post image
KOMENTAR

JAUH sebelum risalah Islam resmi diturunkan Ilahi kepada Nabi-Nya, Khadijah sudah all out mendukung langkah-langkah kebenaran suaminya. Ketika Rasulullah mulai rutin bertahannuts (menyepi) ke Gua Hira, maka istrinya yang menyiapkan perbekalan yang dibutuhkan. Khadijah yakin suaminya tengah menapaki jalan kebenaran, yang akan membuatnya menemukan cahaya petunjuk bagi kaumnya yang tengah diselimuti keburukan jahiliah.

Kemapanan finansial tidak membuatnya terkuras dalam urusan domestik, dan memberi kesempatan bagi Nabi Muhammad mencermati lebih luas fakta sosial yang berkembang. Khadijah juga membuka peluang selapang mungkin bagi suaminya untuk terjun langsung dalam dinamika masyarakat.

Terlebih lagi sejak kecil Rasulullah memang telah mendapat tempat istimewa di hati masyarakat Mekah, sebagai sosok yang tepercaya (Al-Amin). Sehingga beliau dengan mudah aktif dalam kehidupan sosial.

Dan Ka’bah menjadi perhatian utama Rasulullah, yang merupakan jantung kehidupan Mekah dan juga bagi masyarakat Arabia.

Begitu banyak berhala yang dipajang musyrikin di dalam atau luar Ka’bah yang mencemari kesucian rumah Tuhan itu. Tentunya Nabi Muhammad menyayangkan hal yang demikian, tetapi beliau belum dapat berbuat banyak disebabkan kuatnya cengkraman kekuasaan kaum Quraisy. Namun, dalam kesehariannya Rasulullah tetap memuliakan Ka’bah dan rutin menziarahinya.

Syahrizal Abbas dalam buku Mediasi Dalam Hukum Syariah, Hukum Adat, dan Hukum Nasional (2009: 167) mengungkapkan, menurut Al-Qur'an, Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai rumah Tuhan pertama dalam tradisi monoteisme. Di dalam Ka’bah ada sebuah batu hitam (Hajar Aswad) yang dinyatakan sebagai meteor.

Al-Ghazali menulis bahwa batu hitam itu adalah salah satu permata dari surga. Dalam tradisi Islam, batu ini berasal dari langit, yang melambangkan bahwa manusia harus hidup selaras kebenaran dan memelihara dunia.

Asal usul Hajar Aswad memang diperdebatkan dalam perbedaan pendapat, disebabkan batu yang disucikan itu sudah demikian tua usianya. Namun, Hajar Aswad telah melintasi perjalanan waktu yang panjang dalam tugas mulianya.  

Demikian tuanya Ka’bah yang telah disucikan sejak masa Nabi Ibrahim, yang posisinya tidak tergantikan sebagai rumah Tuhan yang dimuliakan, plus batu suci Hajar Aswad yang demikian melegenda, sehingga perhatian kepada Ka’bah menjadi paling menakjubkan.

Kendati Mekah dikepung padang pasir gersang, pada waktu-waktu tertentu hujan lebat pun turun, dan tidak jarang menimbulkan banjir, tak terkecuali melanda Ka’bah hingga menimbulkan kerusakan.

Zuhairi Misrawi dalam bukunya Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2009: 238) menerangkan, orang-orang Quraisy menguasai Ka’bah secara penuh. Sebab, Ka’bah bagi mereka bukan hanya simbol keyakinan paganismenya, tetapi juga sumber kehidupan yang paling menguntungkan.  

Sejak lama bangunan Ka’bah tidak beratap dan pintunya menempel dengan tanah. Kondisi bangunan yang seperti ini membuat banyak sekali para perampok yang mencoba mengambil barang-barang yang berada di dalam Ka’bah. Di samping kondisi pintu yang menempel dengan tanah kerap kali tidak bisa selamat dari banjir, yang kerapkali terjadi di Ka’bah, mengingat lokasi yang terletak di dataran rendah.

Sebab itu, muncul inisiatif untuk meninggikan bangunan. Menutupinya dengan atap, dan meninggikan pintu Ka’bah, sehingga bisa selamat dari banjir dan ancaman dari para pencuri.

