Vaksin Jynneos untuk smallpox & monkeypox disetujui penggunaannya di AS/ Dept. Health & Human Services
Vaksin Jynneos untuk smallpox & monkeypox disetujui penggunaannya di AS/ Dept. Health & Human Services
KOMENTAR

CENTERS for Disease Control and Prevention (CDC) menerbitkan panduan untuk sekolah dan tempat penitipan anak (daycare) untuk membantu menghindari penularan cacar monyet.

Di antara rekomendasi CDC adalah sebagai berikut:

  1. Mencuci tangan secara teratur.
  2. Mendisinfeksi permukaan dan benda-benda bersama.
  3. Meminta anak-anak dan staf untuk tetap tinggal di rumah saat sakit.
  4. Staf sekolah/ tempat penitipan anak/ asrama harus sigap memantau anak yang demam atau mengalami ruam dengan memeriksakannya ke dokter untuk mencegah penularan penyakit.
  5. Anak yang pernah mengalami cacar monyet tidak boleh dikeluarkan dari sekolah/ tempat penitipan anak.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat tersebut, risiko anak-anak dan remaja terkena cacar monyet terbilang rendah.

Pada 24 Agustus, lebih dari 16.000 infeksi cacar monyet telah dilaporkan ke CDC. Namun hanya sebagian kecil kasus terjadi pada anak usia sekolah.

Dean Blumberg, profesor di divisi penyakit menular pediatrik di UC Davis Health di Sacramento, California, mengatakan bahwa monkeypox tidak mudah menular dan ada tanda-tandanya pada orang menular, seperti mengalami ruam.

Ruam adalah salah satu gejala cacar monyet yang paling umum. Ada pula yang mengalami demam, kedinginan, nyeri otot, atau sakit kepala.

Anak-anak memiliki gejala yang sama seperti orang dewasa, Namun harus diperhatikan, ruam pada anak bisa juga karena terkena cacar air, campak, dan reaksi alergi.

"Jika anak Anda mengalami ruam, jangan lekas panik. Itu bisa jadi sesuatu yang lain," kata Dr. Amanda D. Castel, profesor epidemiologi di George Washington University.

Sekolah jadi tempat minim kontak kulit ke kulit

Sebagian besar kasus cacar monyet pada anak-anak dan remaja membaik dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Namun beberapa anak berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah, termasuk anak-anak di bawah usia 8 tahun, dengan kondisi penurunan kekebalan, atau dengan kondisi kulit tertentu seperti eksim, jerawat parah, atau luka bakar.

Data CDC menunjukkan bahwa sebagian besar kasus cacar monyet telah dikaitkan dengan kontak seksual atau kontak intim dekat.

Namun, virus cacar monyet dapat menginfeksi siapa saja—termasuk anak-anak—yang memiliki kontak dekat, pribadi, biasanya dari kulit ke kulit dengan seseorang yang menderita cacar monyet.

Kontak semacam itu (skin to skin) bisa dikatakan tidak mungkin terjadi di sekolah. Namun ada beberapa pengecualian, misalnya saat olahraga gulat atau olahraga lain yang serupa.

Cacar monyet bukan kutukan

CDC menegaskan bahwa anak-anak, staf, dan para sukarelawan tidak perlu dikeluarkan dari sekolah, tempat penitipan anak, atau tempat lain jika mereka telah terkena cacar monyet dan tidak memiliki gejala.

"Jangan sampai ada stigma tentang cacar monyet," kata Dr. Amanda, seperti dilansir Healthline.

Dr. Amanda menilai panduan CDC cukup komprehensif, namun ia mengusulkan adanya informasi yang lebih spesifik per kelompok usia. Cara pencegahan dan penanganan terhadap balita dan siswa SMA tentu akan sangat berbeda.




IISD Desak Presiden Jokowi Sahkan RPP Kesehatan: Optimalisasi Kesehatan Anak Menuju Visi Indonesia Emas 2045

Sebelumnya

Israel Akan Datang ke Qatar untuk Melanjutkan Perundingan Gencatan Senjata dan Pertukaran Sandera

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News