post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

BERBAGAI media memberitakan, virus Corona varian Delta menjadi penyebab tingginya kasus terkonfirmasi positif di Indonesia belakangan ini. Bahkan para ahli juga mengatakan, varian Delta memiliki risiko penularan yang tinggi dan lebih ganas.

Lalu, benarkah demikian? Berikut sejumlah faktanya!

1. Virus itu telah bermutasi dengan partikel lebih ringan. Dulu, untuk menghadapi virus cukup pakai masker, jaga jarak sekitar 1 - 2 meter, dan sering cuci tangan. Sekarang, dokter sudah menganjurkan pakai masker dobel. Jaga jarak lebih dari satu -dua meter.

Dulu, patokan lebih satu dua meter dibuat karena perkiraan partikel virus lewat droplets jangkauannya paling jauh satu dua meter. Tapi sekarang, karena bermutasi, dia pun menjadi sangat ringan. Untuk mendapatkan inang demi kelanjutan hidupnya virus ini bisa menjangkau 6 meter, partikelnya terbang dengan daya tahan 16 jam di udara (aerosol).

Ukuran virus itu sangat kecil, sepermiliar meter. Karena ringan maka kecepatan penularan menurut hasil penelitian di Sydney, Australia, hanya butuh waktu 5-10 detik. Dulu memerlukan waktu sekitar 15 menit dari kontak orang dalam ruangan tertutup.

2. Kita sudah menyaksikan akibatnya di Tanah Air. Dua minggu terakhir. Jumlah warga yang terpapar meningkat empat kali lipat. Pulau Jawa menderita paling parah, jumlahnya hampir delapan puluh persen angka nasional. 

Testing dan tracing kita semakin tertinggal jauh. Data Sabtu (26/6) menunjukkan angka yang mencengangkan. Secara Nasional testing hanya mencapai 50 % mencakup 33 provinsi. Padahal penduduk lebih 200 juta.

Separuh angka testing Nasional dicapai oleh Provinsi DKI yang berpenduduk hanya 12 juta. Maka jelas, record 21 ribu lebih pasien terpapar di Indonesia Sabtu (26/6) sangat rendah dibandingkan fakta sebenarnya.

3. Infrastruktur kesehatan kita remuk. Semua RS sudah overload. Sudah ditambah tenda-tenda pun di halamannya masih belum cukup untuk menampung pasien yang terus berdatangan.

Sekarang RS bikin aturan baru. Tidak menerima pasien OTG. Pasien positif bergejala pun kalau CT nya bagus, diminta diisolasi di rumah. Jumlah itu banyak sekali, berpuluh kali lipat dibandingkan pasien yang bisa di dirawat di RS.

4. Bayangkan betapa luas penyebarannya kalau pasien OTG itu berkeliaran di mana- mana.

5. Empat alasan di atas lebih dari cukup untuk kita mematuhi imbauan sementara waktu sebaiknya di rumah saja. Jangan kemana mana. Kunci rapat-rapat rumah Anda dari tamu. Siapapun dia. Kecuali mendesak betul, tidak bisa dielakkan. Jangan lagi mau buka masker untuk kebutuhan foto bersama walau cuma sebentar. Walau dia teman dekat. Jangan lagi karena merasa keluarga, bebas ngobrol sambil makan bersama di meja makan.

Ingat terus ini : kecepatan virus cuma butuh 5 s/d 10 detik untuk mencapai inangnya di tubuh Anda. Banyak berdoa. Teruslah berolahraga, mengkonsumsi vitamin, tidur yang cukup dan segera vaksinasi. Itu sebaik-baik langkah yang bisa kita lakukan sekarang, meski belum menjamin sepenuhnya kita bisa terhindar dari varian baru Covid-19 itu.

Cegah Klaster Sekolah, Kenali Gejala Covid-19 yang Umum Pada Anak

Sebelumnya

Vaksin Covid-19 Mengganggu Siklus Menstruasi dan Kesuburan, Benarkah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health