bulan peningkatan, kita benar-benar bisa "kembali ke fitrah". Tugas berikutnya tinggal konsisten dan komitmen di bulan-bulan berikutnya untuk tetap bisa berjalan pada fitrah kita.
 

Makna Kembali Ke Fitrah

Kembali ke Fitrah adalah kembali ke titik tumpu kita dalam menjalankan peran di kehidupan ini,salah satunya adalah peran mendidik generasi.


Ada pepatah bijak menyatakan:
 

"Barangsiapa menjalani jalannya maka akan sampai kepada tujuannya"
 

Allah telah memberikan setiap anak jalan hidupnya, namun tidak setiap orangtua sabar dan sanggup melihat anak-anak berproses menerima panggilan hidupnya, bahkan sebagian dari kita banyak yang menitipkan mimpi kita ke anak-anak kita. 

Al Qur'an sesungguhnya sudah memandu kita secara eksternal agar dalam mendidik anak-anak tidak menyimpang dari panggilan hidupnya. Di dalam Al Qur'an juga tertulis bahwa sejak lahir anak-anak sudah memiliki fitrahnya, tugas kita merawat  benih-benih fitrah tersebut agar tumbuh sesuai maksud penciptaannya, bukan sesuai maksud dan ambisi orangtuanya.

 

Sayangnya, seringkali rutinitas kehidupan beserta perhiasannya membuat para orangtua lengah, sehingga tidak menyadari bahwa selama ini kita sudah berkontribusi membuat fitrah anak-anak terpendam, tersamarkan dan tersimpangkan dari jalannya.

Untuk mendidik anak kembali ke fitrah, perlu berubah, dan yang seharusnya pertama kali berubah adalah kita, sang penerima amanah.

Ada beberapa tahapan yang perlu kita lakukan mulai bulan syawai sampai Ramadhan tahun berikutnya agar kita layak mendampingi anak-anak berjalan di atas fitrahnya.

Menguatkan Fitrah Iman Orangtua

1. Banyaklah mensucikan diri (tazkiyatunnafs) yaitu menguatkan tekad dan janji janji hanya kepada Allah,

2. Memperbanyak mendekat kepadaNya,

3. Menjalankan kehidupan ini dengan penuh keyakinan dan prinsip keimanan.

4. Senantiasa melakukan muhasabah ( mengevaluasi diri)

5. Bersungguh sunguh berusaha mengembalikan semua aspek fitrah ini (mujahadah).

 

Menguatkan Fitrah Mendidik Anak

a. Bersihkan hati nurani karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan proses mendidik anak-anak.




Pemalu atau Social Anxiety? Yuk Kenali Tanda-Tandanya, Bunda!

Sebelumnya

Anak Slow Response Saat Diperintah, Ayah Bunda ‘Berkaca’ Dulu Sebelum Marah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Parenting