Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

TERTAWA adalah reaksi yang sering terjadi pada setiap manusia. Tertawa juga menjadi cara untuk meringankan beban hidup. Dan tertawa juga dapat meningkatkan kesehatan emosi dan membangun hubungan positif dengan orang lain.

Karena punya banyak manfaat, Islam tidak pernah melarang umatnya untuk tertawa. Hanya saja, ada adab yang perlu diperhatikan agar tertawa itu tidak mendatangkan kerugian.

  • Tidak terbahak-bahak (tidak berlebihan)

Allah melarang sesuatu yang dilakukan secara berlebihan, termasuk tertawa. Sebab, tertawa berlebihan akan menimbulkan keburukan, seperti memicu keributan dengan tetangga atau orang lain. Sebagaimana sebuah hadis menceritakan:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa, hingga terlihat langit-langit beliau. Sesungguhnya, tawa beliau hanyalah senyum semata.” (HR Al-Bukhori)

  • Jangan banyak tertawa

Hal kecil yang tidak sepantasnya ditertawakan, janganlah menjadi bahan tertawaan. Karena banyak tertawa pun mendatangkan hal negatif. Syeikh Imam Nawawi dalam kitabnya Nashaih al-Ibad memberikan nasihat agar umat Islam tidak banyak tertawa, sebab akan hilang kewibawaan. Beliau mengutip pesan yang disampaikan Umar bin Khattab, “Siapa yang banyak tertawa, maka akan hilang kewibawaan”.

  • Tertawa bukan untuk mengejek atau mencela orang lain

Dalam surat Al-Hujurat ayat 11 Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok) lebih baik dari wanita (yang mengolok). Dan janganlah kamu mencela dirimi sendiri dan janganlah kami panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”.

  • Tidak berbohong untuk membuat orang tertawa

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan, apabila seseorang berbicara dengan suatu pembicaraan yang benar untuk membuat orang lain tertawa, maka hukumnya diperbolehkan. Al Ghazali berkata, “Jika demikian, haruslah sesuai dengan canda Rasulullah, tidak dilakukan kecuali dengan benar, tidak menyakiti hati, dan tidak berlebih-lebihan”.

Pada intinya, Allah tidak menyenangi sesuatu hal yang dilakukan terlalu berlebihan dan didasari pada kebohongan.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur