post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

GANGGUAN tidur menjadi masalah banyak orang di dunia. Dengan kesibukan yang menyita waktu, terutama bagi para pekerja profesional di kota-kota besar, banyak orang melakukan berbagai cara agar bisa memiliki waktu istirahat yang cukup dan berkualitas di malam hari.

Pandemi COVID-19 membuat gangguan tidur itu kian parah, bahkan semakin banyak orang di dunia ini yang memiliki masalah untuk bisa tidur nyenyak di malam hari.

Ketakutan yang menjadi-jadi terhadap pandemi menjadi salah satu faktor mengapa seseorang sulit memejamkan mata.

Pandemi dan Kecemasan

Dengan stres yang meningkat akibat dampak pandemi yang menghantam semua sektor kehidupan, membludaknya informasi tentang pandemi yang sebagian adalah hoaks, dan hilangnya rutinitas yang selama ini kita jalankan tanpa disadari telah menyulitkan kita tidur di malam hari.

Ayah berhenti bekerja di kantor lalu bekerja di rumah. Anak tak bisa bertemu teman-temannya dan harus belajar 'sendirian' di depan laptop di rumah. Lalu ibu yang tak hanya harus mengerjakan urusan rumah tangga tapi juga menjadi pengajar mata pelajaran bagi anak-anaknya. Berbagai perubahan ini membutuhkan adaptasi yang tidak mulus secara personal.

Belum lagi bagi mereka yang kehilangan orang yang dicintai akibat COVID-19 dan mereka yang kehilangan pekerjaan. Beban hidup yang bertambah berat ditambah kondisi yang tidak menentu menimbulkan kecemasan yang terus bertambah.

Gangguan Tidur Penyintas COVID-19

Demikian pula mereka yang terdiagnosis positif COVID-19. Tidak hanya banyak yang mengalami sulit tidur saat dirawat di rumah sakit atau saat menjalani isolasi mandiri di rumah, gangguan tidur itu tetap berlanjut hingga mereka dinyatakan sembuh.

Dengan adanya gelombang kedua Delta dan kini gelombang varian Omicron yang penyebarannya dinilai sangat cepat, post-covid syndrome yang muncul tak hanya secara fisik, tapi juga mental.

Pada April 2021, jurnal The Lancet Psychiatry merilis hasil pengamatan terhadap 230.000 pasien bahwa satu dari tiga penyintas COVID-19 dapat mengalami gangguan saraf atau gangguan psikiatri selama enam bulan setelah terinfeksi virus COVID-19.

Gangguan psikiatri paling umum adalah insomnia dan gangguan kecemasan yang dialami 13% dari total pasien COVID-19 yang diobservasi. Dan dua diagnosis itu menjadi yang pertama kali bagi mereka. Artinya, mereka tidak mempunyai riwayat gangguan psikiatri tersebut sebelumnya.

Coronasomnia yang Mendunia

Istilah "COVID-somnia" atau "coronasomnia" mulai mencuat pada pertengahan tahun 2020. Istilah tersebut mengacu pada dampak pendemi global terhadap pola tidur seseorang. Sejumlah besar masyarakat dari berbagai penjuru dunia mengalami kesulitan tidur, seperti dilansir BBC.

Di Amerika Serikat misalnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat kasus insomnia meningkat 40% sejak terjadi pandemi. Masalah kurang tidur ini bahkan dianggap sebagai sebuah epidemi.

Sementara di Inggris, British Sleep Society pada tahun 2020 merilis data bahwa jumlah orang yang bisa merasakan tidur nyenyak dan menyegarkan hanya kurang dari separuh penduduk negara tersebut.

Studi University of Southampton Inggris pada Agustus 2020 juga menyebutkan jumlah orang yang mengalami insomnia meningkat, dari satu dari enam menjadi satu dari empat orang. Insomnia menimpa lebih banyak kelompok ibu, pekerja sektor esensial, dan komunitas BAME (Black, Asian, and Minority Ethnic)

Direktur Medis The Indiana Sleep Center menyebut gangguan tidur yang dialami banyak orang selama pandemi sebagai "tandemic", yaitu epidemi yang disebabkan oleh pandemi, yang berjalan beriringan bersama pandemi, dan diperburuk oleh pandemi.

Di China, angka insomnia naik dari 14,6% menjadi 20% selama lockdown total. Sementara di Italia dan Yunani, hampir 40% terbukti mengalami insomnia berdasarkan penelitian pada Mei 2020.

Melawan COVID-somnia

Beberapa masalah tidur akan menjadi kronis dan bertahan lama karena pandemi juga membuat orang menunda untuk mendapat perawatan. Mereka lebih memilih berobat ke dokter untuk kondisi yang dianggap darurat. Dan selama beberapa waktu lalu, kita melihat para tenaga kesehatan sempat kewalahan untuk menangani lonjakan pasien COVID-19.

Ketika banyak orang dituntut untuk bisa hidup berdampingan dengan COVID-19, secara otomatis mereka juga dituntut untuk bisa hidup dengan gangguan tidur. Padahal, gangguan tidur sangat mempengaruhi kejernihan berpikir, kebugaran tubuh, mood, juga produktivitas.

Melewati dua tahun pandemi, ketidakpastian masih saja menggelayuti hidup kita. Namun optimisme harus tetap terpelihara. Dengan berbagai konsekuensi normal baru yang kita hadapi, kita harus mampu menangani gangguan tidur.

Di Amerika misalnya, pengobatan dilakukan melalui telemedicine. Dengan memanfaatkan terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) yang meningkatkan 'tidur bersih', yaitu tidak merokok, tidak minum alkohol atau kafein sebelum tidur, dan mengasosiaskan tempat tidur HANYA untuk tidur. Artinya, tempat tidur bukan tempat bekerja, singkirkan laptop dan ponsel dari tempat tidur. Menurut studi University of Michigan, metode CBT-I melalui telemedicine ini sama efektifnya dengan pengobatan secara langsung.

Close X

Kenali Henti Jantung, Penyebab Kematian Putri Nurul Arifin

Sebelumnya

Terinfeksi Omicron? dr Tirta: Jangan Panik, Cukup Istirahat 5 Hari

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health