Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KEGALAUAN kembali melanda jiwa Rasulullah, bahkan beliau merasa terabaikan. Pasca menerima wahyu suci pertama kalinya, sesudah resmi dilantik sebagai nabi utusan Allah Swt., setelahnya tidak ada lagi turun kabar dari langit. Sampai-sampai beliau mengira Tuhan telah meninggalkannya. Masa-masa inilah yang disebut sebagai Fatratul Wahyi (stagnan atau kosongnya wahyu).

Resah dan gelisah ini wajar sebetulnya, mengingat Nabi Muhammad memang belum mengetahui dengan jelas misi langit yang diembannya. Maka kedatangan wahyu tentulah yang paling diharapkan untuk mempertegas langkah-langkah juang berikutnya.

Dan kembali Khadijah yang berperan menguatkan mental suaminya. Istri salehah itu meyakinkan pada suaminya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan nabi pilihan-Nya, melainkan inilah cara Ilahi dalam menentukan waktu yang tepat. Khadijah meneguhkan peran sebagai istri cemerlang, yang dengan gigih menguatkan keyakinan suaminya agar percaya dengan kebenaran yang akan segera datang lagi berupa wahyu.

Masa Fatratul Wahyi ini dipahami berbeda-beda, ada yang menyebutnya; masa kosongnya wahyu, stagnan wahyu, terhentinya wahyu atau tertundanya wahyu dan lainnya. Namun, yang jelas ada suatu rentang waktu di mana setelah turunnya wahyu pertama Rasulullah tidak lagi mendapatkan wahyu, yang membuat beliau teramat gundah mengemban misi besar tanda datangnya petunjuk.

Demikianlah ujian itu melanda Nabi Muhammad, yang membuatnya bingung, risau, sedih dan berbagai perasaan yang mengacaukan suasana hati. Dan yang dapat beliau lakukan hanyalah berdoa semoga petunjuk Ilahi itu datang menjawab segala kegamangan.

Ternyata penantian berbingkai kesabaran itu pun berujung teramat manis. Suatu ketika Nabi Muhammad terperanjat mendengar seruan dari langit, dan yang terlihat adalah malaikat Jibril dalam rupanya yang asli, yang teramat indah menakjubkan. Itulah malaikat yang dahulu menemuinya di Gua Hira menyampaikan wahyu pertama.

Terkejut dengan pemandangan yang spektakuler itu, maka Rasulullah pun gemetar lalu memutuskan cepat pulang ke rumah, lagi-lagi berseru, “Selimutilah aku!”

Siapa lagi yang dengan cekatan menyelimutinya kalau bukan istri terkasih, Khadijah. Ketenangan yang diperoleh beliau dalam selimut cinta malah terusik, sebab seruan malaikat Jibril kembali menyapa, dan menyeru agar beliau bangkit segera memulai misi dakwah Islam.

Dan apa yang lama dinanti akhirnya tiba!

Sebagaimana yang tercantum dalam hadis, ada hubungan tentang masa terhentinya wahyu (fatrah) dengan surat Al-Muddatsir ayat 1-5. Sebagaimana Imam As-Suyuthi dalam buku Ketelitian Dalam Ilmu

Al-Quran (2021: 172) mengungkapkan:

Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam As-Sahihain yang juga dari Abu Salamah dari Jabir ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. berbicara tentang Fatrah Al-Wahyi (saat-saat terlambatnya turun wahyu kepada beliau).

Beliau bersabda, “Ketika saya sedang berjalan, tiba-tiba saya mendengar sebuah suara dari langit. Saya pun mendongakkan kepala, rupanya di langit itu ada seorang malaikat yang dulu telah mendatangiku di Gua Hira’. Saat itu ia duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Setelah itu saya langsung pulang dan berkata, ‘Selimuti aku! Selimuti aku!’ Mereka pun menyelimuti tubuhku. Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini, yaa ayyuhal muddatsir.”

Dalam hadisnya yang suci inilah Nabi Muhammad langsung mengungkapkan berakhirnya masa Fatratul Wahyi beriringan dengan turunnya wahyu lagi. Dengan demikian keyakinan di hati beliau makin teguh, mengingat Tuhan tidaklah pernah mengabaikannya, karena Allah Swt. akan terus menurunkan petunjuk kebenaran itu.

Surat Al-Muddatsir ayat 1-5, yang artinya, “Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!”

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi atau yang lebih dikenal dengan Imam Jalalain  menerangkan pada Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, artinya, “Wahai orang yang berkemul (berselimut),” yakni Nabi Muhammad Saw. Dan bentuk asalnya adalah al-mutadatsir, lalu huruf ta’ diidghamkan kepada huruf dal, sehingga jadilah al-muddatsir, artinya orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaiannya sewaktu turun wahyu kepadanya.

Betapa manisnya cara Allah Swt. menyeru nabi-Nya sebagai orang yang berselimut, tatkala Tuhan menginginkan beliau segera bangkit menjalankan suatu misi suci yang menerangi dunia. Rasulullah sudah mendapatkan kehangatan cinta diselimuti oleh istrinya, maka tibalah saatnya untuk bangkit dari pembaringan.

Dengan demikian, Nabi Muhammad tidak dibiarkan terlena dalam kenyamanan selimut cinta istrinya. Bahkan bersama Khadijah, Rasulullah perlu bangkit untuk menyongsong cinta yang lebih tinggi, yakni cinta Ilahi.     

Surat Al-Muddatsir ayat 1-5 ini bukan sekadar pertanda berakhirnya masa Fatratul Wahyi, namun merupakan momentum terpenting dalam menyemangati dakwah Rasulullah. Terlebih lagi sesudahnya Nabi Muhammad terus menerima wahyu secara terus-menerus dari Allah Swt.   

Khadijah pun naik level, perannya bukan lagi sekadar menyelimuti dengan selembar kain hangat, melainkan juga menjadi pendamping yang tangguh dalam perjuangan yang sebenar-benarnya

Maka Rasulullah pun berujar, “Khadijah! Jibril membawa perintah supaya memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, dan supaya mereka beribadah hanya kepada Allah. Tetapi siapa yang akan saya ajak? Dan siapa yang akan mendengar?”

Dan siapa lagi yang akan menyambut seruan keimanan itu pertama kalinya kalau bukan sang istri tercinta. Itu adalah keislaman yang berlandaskan makna cinta yang paling mulia. Iman yang demikian kokoh hingga membuat Khadijah rela berkorban segalanya.

Ahmad Khalil Jam’ah dalam buku Istri-Istri Para Nabi (2020: 317-318) mengungkapkan:
Abu al-Hasan bin Al-Atsir berkata, “Khadijah adalah manusia pertama yang masuk Islam menurut ijma’ kaum muslimin. Tidak ada seorang pun laki-laki atau wanita yang masuk Islam sebelum dia.”
Dengan masuk Islamnya Khadijah, Allah Ta'ala telah meringankan beban Rasulullah karena jika mendengar sesuatu yang tidak beliau sukai, beliau menemui Khadijah, kemudian Khadijah meneguhkannya dan mengondisikan beliau.

Jangankan manusia biasa, bahkan para malaikat pun mengagumi Khadijah dengan kelebihan yang dimilikinya. Sehingga malaikat Jibril pun pernah menitipkan salam untuknya, begitu pula bingkisan salam teristimewa dari Tuhannya.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah