post image
Penelitian Terbaru Ungkap, Wanita Dengan Sindrom Polikistik Ovarium Lebih Berisiko Tertular Covid-19/Net
KOMENTAR

PENELITIAN soal virus corona baru masih terus dilakukan oleh banyak ilmuwan di seluruh dunia. Baru-baru ini, ada penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di Inggris yang menemukan bahwa beberapa wanita berisiko lebih tinggi untuk tertular Covid-19, dibandingkan dengan wanita lain dalam kelompok usia dan jenis kelamin yang sama.

Mereka adalan wanita yang memiliki sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS). Sayangnya, PCOS ini sejauh ini belum disebutkan dalam daftar komorbiditas Covid-19. 

Sebenarnya, apa itu PCOS? Mengutip Alodokter, PCOS adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. Penderita PCOS mengalami gangguan menstruasi dan memiliki kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan.

Hormon androgen yang berlebih pada penderita PCOS dapat mengakibatkan ovarium atau indung telur memproduksi banyak kantong-kantong berisi cairan. Akibatnya, sel telur tidak berkembang sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur. 

Sementara itu, mengutip CNN, PCOS menyerang sekitar 1 dari 10 wanita "usia subur".

"PCOS benar-benar diremehkan dalam dampaknya. Ini terlihat sebagai masalah reproduksi yang tidak relevan secara klinis. Tapi ini sepenuhnya salah. Pasien perlu dilihat sebagai populasi berisiko tinggi," kata direktur Institut Metabolisme dan Penelitian Sistem di Universitas Birmingham di Inggris Dr. Wiebke Arlt. Dia merupakan salah satu penulis dalam penelitian besar yang diterbitkan pada bulan Februari di European Journal of Endocrinology.

Penelitian itu menjelaskan bahwa lebih dari separuh penderita PCOS mengembangkan diabetes sebelum usia 40 tahun. Selain itu, sekitar 80 persen di antaranya juga mengalami kelebihan berat badan. 

Para peneliti menjelaskan bahwa wanita dengan kondisi tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap resistensi insulin, penyakit jantung, dan kanker endometrium, kanker yang dimulai di rahim. 

Banyak juga di antara mereka yang memiliki tekanan darah tinggi dan tingkat vitamin D yang rendah. 

Komplikasi PCOS ini juga dikaitkan dengan potensi risiko lebih tinggi untuk Covid-19 yang parah.

Terlepas dari seberapa umum PCOS, serta komplikasi serius yang dapat ditimbulkannya, para ahli kesehatan mengatakan kondisi tersebut telah lama diabaikan, disalahpahami dan kurang diteliti.  

"Saran saya adalah memasukkan wanita dengan PCOS sebagai berpotensi menjadi kelompok berisiko tinggi," kata Kepala Kesehatan Wanita di Departemen Kedokteran Universitas Jefferson dan pakar PCOS terkemuka, Dr. Katherine Sherif. 

Menurut Arlt dan Sherif, sebagian alasan mengapa PCOS tidak terdeteksi secara umum dan berkaitan dengan Covid-19 adalah karena PCOS sering dianggap sebagai masalah kesehatan wanita, atau hambatan ovarium. 

Padahal, Arlt menilai bahwa PCOS bukan gangguan ovarium, tetapi penyakit metabolik seumur hidup dan harus diperlakukan seperti itu saat menilai kerentanan Covid-19.

"Semakin tinggi risiko metaboliknya, semakin tinggi risikonya untuk tertular Covid-19," kata Arlt.

"Orang-orang melihat obesitas dan diabetes tipe 2 dan hipertensi dan penyakit jantung, tetapi mereka belum melihat PCOS secara sistematis sebelum kami melakukannya. Karena mereka tidak menganggap ini sebagai faktor risiko metabolik. Itu adalah sesuatu yang ingin kami ubah," tandasnya.

Close X

Apakah Vaksin Covid-19 di Indonesia Dapat Melindungi Orang Dengan Komorbid?

Sebelumnya

Kemenkes Ungkap Kecenderungan Varian Delta Banyak Ditularkan Pada Anak

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Health