Tiko (dua dari kiri) bersama keluarga Ashanti/Net
Tiko (dua dari kiri) bersama keluarga Ashanti/Net
KOMENTAR

ACARA selamatan rumah sekaligus pengajian di rumah Tiko dibanjiri doa dari warganet Tanah Air. Pengajian itu menandakan awal baru kehidupan Tiko dan sang ibu.

Tiko mendapat tawaran pekerjaan dari seorang pengusaha asal tanah Sumatera. Setelah puluhan purnama, Tiko kini bisa mengaktualisasikan dirinya. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan diri agar mandiri secara ekonomi dan bisa berkontribusi bagi lingkungan. 

Saat ini juga, langkah baru bagi sang bunda yang mendapatkan perawatan layak untuk mengatasi masalah kejiwaan yang diderita bertahun-tahun.

Kasus Tiko menarik perhatian publik sedemikian hebat. Maklumlah, masyarakat +62 memang sigap menanggapi berita terkait kasus kemanusiaan. Bukan hanya simpati, tapi juga empati. Bukan cuma komentar atau doa, tapi juga tindakan nyata untuk membantu Tiko keluar dari kehidupan 'gelap'nya selama ini.

Media sosial sekali lagi menjadi alat yang mampu membangkitkan kepedulian orang banyak. Membuktikan bahwa sejatinya masih banyak orang yang bernurani bersih, beradab, dan memang tulus membantu sesama.

Anggota masyarakat yang bersama-sama membersihkan rumah Tiko menjadi bukti konkret bahwa gotong-rotong masih menjadi roh kehidupan bangsa ini. Soal mengapa baru sekarang dilakukan, itu adalah pertanyaan yang jawabannya akan panjang.

Begitu juga dengan perkara figur publik yang mencari sensasi, kita hargai saja. Toh, masih ada bantuan yang memang benar diberikan untuk Tiko, terlepas dari kedatangan mereka membawa kamera adalah demi konten berbuah banyak viewers.

Mungkin masih banyak Tiko-Tiko lain di sekitar kita. Mereka yang bergumul dengan kesulitan hidup dan perpecahan keluarga hingga menarik diri dari hubungan sosial.

Namun kita pun seharusnya bisa meluaskan empati melihat kisah Tiko dan ibunya. Sang ibu berusaha keras untuk membesarkan putranya seorang diri di tengah kesulitan hidup.

Dari Tiko, kita belajar bahwa semangat untuk menata diri dan bangkit dari kesulitan hidup tak boleh padam. Optimismelah yang akan menjaga kewarasan berpikir kita.

Sekalipun dunia terasa sedemikian gelap gulita, tawakkal kepada Sang Pencipta adalah cara untuk meyakinkan diri bahwa pasti ada secercah cahaya di ujung jalan yang sanggup mengubah hari-hari buruk kita menjadi keberkahan luar biasa.




Baru Memulai Bisnis UMKM, Ini Manajemen Keuangan yang Bisa Kamu Lakukan

Sebelumnya

Bikin Suasana Tidak Nyaman, Ini 3 Ciri ‘Agak Laen’ Orang yang Overconfident

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Family