post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PERUBAHAN mood bisa dialami siapa pun. Namun jika perubahan mood tersebut berlangsung sangat cepat bahkan tiba-tiba, maka kondisi ekstrem tersebut bisa menjadi tanda gangguan bipolar (bipolar disorder).

Pengidap bipolar yang sebelumnya merasa sangat sedih dan putus asa, bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat bergembira dan antusias terhadap sesuatu.

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengidap gangguan bipolar yaitu stres berat, kejadian traumatis, kecanduan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang, dan memiliki riwayat keluarga dekat (orangtua atau saudara kandung) yang mengidap bipolar.

Dua Kutub, Dua Mood Berbeda

Dilansir WebMD, gangguan bipolar juga dikenal sebagai mania depresif (manic depression), yaitu gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, keaktifan, konsentrasi, penilaian, dan kemampuan untuk mengerjakan kegiatan sehari-hari. Perubahan mood yang ekstrem itu berpengaruh terhadap pemikiran, perilaku, aktivitas, dan kualitas istirahat seseorang.

Bipolar merupakan kondisi seumur hidup, yang berarti tidak benar-benar bisa disembuhkan. Meski demikian, gejalanya bisa dikelola dengan baik melalui terapi dan pengobatan rutin untuk meminimalkan gangguannya.

Orang dengan bipolar mengalami dua periode yang disebut dua "kutub" yaitu kutub tinggi saat dia merasa sangat bersemangat dan bahagia serta kutub rendah ketika dia merasa sangat sedih dan putus asa. Di antara dua periode itu, dia akan merasa normal. Saat itu bisa dikatakan mentalnya berada dalam kondisi stabil.

Membedah istilah "manic depression", kata "manic/ mania/ manik" menggambarkan momen pengidap bipolar berada pada kutub tertinggi. Momen itu membuatnya bisa mudah marah dan mengambil keputusan secara impulsif. Sebagian pengidap bipolar selama momen manic tersebut juga mengalami delusi atau halusinasi.

Perlu diketahui, ada pula istilah "hypomania" yang menggambarkan gejala mania yang lebih ringan. Delusi atau halusinasi bisa terjadi namun gejalanya ringan hingga tidak mengganggu kehidupan pengidap bipolar.

Selanjutnya ada kata "depresi" yang menggambarkan momen pengidap bipolar berada pada kutub terendah, saat sedih atau tertekan. Gejalanya sama dengan depresi mayor atau depresi klinis, di mana seseorang tidak pernah mengalami episode mania maupun hipomania.

Sekilas Bipolar II

Dari beberapa jenis bipolar, tipe bipolar II dianggap lebih umum terjadi pada perempuan.

Orang dengan jenis bipolar II mengalami satu episode depresi besar yang bisa berlangsung setidaknya selama dua minggu. Dia juga mengalami setidaknya satu episode hipomania yang berlangsung lebih kurang empat hari.

Pengidap gangguan bipolar II umumnya juga mempunyai gangguan mental lain seperti kecemasan (anxiety) atau gangguan penggunaan zat adiktif yang mampu memperburuk gejala depresi maupun hipomania yang ada padanya.

Meskipun bipolar tergolong gangguan mental kronis yang membuat pengidapnya berjuang selama hidupnya, bukan berarti orang dengan bipolar tidak bisa menjalani hidup yang sehat dan bahagia.

Perawatan oleh psikiater secara rutin dan berkelanjutan bisa membantu pasien bipolar lebih mudah mengelola perubahan suasana hatinya dan mengatasi gejalanya.

Perilaku Pengidap Bipolar

Bicara tentang bipolar, salah satu figur publik yang diketahui sejak lama mengidapnya adalah Marshanda. Terjun ke dunia hiburan sejak kecil ditambah kehilangan sosok ayah, Marshanda mengaku sempat menolak kenyataan sebelum akhirnya menerima bahwa ia mengidap gangguan mental tersebut.

Menjalani perawatan hingga ke negeri Paman Sam, Marshanda memilih berjuang untuk menenangkan diri, bersyukur atas karunia yang diberikan Allah, dan memaksimalkan potensi dirinya dalam hal positif.

Ia banyak membagikan kisah inspiratif dan kalimat motivasi yang mengunggah banyak orang untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Banyak orang yang kagum dengan aktualisasi diri yang dilakoni Marshanda saat ini.

Lain Marshanda, lain Medina Zein. Nama kedua ini awalnya dikenal sebagai sosok pengusaha muda yang sukses lewat bisnis klinik kecantikan, fesyen, hingga tour & travel.

Namun kisah suksesnya kemudian tergerus oleh kasus demi kasus yang melibatkan sejumlah selebritas. Mulai dari utang yang tak kunjung dibayar hingga penipuan. Di penghujung tahun 2019, Medina bahkan ditangkap polisi karena terbukti mengonsumsi narkotika—amfetamin, yang menurut ibu dua anak itu merupakan bagian dari pengobatan bipolar yang diresepkan dokter.

Belum lagi dia juga mengalami keretakan rumah tangga dan sedang dalam proses perceraian.Tekanan demi tekanan tersebut mau tidak mau mempengaruhi kondisi mentalnya.

Menurut Medina, ia rutin mengonsumsi obat-obatan sebagai mood stabilizer. Pada awal Mei 2022, Medina dikabarkan pengacaranya menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit di Bandung akibat bipolar. Medina mengaku mengidap bipolar sejak tahun 2016.




Jangan Lagi Nyalakan TV Saat Tidur, Tiga Bahaya Kesehatan Ini Akan Mengintai

Sebelumnya

Ketika 'Pesan Positif' Justru Melemahkan, Begini Cara Membangkitkannya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health