Demo di Turki (22/1/2023) mengecam aksi pembakaran Qur'an oleh Rasmus Paludan/ EPA
Demo di Turki (22/1/2023) mengecam aksi pembakaran Qur'an oleh Rasmus Paludan/ EPA
KOMENTAR

PEMBAKARAN mushaf Al-Qur'an yang dilakukan pemimpin Partai Stram Kurs (Garis Keras) Swedia-Denmark pada Sabtu (21/1/2023) mendapat reaksi keras dari sejumlah negara di dunia.

Rasmus Paludan adalah ekstremis sayap kanan yang dikenal sebagai antiIslam. Pada April 2022 lalu, ia bahkan mengumumkan roadshow untuk aksi pembakaran Al-Qur'an di berbagai kota di Swedia. Hal itu dilakukannya selama bulan suci Ramadan.

Mirisnya, pemerintah Swedia mengakui bahwa mereka memberikan izin untuk aksi tersebut  dengan alasan menghormati kebebasan berpendapat.

Namun Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson juga mengecam tindakan pembakaran tersebut, yang menurutnya "sesuai hukum tapi tidak patut dilakukan".

Demikian pula Menlu Swedia Tobias Billstrom yang menyebut tindakan tersebut sebagai Islamofobia yang menakutkan. Ia pun menyatakan bahwa pemerintah Swedia maupun ia pribadi tidak mendukung pendapat yang diungkapkan dalam aksi tersebut.

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sudah memberikan tanggapan terkait aksi penistaan agama tersebut.

Dan tak hanya Indonesia, sejumlah pemimpin negara di dunia juga telah memberikan pernyataan resmi mengutuk aksi pembakaran Qur'an di Stockholm, Swedia tersebut.

PM Malaysia Anwar Ibrahim dalam pernyataan pers (22/1/2023) mendesak pemerintah Swedia untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap pelaku guna mencegah eskalasi Islamofobia di negara tersebut.

Menurut Anwar, menodai kitab suci umat Islam secara terang-terangan dan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah, itu sama saja dengan mengobarkan Islamofobia.

Malaysia menyerukan masyarakat dunia untuk menolak penyerangan SARA dalam bentuk apa pun di bawah dalih kebebasan berpendapat. Warga dunia harus bersatu untuk bisa melawan berbagai ujaran kebencian yang semakin deras terjadi di dunia nyata maupun dunia maya.

Sementara itu, kecaman keras juga datang dari Kuwait.

Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Salem Abdullah Al-Jaber Al-Sabah, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari kantor berita KUNA, menegaskan bahwa komunitas internasional harus bertanggung jawab untuk menghentikan tindakan yang tidak bisa diterima dan segera menghentikan segala bentuk kebencian dan ekstremisme, juga mengadili pelaku aksi pembakaran Al-Qur'an.

"Peristiwa itu menyakiti perasaan umat Islam di seluruh dunia dan provokasi serius," kata Menlu Kuwait.

Sementara itu Juru Bicara kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani mengecam negara-negara di Eropa yang membiarkan Islamofobia yang bertopeng kebebasan berekspresi.

Pemerintah negara-negara tersebut, menurut Kanaani, telah mendukung radikalisme dan membiarkan kebencian terhadap nilai-nilai Islam menyebar luas.

Kecaman juga datang dari pemerintah Arab Saudi, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Jordania, Maroko, Oman, Pakistan, Bangladesh, The Organization of Islamic Cooperation (OIC) dan komunitas Muslim internasional lainnya, hingga Taliban di Afghanistan.




IDAI Keluarkan 8 Rekomendasi Stop Kekerasan Seksual pada Anak

Sebelumnya

Bukan 150 Ribu, Kemenkes Siapkan Harga Vaksin di Bawah 100 Ribu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News