Banyak alasan yang memuat Ka’bah perlu renovasi, dan banjir menjadi di antara sebab yang paling mendesak. Barangkali ada yang bingung kok gurun bisa dilanda banjir, tetapi begitulah kenyataannya, kenyataan minimnya tanaman membuat hujan lebat begitu mudah menimbulkan air bah.

Murad Wilfred Hoffman dalam buku Jalan Menuju Mekah (2000: 26) menguraikan, bangunan Ka’bah telah berkali-kali dilanda banjir. Orang yang pernah menyaksikan berubahnya lembah-lembah kering di Afrika Utara dan Timur Dekat menjadi sungai-sungai yang menabrak apa pun yang menghalangi jalannya, akan tidak merasa heran tentang hal itu.

Dalam kejadian-kejadian itu, Hajar Aswad yang tidak berdaya ini menjadi satu-satunya bagian bangunan Ka’bah pada masa pra-Islam yang masih tersisa. Atau dengan bahasa lain, ia merupakan bagian Ka’bah yang paling tua. Terlebih lagi karena Nabi Muhammad saw. sendiri yang meletakkan Hajar Aswad itu ke tempatnya, seperti sekarang.

Bagi kaum muslimin, Hajar Aswad mempunyai makna terdalam mengingat batu yang disucikan ini ternyata menyimpan sejarah epik Rasulullah. Orang-orang Arab jahiliah yang doyan bertengkar ini pernah bersengketa terkait Hajar Aswad, dan Nabi Muhammad yang dengan kecemerlangan pemikirannya mampu membereskan secara memuaskan.

Pada mulanya muncul kegentaran kaum Quraisy melakukan renovasi, mereka teringat kejadian Abrahah dari Yaman yang binasa gara-gara hendak merubuhkan Ka’bah. Berhubung yang mereka lakukan hanyalah perbaikan, maka Walid bin Mughirah yang berinisiatif mulai melakukan renovasi di sudut selatan Ka’bah yang disebut ruknul-yamanî.

Walid bin Mughirah yang tadinya berdebar-debar kemudian menjadi lega sebab tidak terjadi hal yang buruk pada dirinya, yang membuat orang-orang Quraisy jadi berani memperbaiki Ka’bah beramai-ramai.

Adapun perlengkapan yang dibutuhkan bagi renovasi Ka’bah diperoleh dari kapal yang kandas di perairan Jeddah. Para pemuka Quraisy membeli kayu-kayu berkualitas bagus dari kapal itu dan juga mendapatkan ahli pertukangan.

Moenawar Khalil dalam buku Kelengkapan Iarikh Nabi Muhammad Volume 1 (2001: 94-95) menerangkan, pada masa itu, di Jeddah, yang terletak di tepi Laut Merah, ada sebuah kapal dagang asing diserang oleh angin ribut sehingga kapal itu pecah. Kapal dagang dari Mesir milik seorang saudagar besar dari bangsa Romawi bernama Baqum.

Baqum adalah seorang yang mempunyai kepandaian tentang pertukangan dan mengerti pula tentang pembangunan gedung. Kapal yang terdampar tadi lalu dibeli oleh pembesar-pembesar Quraisy. Baqum, saudagar yang memiliki kapal, diminta untuk menolong dan mengatur perbaikan kerusakan Ka’bah di Mekah. Oleh Baqum, permintaan mereka itu diterima dan dia diajak ke Mekah.

Kebetulan pada waktu itu di Mekah ada seorang bangsa Qibthi (Mesir) yang mempunyai kepandaian juga tentang pertukangan kayu. Oleh sebab itu, segala pekerjaan yang bersangkut paut dengan pertukangan dalam perbaikan Ka’bah diserahkan kepada Baqum dan orang dari Qibthi. Adapun pembongkaran serta penembokannya dikerjakan oleh mereka (para pembesar Quraisy) sendiri.

Kelihatannya renovasi Ka’bah akan berlangsung lancar-lancar saja, bukankah perlengkapan sudah tersedia, tukang pun ada, dan orang-orang yang bekerja juga tidak mengalami kendala.




Mereka yang Menyongsong Cahaya

Sebelumnya

As-Sabiqun al-Awwalun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah