Takwa akan membuat kita tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah/ Net
Takwa akan membuat kita tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah/ Net
KOMENTAR

MANUSIA bisa merasakan berbagai macam suasana hati. Ada sedih, ada bahagia. Selalu berganti, menyesuaikan dengan episode kehidupan yang kita jalani.

Karena suasana hati dapat berubah-ubah, manusia jauh dari sifat sempurna. Manusia kerap khilaf, lupa, dan berbuat salah. Namun banyak di antara kita yang merasa selalu benar dan paling benar, seolah makhluk sempurna yang tak pernah berbuat salah.

Manusia memang bukan makhluk sempurna. Gelombang pasang surut perasaan kita sejatinya adalah ujian dalam memerangi hawa nafsu. Dan kita tahu, berperang melawan diri sendiri jauh lebih berat daripada mengangkat senjata melawan musuh.

Ditambah lagi karakter diri yang keras kepala dan enggan menerima masukan orang lain. Padahal jika mau jujur, tidak jarang masukan-masukan tersebut membawa perubahan baik bagi kita.

Pentingnya Menggerus Ego dan Menghadirkan Ikhlas

Bagaimana cara mengendalikan keangkuhan kita agar mau rendah hati menerima masukan dari orang lain?

Marilah kita merenung sejenak. Manusia mungkin bukan makhluk sempurna, tapi bukan berarti tidak bisa menggunakan akal dan hati untuk menyadari bahwa kehidupan terus berjalan.

Ketika kita sedih, apakah kesedihan kita menjadi kehancuran alam semesta? Tidak, kan. Itu artinya, ketika kita masih diberikan kesehatan, bisa bernapas dengan teratur tanpa bantuan alat medis penunjang pernapasan, itu artinya kita masih diminta untuk maju dan diberi kesempatan untuk menggapai apa yang kita inginkan di hari berikutnya.

Bila terlintas rasa gengsi untuk menerima masukan orang, gunakan logika kita. Dengan gengsi, kita dapat apa? Adakah manfaatnya untuk diri kita? Bukankah gengsi justru membuat kita semakin terpojok dengan situasi yang tidak nyaman berujung pada kesedihan? Rugilah
kita, karena gengsi tak dapat menyelesaikan masalah.

Lalu kita harus bagaimana?

Mulailah dengan ikhlas dalam situasi apa pun. Setiap masalah yang kita hadapi, selama kita masih diberi kenikmatan berkedip mata, insya Allah kita bisa menyelesaikannya dengan baik.

Jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah untuk kemudahan menuntaskan segala masalah. Karena semakin sayang Allah Swt. kepada hamba-Nya, akan semakin diujilah kita.

Setelah ikhlas, kita hendaknya selalu berhusnudzan kepada Allah. Berbaik sangka kepada-Nya dan berhenti mengeluh.

Ingat bahwa Allah memberi kita oksigen gratis berarti kita akan diberi ujian hidup untuk menguji diri kita ini yang senantiasa menjadi tempat salah. Allah menghadirkan cobaan kepada kita sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Mintalah ketenangan hati agar kita mudah menyelesaikan masalah yang ada.

Jangan pernah berburuk sangka kepada sesama. Terlepas dari itu hanya Allah lah hakim yang seadil-adilnya. Kita akan menjadi orang yang merugi jika menilai orang dari penampilan luar saja. Kita tidak pernah tahu isi hati dan pikiran orang lain.

Apa pun yang orang lakukan sekalipun itu tidak baik di mata kita, lebih baik kita meminta perlindungan Allah. Tak perlulah kita memelihara suudzan. Ingat sekali lagi, kita tidak ada kepentingan dan tidak punya hak menilai orang lain dari ‘kulit’nya. Dengan kita berbaik sangka kepada sesama akan kita dapati hati tenang dan ikhlas.

Pakaian Takwa Sebagai Pelindung Diri

Dalam kehidupan ini, cobaan yang diberikan Allah tidak melulu berbentuk kesulitan. Banyak kenikmatan, yang jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, menjadi bagian dari cobaan. Untuk itulah amat penting bagi kita mempertahankan ‘pakaian takwa’ untuk melindung diri dari setiap hasutan setan yang menyesatkan. Sekaligus menyingkirkan berbagai penyakit hati.

Dengan begitu kita akan lebih mudah menerima keadaan apa pun dalam hidup kita, insya Allah.

Takwa akan membuat kita tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah. Ketika kita berbuat salah atau lalai, Allah tidak serta merta mencabut rahmat-Nya dari kita.

Ambillah contoh, kita masih diberikan Allah kemampuan menghirup oksigen gratis. Sementara kita lihat masa pandemi ini, banyak orang mesti mengeluarkan banyak uang untuk bisa menghirup oksigen dari tabung gas. Bukankah itu seharusnya membuat kita tak pelit mengucap alhamdulillah?

Ya, bersyukur tidak akan pernah merugikan kita. Bersyukur justru membuat kita lapang dada dan tenang. Tak perlulah kita iri melihat keadaan orang lain. Setiap orang punya kadar rezeki dan cobaan yang berbeda. Allah memberikannya sesuai kemampuan orang tersebut untuk menghadapinya. Fokus saja untuk menjadi hamba yang bertakawa, yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Mari kita menjadi manusia yang memanusiakan sesama. Jika ada orang yang perlu bantuan dan kita bisa bantu, jangan sia-siakan, jangan sungkan ulurkan tangan. Apabila kita bisa bermanfaat untuk orang lain tanpa merepotkan kewajiban kita bantulah, kita tidak pernah tahu doa baik apa yang dipanjatkan oleh orang yang kita bantu tersebut.

Jangan rusak pahala kita dengan suudzan kepada orang lain. Bisa jadi ketika kita tidur, doa-doa baik itu naik ke langit dan menghadirkan kebaikan kita. Maka dari itu jangan pernah menutup diri untuk setiap masukan untuk kita.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur