Protes yang mulai tidak masuk akal?/AyoJakarta
Protes yang mulai tidak masuk akal?/AyoJakarta
KOMENTAR

USAI TikTok Shop ditutup oleh Pemerintah Indonesia, situasi pedagang di Tanah Abang masih belum membaik. Dihapusnya TikTok Shop karena sebelumnya para pedagang di Tanah Abang mendesak pemerintah karena merasa kalah saing.

Sejumlah pedagang Tanah Abang viral setelah aksinya yang meminta e-commerce lain dihapus karena omzet pedagang Tanah Abang yang tetap anjlok meskipun TikTok Shop sudah dihapus.

“Hapus online shop,” tulis pedagang Tanah Abang di lapak mereka.

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan merespons hal tersebut dan mengatakan bahwa hal itu tidak dapat dilakukan.

“Ya enggak, kan diatur, bukan ditutup, enggak boleh dong. Kan enggak bisa dihindari namanya itu platform digital itu (sesuai) zaman kok,” kata Mendag di Kompleks Istana, Jakarta pada Selasa (10/10).

Aksi yang dilakukan para pedagang Tanah Abang tersebut memicu kritikan dari warganet.

“Ikut berkembang atuh, malah minta dihapus, persaingan pasar juga nggak cuma di satu tempat aja,” kritik warganet.

“Udah diturutin buat hapus TikTok Shop, malah ngelunjak. Mbok ya mikir, sekarang udah zaman digital, apa-apa serba online. Mendingan gunain momentum nama Tanah Abang yang lagi naik dipakai buat jualan di online shop,” sambung warganet lainnya.

Mendag mengatakan pentingnya mengikuti perkembangan zaman. Dia meminta agar para pedagang di Tanah Abang untuk menyesuaikan diri.

Zulkifli menjelaskan bahwa pemerintah saat ini akan menata peraturan penjualan online agar lebih banyak produk lokal yang masuk di pasar e-commerce. Dia juga mengajak pedagang di Tanah Abang untuk memasarkan produknya di e-commerce.

“Cuma memang kita tata, bahkan saya terima kasih kepada Shopee ya karena sudah tidak impor lagi dia, tapi dia menjual produk-produk lokal. Itu membantu UMKM, tinggal sekarang Tanah Abang ayo respon dan ikutan Shopee,” ujarnya.

Sejumlah pedagang menyatakan bahwa protes tersebut dilakukan lantaran merasakan penurunan omzet sejak beroperasinya berbagai e-commerce.

Farah.id melihat bahwa sebagai masyarakat yang pernah mengalami pandemi, gaya hidup online memang sudah tidak bisa lagi dihindari. Hal itu sudah menjadi sebuah kebutuhan yang memang dirasa efektif dan efisien.

Namun demikian, masih banyak anggota masyarakat yang juga memahami bahwa berbelanja secara langsung (daring) masih tetap menjadi aktivitas menyenangkan yang bahkan menjadi healing time.

Kita tidak bisa menahan laju teknologi, tapi setiap kita bisa mulai beradaptasi.

Reporter: Nisrinaa Salsabila

Editor: Ovi Shofianur




Potensi Tsunami Masih Ada, Warga Diminta Waspadai Erupsi Gunung Ruang

Sebelumnya

Fasilitas Kesehatan Hancur, Sebanyak 562 Warga Palestina Menderita Hemofilia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News