KOMENTAR

KEPUTUSAN Tuhan dengan ngotot terus dilawan oleh Qabil, dia bersikeras hati tetap hendak menikahi saudari kembarannya bernama Iqlima. Padahal Nabi Adam selaku ayah sudah memberikan pengertian bahwa keputusan Ilahi yang akan menikah dengan Iqlima adalah Habil.

Setan pun melancarkan hasutan jahat, menghasut Qabil agar durhaka kepada titah Tuhan. Puncaknya, Qabil pun mengutarakan ancaman hendak membunuh adik kandungnya sendiri. Kini, nyawa Habil sedang terancam akan melayang disebabkan persaingan demi meraih kecantikan seorang gadis.

Namun, Habil adalah pemuda yang kokoh keimanannya, dan tidak terlihat sedikit pun rasa gentar. Tidak akan mudah menghadapi ancaman pembunuhan, tapi Habil mampu berpikir jernih dan bertindak tenang.

Surah al-Maidah ayat 28-29, yang artinya:

28. “Sesungguhnya jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

29. “Sesungguhnya aku ingin engkau kembali (kepada-Nya) dengan (membawa) dosa (karena membunuh)-ku dan dosamu (sebelum itu) sehingga engkau akan termasuk penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.

Ibnu Katsir dalam buku Kisah Para Nabi (2017: 62) menguraikan:

Qabil marah seraya berkata (kepada Habil), “Sungguh aku benar-benar akan membunuhmu hingga engkau tidak jadi menikahi saudara perempuan kembaranku.”

Habil menjawab, “Sesungguhnya, Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Teror Qabil tidak membuat Habil terprovokasi, sekalipun yang terancam nyawa satu-satunya, tapi Habil tidak ikut gelap mata. Dia meyakinkan saudaranya itu bahwa dirinya tidak akan melakukan kekejian serupa, karena pembunuhan adalah dosa yang besar. Bahkan Habil ingin meluruskan saudaranya itu, dengan menjelaskan kurban Qabil ditolak Tuhan disebabkan niatnya yang salah.

Hal ini menunjukkan kemuliaan akhlak Habil dan rasa takutnya hanya kepada Allah Swt. Ia sama sekali tidak mau membalas kejahatan yang telah dilakukan oleh saudaranya itu terhadap dirinya.

Habil menyadari Qabil saudaranya tengah kalap disebabkan sangat terobsesi dengan kecantikan seorang perempuan. Siapapun lelaki yang tidak mampu mengendalikan dirinya berpotensi jatuh ke jurang petaka macam ini. Cantik bukan hanya menghasilkan daya tarik, akan tetapi dapat pula membutakan mata hati.

Sikap bijaksana yang ditunjukkan Habil tidak kunjung melunakkan amarah Qabil. Setan terus mengobarkan api permusuhan di dadanya, sehingga Qabil pun melakukan pembunuhan pertama dalam peradaban dunia.

Ibnu Katsir (2017: 62) menceritakan:

Ada yang berpendapat bahwa Qabil membunuh Habil dengan batu yang ia lemparkan hingga mengenai kepala Habil. Saat itu Habil sedang tidur. Ada yang berpendapat bahwa Qabil mencekik leher Habil sekuat-kuatnya dan menggigitnya, sebagaimana yang dilakukan oleh binatang buas, sehingga Habil meninggal dunia seketika.

Surah al-Maidah ayat 30, yang artinya, “Kemudian, hawa nafsunya (Qabil) mendorong dia untuk membunuh saudaranya. Maka, dia pun (benar-benar) membunuhnya sehingga dia termasuk orang-orang yang rugi.”

Muhammad Amin Suma dalam Tafsir Al-Amin Bedah Surah Al-Ma’idah (2021: 159) menafsirkan dengan rinci terkait ayat tersebut:

Kata tha'a yatha'u/yathu'u, artinya tunduk, patuh, dan taat. Thawwa'a, artinya membuat patuh atau membuat taat. Yang dimaksud dengan fa-thawwa'at lahu nafsuhu, dalam ayat ini ialah hawa nafsunya telah menguasai jiwanya sehingga Qabil tidak bisa lagi mengendalikan emosinya lalu tetap membunuh Habil. 

Al-sau'ah wa al-masa'ah, sama artinya yaitu perbuatan keji, jahat. Sauata akhih, di sini adalah sosok saudaranya Habil yakni Qabil yang menampilkan sosok dirinya yang sangat jahat dan buruk kepada Habil karena terbakar cemburu cinta yang luar biasa terhadap Iqlima.

Nadimin, orang-orang yang menjadi menyesal gara-gara melakukan suatu perbuatan atau tindakan hukum yang salah dan berdosa secara agama, sebagaimana halnya tindakan Qabil membunuh Habil yang merupakan tindak pidana pembunuhan perdana di muka bumi.

Mestinya Qabil menaati aturan dari Tuhan, bahwa ia tidak ditakdirkan menikahi Iqlima tentu berlandaskan kebijaksanaan yang bernilai tinggi. Sekaligus pelajaran bagi Qabil supaya tidak mengejar perempuan disebabkan kecantikan fisik belaka, sebab keagungan perempuan sejati justru tidak ditakar dari keindahan parasnya.

Sayangnya, Qabil malah menaati hawa nafsunya, yang amarah sudah menguasai jiwanya. Dan sesuatu yang mengerikan pun terjadi, Habil pun dibunuh oleh Qabil berdasarkan kobaran hasutan setan.

Perbuatan demikian keji telah menjatuhkan derajat Qabil sehingga menjadi seorang pelaku kejahatan, yang merupakan seburuk-buruk manusia. Amarah yang berujung pembunuhan itu tidak menghasilkan kepuasan, melainkan penyesalan yang memedihkan hati, sebab Qabil menyadari dirinya sangatlah merugi.

Penyesalan itu makin merajam Qabil tatkala dirinya menyaksikan mayat Habil terbujur kaku. Tidaklah diketahuinya tata cara yang layak diperlakukan terhadap manusia yang sudah meninggal dunia. Qabil meratapi kematian adiknya disebabkan oleh kelemahan hatinya menjalani ujian kecantikan.




Pantaskah Bagi Allah Anak Perempuan?

Sebelumnya

Betapa Lembutnya Al-Qur’an Menerangkan Surga Adalah Hak Perempuan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir