Ilustrasi anak makan MPASI/Freepik
Ilustrasi anak makan MPASI/Freepik
KOMENTAR

ADA banyak risiko penyakit di tahun pertama kehidupan anak. Salah satunya adalah anemia defisiensi besi (ADB), yaitu suatu kondisi rendahnya kadar hemoglobin akibat kekurangan zat besi di dalam tubuh.

Anemia defisiensi besi pada bayi tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi didahului oleh dua tahapan, yaitu deplesi besi (berkurangnya cadangan zat besi namun kadar hemoglobin masih normal), dan defisiensi besi di mana kadar hemoglobin sudah menurun.

Bayi yang mengalami deplesi besi dan tidak ditangani dengan baik akan mengalami defisiensi besi, yang apabila tidak ditangani segera berisiko pada ADB.

Ada beberapa faktor penyebab anemia defisiensi, yaitu:

  1. Suplai zat besi yang rendah (prematuritas, pemberian MPASI yang terlambat, diet vegetarian, gangguan menelan).
  2. Peningkatan kebutuhan besi (usia bayi,, berat badan lahir rendah, pertumbuhan cepat pada pasa pubertas/pubertal growth spurt).
  3. Penurunan penyerapan besi di saluran cerna (penyakit inflammatory bowel disease, infeksi helicobacter pylori, dan sebagainya).
  4. Perdarahan (menstruasi yang sering dan berlebih, alergi susu sapi, dan sebagainya).

Sebuah penelitian yang dilakukan Ringoringo pada bayi usia 0-12 bulan di Kalimantan Selatan mengungkap, insiden ADB sebesar 47,4%. Insiden ini cenderung tinggi pada bayi yang lahir dari ibu dengan anemia.

Zat besi merupakan salah satu zat gizi penting untuk perkembangan janin, bayi, dan anak, terutama pada perkembangan otak. Kebutuhan zat besi semakin meningkat seiring bertambahnya usia anak.

Bayi yang lahir cukup bulan dan mendapat ASI ekslusif, tidak memerlukan suplementasi zat besi. Namun di usia 4-6 bulan, cadangan zat besinya mulai habis, sedangkan kebutuhannya terus meningkat.

Untuk memenuhinya, ibu dapat memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) rumahan maupun fortifikasi komersial. MPASI rumahan kaya rasa dan biaya murah, tapi berisiko terkontaminasi mikroba selama penyiapan, penyimpanan, dan proses pemberian makanan. Juga kemungkinan tersedak jika tekstur makanan yang diberikan tidak sesuai usia anak.

“Di Indonesia, Badan POM melakukan pengawasan ketat terhadap produk MPASI komersial/fortifikasi. Kandungan nutrisinya tidak hanya harus mengikuti peraturan Badan POM, tapi juga harus sesuai dengan Codex Alimentarius yang diinisiasi oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nation), serta diperkaya zat gizi tertentu (besi, yodium, seng, vitamin D, dan sebagainya) untuk memastikan asupan zat gizi yang adekuat, sehingga anak dapat bertumbuh kembang secara optimal,” kata Dr dr Lanny Christine Gultom, SpA(K), dokter spesialis anak dan ahli nutrisi RSUP Fatmawati.

Csolle I dkk meneliti, MPASI fortifikasi pada bayi dapat mengurangi risiko anemia hingga 43%. MPASI fortifikasi kemasan dapat menjadi alternatif untuk digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan MPASI rumahan agar memastikan asupan zat gizi makro dan mikro yang adekuat pada bayi.




Pemalu atau Social Anxiety? Yuk Kenali Tanda-Tandanya, Bunda!

Sebelumnya

Anak Slow Response Saat Diperintah, Ayah Bunda ‘Berkaca’ Dulu Sebelum Marah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Parenting