Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

CERAMAH sang ustad membuat tercengang para hadirin. Secara umum yang dibahasnya Isra Mikraj, tapi yang membuat jemaah terperanjat justru kajian tentang Buraq, tunggangan yang membawa Nabi Muhammad menyukseskan perjalanan spektakuler.  

Saking cintanya dengan Rasulullah, saking takjubnya dengan Isra Mikraj, sang ustad memajang gambar Buraq di rumahnya. Buraq punya tempat istimewa dalam kajian keislaman, sebab Buraq yang berjasa sebagai transportasi selama Isra Mikraj. Hanya Buraq yang mampu menembus langit, hanya dalam durasi semalam saja.

Orang-orang tua terdahulu cukup ekspresif menunjukkan kekaguman mereka, sehingga gambar Buraq dipajang di rumah-rumah. Gambar Buraq pun dipoles menawan, tubuhnya mirip kuda yang mulus, sedangkan kepalanya berwajah perempuan jelita yang tersenyum menawan, lengkap dengan rambut panjang dan mahkota nan indah.

Ustad itu menelusuri asal-usul gambar Buraq yang sempat dibanggakannya itu. Kejutannya, kemudian dia memperoleh informasi gambar Buraq justru hasil rekayasa yang mengandung propaganda pihak-pihak yang punya niat tidak baik terhadap Islam.

Bagaimana tidak, maaf, Buraq digambarkan bertubuh kuda itu sebagai satire atas tudingan Rasul punya syahwat besar. Adapun Buraq yang berkepala perempuan cantik pun sindiran keji bahwa beliau sosok yang mudah terpedaya perempuan. Nauzubillahi min zalik!

Akibatnya, sang ustad menyingkirkan gambar Buraq dari rumahnya dan memilih untuk lebih dalam mempelajari hakikat Buraq.

Pendapat sang ustad terkait gambar Buraq masih terbuka peluang untuk diperdebatkan. Islam membuka ruang diskusi supaya penalaran umatnya terus berkembang. Janganlah berpuas diri dengan suatu pendapat, karena wawasan itu perlu terus didorong supaya lebih maju.

Terlepas dari pendapat sang ustad, bagi seluruh kaum muslimin perlu memahami hakikat Buraq, supaya mampu menyingkap rahasia besar di balik Isra Mikraj ini.      

Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Musa bin Babawaih Qommi dalam buku ‘Uyun al-Akhbar al-Ridha (2014: 46) menerangkan:

Rasulullah saw. bersabda, “Allah menciptakan Buraq berada di bawah kendaliku. Ia adalah salah satu kereta surgawi. Tidak terlalu pendek, tidak juga terlalu tinggi. Bisa bepergian ke seluruh dunia dan akhirat dalam sekali perjalanan jika Allah mengizinkannya. Dia adalah kendaraan yang memiliki warna paling indah.”

Buraq menunjukkan pada makhluk yang membawa Rasulullah saw. dari Masjidil Haram (Ka’bah) di Mekah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem. Namun, kata Arab al-Buraq berasal dari kata barq yang berarti cahaya.

Kita juga tahu bahwa malaikat diciptakan dari cahaya dan karena itu, ini barangkali mengimplikasikan bahwa Mikraj (naiknya Rasulullah saw. ke langit) ini adalah perpindahan dengan kecepatan cahaya, sebagaimana kita lihat dalam teori relativitas modern Albert Einstein.

Jadi, secara spesifik bentuk fisik Buraq tidak digambarkan secara terperinci. Sehingga yang menjadi hulu keterangan adalah namanya Buraq yang bermakna kilat, yang dari sanalah orang-orang mencoba untuk memahami bahwa Buraq berkecepatan cahaya.

Shabri Shaleh Anwar dalam buku Kejadian Isra' Mi'raj Sebelum-Saat-Sesudah (2020: 21) mengungkapkan:

Buraq, al-baraq, cahaya atau kilat, adalah sesosok makhluk tunggangan, yang membawa Nabi Muhammad dari Masjid al-Aqsa menuju Mikraj ketika peristiwa Isra Mikraj.

Makhluk ini diciptakan Allah terbuat dari cahaya. Dinamakan Buraq dikarenakan kecepatan melesatnya seperti kilat (al-barq), ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Buraq karena warna badannya yang bersih dan mengkilat serta kecepatannya yang luar biasa, ada pula yang mengatakan karena warna badannya yang putih.

Buraq yang dikait-kaitkan dengan kecepatan cahaya tidak terlepas dari temuan di bidang iptek, karena baru kecepatan cahaya yang diketahui memiliki kecepatan tertinggi.

Agus Mustofa dalam bukunya Terpesona di Sidratul Muntaha (2006: 66) menjelaskan:

Kecepatan tertinggi di alam semesta sampai sekarang, tetap adalah kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km per detik. Maka seluruh penjelasan tentang gerak di alam semesta ini masih harus berpatokan pada kecepatan cahaya tersebut.

Setelah ilmuwan menemukan kecepatan cahaya 300.000 km per detik, fakta itu seperti memberi harapan, lebih rasional dibandingkan Buraq yang digambarkan kuda berkepala perempuan. Bagaimanapun juga, kuda sehebat apa pun kemampuannya menembus langit sangat dipertanyakan.  

Meskipun cukup membantu, pemahaman Buraq sebagai kilat (atau sesuatu berkecepatan cahaya) juga punya kelemahan. Langit itu ternyata luar biasa luasnya, bahkan ada yang menganalisis butuh waktu jutaan hingga miliran tahun untuk menjelajahinya.

Jadi, Buraq itu sejatinya penamaan, sangat mungkin kecepatan Buraq itu malah melebihi cahaya, sebab langit memang luar biasa luasnya. Dinamakan Buraq sebagai gambaran untuk mewakili sesuatu yang sangat cepat.

Nah, setidaknya dapatlah kita memahami bahwa Buraq menggambarkan betapa Rasulullah dibawa oleh kendaraan yang luar biasa cepat. Guna mempermudah pemahaman logika umat manusia, maka kilat atau cahaya adalah ungkapan yang cukup mewakili sesuatu yang sangat cepat.

Dan di masa sekarang, kecepatan tertinggi yang baru diketahui adalah kecepatan cahaya 300.000 km/detik. Temuan ini mempermudah kita memahami Isra Mikraj sebagai sesuatu yang masuk logika.




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur