Ilustrasi kesucian hati/Fahmina
Ilustrasi kesucian hati/Fahmina
KOMENTAR

DIPERLUKAN kejernihan hati untuk mencerna mengapa Al-Qur’an mencantumkan kisah Zulaikha ketika menggoda Nabi Yusuf. Kitab suci tidak mungkin mengungkapkan kesia-siaan melainkan pastinya ada nilai kemuliaan yang perlu terus dipahami.

Di zaman apapun, hubungan laki-laki dan perempuan sama rawannya. Jika setan turut campur, berbagai kemaksiatan dapat terjadi. Supaya lebih mudah memahami aturan agama terkait relasi lawan jenis ini, maka Al-Qur’an menceritakan kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf. Dan tema terpentingnya adalah bagaimana cara menjaga kesucian diri dari godaan gelora syahwat.

Surat Yusuf ayat 24, yang artinya: “Sungguh, perempuan itu (Zulaikha) benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”.

Zulaikha hammat bihī (benar-benar telah berkehendak kepada Yusuf) dan Yusuf pun hamma bihā (berkehendak kepadanya). Ketika setan mengira kemaksiatan akan terjadi, maka Allah menurunkan burhan (tanda) yang berfungsi linaṣrifaṣ (memalingkan) dari su’ (kejahatan) dan faḥsyā' ḥ (kekejian).

Mengapa Nabi Yusuf terhadap Zulaikha masih mengalami hamma biha? Apakah sebagai utusan Allah tidak bisa menjaga kesucian diri? Bukankah setiap nabi itu ma’shum (suci)?

Hamka pada Tafsir Al-Azhar Jilid 4 (2020: 669) menjelaskan, maka Al-Baghawi menguatkan pendapat bahwa arti hamma biha di sini ialah gelora yang berkecamuk dalam jiwa, tetapi belum dilaksanakan dalam kenyataan.

Dan Al-Baghawi membela pahamnya bahwa memang Nabi Yusuf telah memiliki gelora perasaan terhadap istri Raja Muda yang cantik itu, yang bernama Zulaikha. Tetapi gelora yang berkecamuk dalam hatinya dapat ditahan, sebab dia melihat pertandaan Tuhannya.

Banyak juga ahli tafsir mengatakan bahwa sebagai seorang nabi, Yusuf ma'shum. Untuk itu, ayat ini juga mereka artikan dengan tegas, yaitu bahwa Zulaikha telah menggelora hatinya melihat Yusuf, sedangkan Yusuf pun tentu telah menggelora juga hatinya melihat Zulaikha, kalau bukanlah dia menampak pertandaan Tuhannya.

Dipandang dari segi ilmu jiwa dan biologi, kita condong kepada penafsiran Al-Baghawi. Karena, meskipun menggelora nafsu syahwat Yusuf di tempat yang sunyi itu karena rayuan Zulaikha, tidaklah hal itu mengurangi akan ke-ma'shum-annya, sebab dia adalah manusia dan laki-laki biasa.

Menurut pemahaman sebagian ulama, godaan Zulaikha tidaklah membuat nafsu Nabi Yusuf bergelora, disebabkan terlebih dulu datang burhan atau pertanda atau petunjuk Tuhan. Kemudian Nabi Yusuf melarikan diri menghindari potensi maksiat. Demikianlah Nabi Yusuf terjaga dalam kema’shuman dirinya.

Pendapat ini yang dipegang oleh para ulama yang meyakini setiap nabi itu ma’shum (suci) dan pasti terpelihara dari kemaksiatan. Seandainya hamma biha itu dipercaya oleh sebagian ahli tafsir bahwa Nabi Yusuf juga sempat bergelora kepada wanita tersebut, tapi yang demikian itu juga sesuatu yang wajar terjadi kepada setiap lelaki tulen.

Dan seandainya gelora semacam itu terjadi kepada Nabi Yusuf, hal itu pun tidak mengurangi ma’shum sebab kesuciannya tetap terjaga dengan terpelihara dirinya dari dosa.

Demikian pula kita sebagai manusia biasa, juga bisa menjaga kesucian diri sekalipun sempat muncul gelora syahwat. Selama kita lekas memahami burhan (petunjuk atau peringatan) Ilahi, maka bersegeralah meninggalkan potensi maksiat tersebut. Dan itulah hikmah tertinggi dari kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha.




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir