post image
Menyeruput kopi bertransformasi dari sekedar kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup bagi banyak orang di dunia/Net
KOMENTAR

SIAPA yang biasa memulai hari atau mengisi hari dengan menyeruput kopi? Beberapa tahun terakhir, menyeruput kopi bertransformasi dari sekedar kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup bagi banyak orang di dunia. 

Bukan tanpa alasan, selain karena varian serta rasa kopi yang bisa dikreasikan beragam dan menarik, kandungan inti yang ada pada kopi itu sendiri memiliki manfaat bagi tubuh. 

“Secara tradisional, kopi dipandang sebagai hal yang buruk,” kata kepala bagian nutrisi dan metabolisme di International Agency for Research on Cancer (IARC) Marc Gunter, dalam artikel yng dipublikasikan BBC baru-baru ini. 

“Penelitian dari tahun 1980an dan 90an menyimpulkan bahwa orang yang minum kopi memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi, namun penelitian berkembang sejak saat itu," jelasnya. 

Dengan lebih banyak studi populasi skala besar yang muncul selama dekade terakhir, kata Gunter, para ilmuwan sekarang memiliki data dari ratusan ribu peminum kopi untuk mengubah cara pandang kita terhadap kopi.

Biji kopi itu sendiri memiliki kandungan polifenol, sejenis antioksidan. Zat ini dapat membantu membersihkan tubuh dari radikal bebas, atau sejenis produk limbah yang diproduksi tubuh secara alami sebagai hasil dari proses tertentu.

Radikal bebas bersifat racun dan dapat menyebabkan peradangan. Para ilmuwan telah menemukan hubungan antara peradangan dan berbagai aspek sindrom metabolik, termasuk diabetes tipe 2 dan obesitas.

Selain itu, apa saja manfaat kopi? Berikut lima manfaat kopi merujuk pada rangkuman sejumlah penelitian yang dimuat di Medical News Today

1. Kopi dan Diabetes

Pada tahun 2014, para peneliti yang mengumpulkan data pada lebih dari 48 ribu orang menemukan bahwa mereka yang meningkatkan konsumsi kopi setidaknya satu cangkir per hari selama 4 tahun memiliki risiko 11 persen lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang tidak meningkatkan asupan kopi.

Sementara itu, sebuah meta-analisis dari 2017 menyimpulkan bahwa orang yang minum empat hingga enam cangkir kopi berkafein atau tanpa kafein setiap hari tampaknya memiliki risiko sindrom metabolik yang lebih rendah, termasuk diabetes tipe 2.

2. Kopi dan Penyakit Parkinson

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kafein, yang ada dalam kopi dan banyak minuman lainnya, dapat membantu melindungi terhadap penyakit Parkinson.

Satu tim penelitian lain juga menyimpulkan bahwa pria yang minum lebih dari empat cangkir kopi per hari mungkin memiliki risiko Parkinson lima kali lebih rendah daripada mereka yang tidak.

Selain itu, kafein dalam kopi dapat membantu mengontrol gerakan pada orang dengan Parkinson, merujuk pada sebuah studi yang dilkukan tahun 2012.

Lalu, temuan meta-analisis tahun 2017 menunjukkan hubungan antara konsumsi kopi dan risiko penyakit Parkinson yang lebih rendah, bahkan di antara orang yang merokok. Tim ini juga menemukan bahwa orang yang minum kopi kemungkinan kecil mengalami depresi dan kondisi kognitif seperti Alzheimer.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak ada cukup bukti untuk membuktikan bahwa minum kopi tanpa kafein akan membantu mencegah penyakit Parkinson.

3. Kopi dan Kanker Hati

Peneliti Italia menemukan bahwa konsumsi kopi menurunkan risiko kanker hati sekitar 40 persen. Beberapa hasil penelitian lain jug menunjukkan bahwa orang yang minum tiga cangkir per hari mungkin memiliki risiko 50 persen lebih rendah.

Selain itu juga tinjauan literatur yang dilakukan tahun 2019 menyimpulkan bahwa asupan kopi mungkin mengurangi risiko kanker hati.

4. Kopi dan Penyakit Liver Lainnya

Sebuah meta-analisis dari 2017 menyimpulkan bahwa mengonsumsi semua jenis kopi tampaknya mengurangi risiko kanker hati, penyakit hati berlemak nonalkohol, dan sirosis.

Dengan demikian, orang yang mengonsumsi kopi mungkin juga memiliki risiko penyakit batu empedu yang lebih rendah.

Lalu pada tahun 2014, para peneliti mengamati konsumsi kopi di antara orang-orang dengan primary sclerosing cholangitis (PSC) dan primary biliary cirrhosis (PBC). Ini adalah kondisi autoimun yang mempengaruhi saluran empedu di hati.

Kiat Bertahan 14 Tahun ala Srie Firman: Temukanlah Sahabat untuk Berbagi Rasa dan Membantumu Berdiri Tegak

Sebelumnya

Tekankan SADARI dan SADANIS, Dr. dr. Diani Kartini, Sp.B(K)Onk: Jangan Takut, Kanker Payudara Bisa Sembuh!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health