Ilustrasi rumah Abah Jajang di Cianjur/ Net
Ilustrasi rumah Abah Jajang di Cianjur/ Net
KOMENTAR

QANAAH dalam Islam bermakna menerima pemberian Allah Swt. dengan penuh kerelaan disertai syukur dan sabar. Qanaah erat kaitannya dengan kehidupan seorang muslim yang bersahaja. Siapa berhasil qanaah, hidupnya tenang tanpa masalah.

Bulan suci Ramadan sejatinya adalah momen untuk kita berintrospeksi diri terhadap apa yang sudah kita lakukan selama ini, termasuk apakah kita sudah qanaah. Jangan sampai bulan suci justru menjadi ajang pamer harta, kalap berbelanja, juga mubazir dalam menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka puasa.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeki yang sekadar mencukupi, dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim-At Tirmidzi-Ahmad-Al Baghawy)

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi orang miskin. Bagaimanapun, tangan di atas jauh lebih baik dari tangan di bawah. Dan berdaya secara ekonomi akan membuat seorang muslim mampu beramal jariyah, bersedekah, dan berkontribusi bagi kemajuan masyarakat.

Namun menjadi kaya juga bukan berarti harus hidup bermewah-mewahan. Qanaah-lah yang akan menahan kesombongan dan keinginan untuk tak henti mengejar dunia. Kaya bukan lantas membuat orang tak bisa hidup bersahaja dan sederhana.

Ketika seorang muslim memiliki harta berlimpah tapi dia menyadari bahwa dia tak akan membawa sepeser pun ke liang lahat, maka sifat qanaah akan menguasainya. Dia sadar tak ada gunanya menumpuk dan memamerkan harta.

Rasulullah juga bersabda, “Dunia ini dibandingkan akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali.” (HR. Muslim-At Tirmidzi-Ibnu Majah)

Rasulullah saw. mengajarkan bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi harta, yaitu dengan qanaah. Kaya maupun miskin, seorang muslim hendaknya merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan.

Kita tidak tamak harta juga tidak iri pada gemerlap harta orang lain. Kita tidak rakus mencari harta lantas menghalalkan segala cara. Jika ada yang mengatakan korupsi kecil itu lumrah karena telah menjadi bagian dari hari-hari kita, orang itu berarti telah mengizinkan dirinya terjebak dalam kemaksiatan dan dosa. ‘Mengikat janji’ pada godaan setan dengan menjadikan lazim perbuatan tercela.

Ketika kita memejamkan mata, mengingat kembali hakikat keberadaan kita di dunia, dan merenungi apa yang akan terjadi setelah nyawa kita dicabut oleh Allah Swt., kita pasti tak mau berlomba-lomba mengumpulkan harta.

Setelah jasad kita masuk ke liang lahat, yang kita butuhkan hanyalah doa dari anak yang saleh dan terangnya cahaya kubur yang berasal dari amal saleh selama hidup di dunia. Miliaran rupiah tak akan sanggup menjadikan kubur kita lapang dan terang, juga tak akan mampu membeli tiket masuk surga.

Karena itulah, jika kita ingin tenang di dunia dan berbahagia dengan hidup kita, qanaah menjadi kuncinya. Kita berdaya di dunia, tapi tetap fokus untuk mengejar akhirat. Dan karena harta kita tak akan terbawa ke akhirat, kita sadar betul kita harus qanaah terhadap urusan duniawi. Itulah yang membuat kita semakin bersyukur dan harta menjadi pendekat kita kepada Allah Swt.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur