KOMENTAR

MEMILIKI nama lengkap dr. Vicka Farah Diba, MSc., SpA, perempuan kelahiran Yogyakarta 10 Desember 1980 ini mengabdikan diri untuk dunia anak-anak.

Lulus S1 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara lalu melanjutkan S2 di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dengan spesialisasi Ilmu Kesehatan Anak, dr. Vicka tak hanya membuka praktik di rumah sakit tapi juga aktif menjadi pembicara di berbagai seminar maupun talkshow di berbagai daerah di Tanah Air. Salah satunya, menjadi narasumber pada Farah Zoomtalk bertajuk “Membangun Generasi Emas di Masa Pandemi”.

“Menjadi dokter anak adalah cita cita masa kecil saya, dan tanpa terasa sudah lebih dari 10 tahun saya jalani dengan penuh rasa syukur,” ungkap dokter yang berpraktik di Jogja International Hospital ini.

dr. Vicka juga pernah aktif sebagai relawan MER-C Indonesia. Ia bergabung dalam tim relawan menangani korban tsunami Aceh dan gempa Yogyakarta tahun 2006. Kehadirannya langsung ke titik bencana dan merawat anak-anak menjadi sebuah pengalaman luar biasa untuk memahami anak dan menentukan treatment apa yang dibutuhkan anak-anak korban bencana.

Sebagai seorang dokter anak, dr. Vicka berusaha memberikan pemahaman sebaik mungkin kepada para orang tua agar tidak lalai dalam memelihara kesehatan si buah hati. Terlebih lagi dengan hadirnya pandemi COVID-19 dan berbagai fenomena kesehatan anak saat ini, orang tua dituntut untuk ekstra hati-hati dan tidak sembarangan dalam memberikan obat maupun perawatan kesehatan untuk anak.

Kepada para calon orang tua, dr. Vicka selalu menekankan urgensi periode emas perkembangan anak yaitu sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan). Selama periode emas itu terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat, yang nantinya akan mendukung seluruh proses pertumbuhan anak. Karena itulah ia mengimbau para orang tua untuk melakukan IMD, ASI eksklusif, MPASI, pemantauan tumbuh kembang, imunisasi, pemberian vitamin, juga CTPS (cuci tangan pakai sabun).

Kini, dengan kesehariannya sebagai istri juga ibu dari dua anak dan aktivitasnya sebagai dokter spesialis anak, dr. Vicka memilih menjadi aktivis bidang pendidikan. Ini merupakan sebuah tantangan baginya untuk bisa mengedukasi anak-anak Indonesia dan menjadikan mereka generasi gemilang di masa depan, namun dengan cara yang mengasyikkan, tidak membosankan, dan menarik hati si kecil.

Atas dasar kecintaan dan kepeduliannya terhadap anak-anak, dokter yang pernah mengabdi di Pekanbaru dan Sangatta ini juga mendedikasikan dirinya sebagai penulis buku anak.

Setidaknya sudah 10 judul buku ia tulis sejak tahun 2016. Di antaranya ada 20 Cerita Asyik Pembangun Karakter Anak Muslim (AlKautsar for Kids, 2016 dan diterbitkan kembali oleh BIP Gramedia, 2023), P3K untuk Anak (Erlangga for Kids, 2018), Seri Anak Sehat: Nana Berani Imunisasi, Mata Doni Buram (Erlangga for Kids, 2019), Seri Bagaimana Aku Bisa: Bagaimana Aku Bisa Bergerak, Bagaimana Aku Bisa Melihat, Bagaimana Aku Bisa Mendengar (Ananda, 2019), Panduan Ortu Kekinian (Andi Publisher, 2020), dan Bebaskan Aku dari Alergi (Andi Publisher, 2022).

Apa yang menginspirasi dr. Vicka untuk menulis?

“Anak-anak selalu menjadi inspirasi dalam menulis dan tentu saja berkaitan dengan profesi saya sebagai dokter anak. Saya melihat banyak kisah dongeng anak yang perlu disesuaikan dengan nilai-nilai masa kini, dari situlah lahir buku pertama yaitu 20 Cerita Asyik Pembangun Karakter Anak yang berisi kumpulan cerita dongeng, kisah islami, juga cerita kesehatan anak dan fabel,” kisah dr. Vicka.

Setiap buku yang ditulis oleh dr. Vicka sejatinya mengandung hikmah yang memandu perilaku sehari-hari anak-anak. Dengan latar belakang sebagai dokter spesialis anak, cerita-cerita yang ditulis terasa lebih ‘nyata’ karena erat dengan keseharian anak. Tak hanya menyuguhkan pemahaman tentang akhlak mulia, tapi juga mengajarkan anak berbagai kebiasaan pola hidup bersih sehat yang bermanfaat.

Dalam setiap penggarapan buku, baik fiksi maupun nonfiksi, dr. Vicka selalu melibatkan sejumlah ahli dalam hal tumbuh kembang anak seperti dokter spesialis anak konsultan hingga psikolog. Dengan demikian, berbagai insight dalam buku-bukunya memang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan meski dibalut dalam cerita anak yang ringan dan menyenangkan untuk dibaca.

Di tengah kesibukannya, dr. Vicka mengaku memiliki hobi yang terbilang simple. “Saya kurang suka pergi jalan-jalan. Saya ini termasuk kaum mageran dan rebahan—meminjam istilah anak zaman now. Karena itu, bagi saya, menikmati waktu senggang paling nikmat dengan santai di kamar sambil mendengarkan musik, menulis, dan tentu saja minum kopi,” ujar dr. Vicka tentang hobinya yang menjadi sarana untuk me-recharge diri.

Bagi para orang tua, dr. Vicka berpesan agar ayah dan ibu selalu kompak dalam menjaga kesehatan anak dan memperhatikan lebih mendetail tumbuh kembang anak.

dr. Vicka menekankan tiga hal terpenting yang dapat memaksimalkan tumbuh kembang anak: ASAH yakni mengasah kemampuan sosialisasi, menerapkan nilai agama, dan juga kepekaan lingkungan, ASIH yakni fungsi cinta kasih saying dan perhatian orang tua, dan ASUH yakni fungsi ekonomi dan perlindungan (sandang pangan).

“Dalam tumbuh kembang anak, peran KEDUA orang tua sama pentingnya, pemberian TIGA KOENTJI utama tumbuh kembang anak yaitu ‘asah asih asuh’ bukan hanya tugas dan tanggung jawab ibu semata, tapi juga diperlukan peran ayah di dalamnya,” tegas dr. Vicka.




Lale Syifaun Nufus, Srikandi Asal Lombok yang Siap Mengemban Amanat Rakyat sebagai Anggota DPR RI

Sebelumnya

L’Oreal-UNESCO For Women in Science, Sebuah Ruang Kolektivitas yang Menembus Batas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Women