Ilustrasi Madinah/Net
Ilustrasi Madinah/Net
KOMENTAR

PEZIARAH-peziarah Yatsrib (sebelum berganti nama Madinah) termasuk yang rajin berkunjung ke Ka’bah. Itu menunjukkan kesadaran spiritual mereka yang cukup tinggi, dan di tahun kesebelas kenabian itulah Rasulullah intens mendekati mereka.

Saat itu peziarah Yatsrib yang berasal dari suku Khazraj sedang berada di Mina. Keramahan Nabi Muhammad berhasil membuka hati mereka.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 1 (2012: 380) menceritakan:

Permulaan yang menguntungkan itu terjadi pada musim haji. Yaitu dengan kedatangan orang-orang dari suku Khazraj, di dekat Aqabah di kawasan Mina. Rasulullah berkata kepada mereka, “Siapakah kalian?”

Mereka menjawab, “Sekelompok kafilah dari Bani Khazraj.”

Beliau bersabda, “Apakah dari sekutu-sekutu Yahudi?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya lagi, “Maukah kalian duduk sebentar, karena aku akan berbicara kepada kalian?

Mereka menjawab, “Baiklah.”

Mereka pun duduk bersama-sama dengan Nabi Muhammad, lalu beliau mulai berdakwah mengajak mereka menuju jalan Allah, dan menawarkan Islam serta membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai kaum! Ketahuilah ia adalah seorang nabi yang telah dijanjikan kedatangannya oleh kaum Yahudi. Maka janganlah kalian didahului oleh mereka (Yahudi).”

Mereka menjawab seruan yang diserukan kepada mereka yaitu Islam. 

Uniknya, keberadaan seorang nabi akhir zaman sudah diketahui terlebih dulu oleh orang-orang Yatsrib justru dari kabar pihak kaum Yahudi. Sehingga, itu menjadi di antara alasan yang membuat mereka lekas mengakui kenabian beliau dan juga memeluk agama Islam.

Sebenarnya, penghuni asli kota Yatsrib adalah suku Aus dan Khazraj, kemudian datanglah suku-suku Yahudi yang ikut bermukim di sana. Sebagai pendatang kaum Yahudi bukan sekadar mendirikan pemukiman, tetapi juga membangun benteng-benteng.

Dengan licinnya kaum Yahudi membuat suku Aus dan Khazraj terus berperang, dengan liciknya kaum Yahudi mengipasi bara dendam pada keduanya. Peperangan yang tidak pernah usai itu hanya menguntungkan pihak Yahudi, sebab kaum inilah yang memproduksi persenjataan.

Kadangkala suku Aus maupun Khazraj juga berkonflik dengan pihak Yahudi. Namun, tidak kalah cerdik kaum Yahudi balik mengancam akan lahir nabi akhir zaman, yang akan diajak memerangi suku Aus dan Khazraj. Kedua suku itu jadi gentar mendengar ancaman itu, sebab nabi akhir masa tentunya dilindungi Tuhan.

Kaum Yahudi telah melakukan manipulasi, dengan mengatakan nabi tersebut berasal dari kalangan mereka. Namun, ancaman itu terus menghantui penduduk asli Yatsrib, hingga mereka tidak berani macam-macam dengan pihak Yahudi dan terus terbakar permusuhan dalam perang saudara.

Akhirnya, penduduk asli Yatsrib itu berjumpa dengan Rasulullah, dan menemukan tanda-tanda kenabian itu pada diri beliau. Mereka terperanjat ternyata nabi yang dijanjikan itu bukan berasal dari kaum Yahudi. Oleh sebab itulah mereka segera mendahului pihak Yahudi dengan lekas mengimani Allah dan Rasul-Nya.

Ath-Thabari dalam bukunya Muhammad di Makkah dan Madinah (2019: 261-262) menjelaskan:

Maka, mereka pun duduk bersama Rasulullah. Lalu beliau mengajak mereka untuk beriman kepada Allah, menerangkan tentang Islam kepada mereka, dan membacakan Al-Qur’an di hadapan mereka.

Maka, kaum Khazraj pun menerima ajakan Rasulullah, mempercayai kebenaran risalah yang dibawa beliau, dan menerima Islam yang telah diterangkan oleh beliau kepada mereka.

Dengan mengatakan, “Kami telah meninggalkan kaum kami di belakang kami. Tidak ada kaum yang dipecah-belah oleh permusuhan dan kebencian seburuk seperti kaum kami. Mungkin saja Tuhan akan menyatukan mereka kembali melaluimu.”

“Kami akan pergi kepada mereka, mengajak mereka mengimani ajaranmu, dan menerangkan kepada mereka agama ini yang telah kami terima darimu. Jika Tuhan memersatukan mereka kembali dalam Islam, tak akan ada manusia yang lebih berkuasa darimu.”

Tercerminlah harapan besar dari mereka, bahwa keislaman itu bukan demi keselamatan pribadi melainkan kemaslahatan bersama. Mereka memahami sejatinya ajaran Islam sebagai agama damai.




Perang Badar Kedua

Sebelumnya

Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah